Cincin yang Membawa Pesan Irma

admin.aiotrade 26 Okt 2025 6 menit 14x dilihat
Cincin yang Membawa Pesan Irma
Cincin yang Membawa Pesan Irma

Cerita Pendek: Hermawan Aksan

Lahir di Brebes. Menulis sejumlah cerpen, esai, dan novel. Tinggal di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah.

Minggu

Pagi. Aku baru dua kali berlari kecil mengelilingi taman kota, berhenti di dekat sebuah kursi beton, berjongkok membenahi tali sepatu yang lepas dari ikatannya, dan mataku sekilas melihat pantulan cahaya kekuningan matahari pagi dari sebuah benda di rerumputan. Aku mengerjap beberapa kali tapi cahaya itu seakan-akan sengaja menggodaku.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Tanganku terjulur menyentuh benda itu. Dingin, agak basah terkena embun. Ketika kuraih dan kuletakkan di telapak tangan, aku terkejut. Cincin dari logam kekuningan, dengan sebutir kecil permata putih. Apakah itu cincin emas dengan permata berlian? Jika benar, cincin itu tentu barang yang mahal.

Saat kubolak-balik, permukaan dalam cincin itu memperlihatkan ukiran sebuah nama. Singkat saja: Irma. Siapa dia? Bagaimana bisa cincin itu terjatuh di taman? Saat kucoba di jariku, cincin itu terlalu kecil, bahkan di jari kelingking. Bisa dipastikan bahwa cincin itu milik perempuan dengan jemari yang kubayangkan kecil dan ramping. Biasanya, jemari mewakili tubuh secara keseluruhan. Jika jemarinya ramping, tubuh si pemiliknya juga ramping. Kubayangkan si pemilik cincin memiliki tubuh yang ramping dan wajah yang rupawan. Serta-merta saja dadaku berdebar membayangkan siapa tahu kami bisa berkenalan dan mana tahu pula dia bisa menjadi calon istriku. Kadang imajinasi memelesat melebihi kecepatan cahaya, bukan?

Eh, tapi bagaimana kalau cincin itu adalah cincin pernikahan? Hatiku langsung mencelus. Perempuan itu sudah menjadi milik lelaki lain. Mungkin perempuan itu tidak sengaja mengibas-ngibaskan jemarinya saat melakukan peregangan sebelum jalan atau lari dan cincin itu terjatuh dan ia baru sadar setelah mulai berlari bahwa cincinnya hilang dan mungkin ia sudah mencoba mencari-carinya tapi cincin itu tidak ditemukan.

Namun, bagaimana kalau cincin itu sengaja dibuang? Maksudku, Irma, si perempuan itu, bertengkar dengan suaminya dan pertengkaran itu memuncak ketika si lelaki menampar wajah si perempuan, lalu si perempuan menangis, menarik cincin di jemarinya, dan melemparkannya begitu saja, sebagai ungkapan bahwa pernikahan mereka sedang menghadapi masalah yang terlampau besar untuk terus dipertahankan, dan si lelaki pergi begitu saja meninggalkan si perempuan.

Kisah macam itu mungkin tergolong lebay, tapi siapa tahu? Acapkali terjadi kisah nyata lebih absurd daripada kisah fiksi.

Pencarian dan Harapan

Aku bangkit berdiri, celingukan mencari-cari siapa tahu ada orang yang tampak memperlihatkan situasi sedang kehilangan benda berharga. Belasan orang tampak menikmati jalan pagi di taman itu, berolah raga seraya menghirup udara segar di antara pepohonan di tengah taman.

Ada dua kakek yang berjalan bersama-sama sambil tertawa-tawa sampai terbungkuk-bungkuk. Mungkin mereka sahabat sejak masa muda dan sedang kegelian mengenang peristiwa lucu di masa lalu.

Ada beberapa bocah perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahun yang berjalan kaki sambil ramai ber-celoteh seperti burung-burung yang baru mendapat makanan di cabang pepohonan. Aku yakin, bukan salah satu dari mereka yang kehilangan cincin.

Beberapa di antara orang-orang di taman adalah pasangan muda yang kelihatannya sedang hangat-hangatnya menghirup kebahagiaan, bercanda sambil tertawa-tawa dan salah satunya sambil bergandengan tangan. Satu di antara perempuan itu mirip dengan temanku, entah siapa. Mungkin mereka masih pengantin baru—atau sedang menjelang pernikahan. Mereka seakan-akan sedang memandang dunia yang indah penuh warna. Aku ragu, apakah salah satu dari mereka bernama Irma dan kehilangan cincinnya.

Aku mulai berjalan agak cepat dan berlari kecil lagi, mencoba kembali menghangatkan tubuhku yang sempat dingin karena terlalu lama berhenti. Sambil berlari itu kepalaku mereka-reka lagi kemungkinan yang terjadi dengan cincin itu. Mungkin juga itu bukan cincin pernikahan, melainkan cincin pertunangan. Jika benar demikian, berarti perempuan itu belum menikah. Ia masih lajang dan mungkin masih muda. Atau mungkin… janda muda.

Kehadiran Perempuan

Seperti dalam kasus sebelumnya, bisa saja si perempuan bertengkar hebat dengan tunangannya sampai-sampai ia melemparkan cincinnya, sebagai ungkapan bahwa ia ingin mengakhiri pertunangan itu. Jika itu yang terjadi, peluangku untuk menjadikan perempuan itu sebagai calon istriku tentu lebih besar.

Pertanyaan berikutnya: bagaimana aku bisa menemukan perempuan itu? Mungkin aku harus menanyai setiap orang yang ada di taman yang memiliki kemungkinan besar kehilangan cincin dan bernama Irma.

Tiap kembali ke lokasi penemuan cincin itu, aku berharap, ada orang yang mencari-carinya di sana dan kuharap perempuan itu, yang namanya terukir di cincin, adalah perempuan yang cantik atau setidaknya masuk kategori “mau”—istilah mudah seorang teman untuk menyebut apakah seorang perempuan tergolong cantik atau tidak sehingga kita “mau” atau “tidak mau” seandainya ia dijadikan pacar.

Namun, tiga atau empat kali sampai di lokasi itu, tak kulihat ada orang yang berdiri atau jongkok atau cingukan mencari-cari sesuatu. Orang-orang tetap berolah raga dengan urusan di kepala mereka masing-masing.

Saat matahari mulai terasa memanggang sebagai tanda hari cukup siang, aku bersiap-siap pulang. Tak ada pos keamanan di taman sehingga aku tidak bisa melaporkan penemuan itu kepada siapa pun. Mungkin besok atau lusa atau di hari-hari mendatang, aku akan membawa lagi cincin itu meski dengan harapan kecil akan menemukan perempuan bernama Irma yang kehilangan. Jika tidak, aku akan menelusurinya melalui toko emas di kota ini, siapa tahu ada catatan yang menyebutkan nama pembelinya. Eh, tapi ada berapa toko emas di kota ini?

Penemuan yang Mengubah Segalanya

Ketika hendak pulang itulah mataku menangkap seorang perempuan sedang jongkok dan mengais-ngais rumput di sekitar kursi beton tempat cincin itu kutemukan. Pelan-pelan aku mendekatinya. Namun, berbeda dengan yang kuharapkan, perempuan itu memiliki rambut yang separuh memutih dan perawakannya, tak selangsing yang kubayangkan, pun menunjukkan bahwa dia perempuan separuh baya—mungkin menjelang 50 tahun.

Aku berdiri di sebelah perempuan itu. Dia menoleh dan mendongak memandangku. Sebenarnyalah, perempuan itu tergolong cantik—atau dulunya cantik. Andai ia berusia 20-an tahun lebih muda, aku mungkin akan jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Ibu Irma?”
Perempuan itu menyipitkan mata dan memandangku dengan kening berkerut.
“Ibu Irma sedang mencari sesuatu yang berharga tampaknya?”
Perempuan itu masih memandangku. “Ya, saya sedang mencari cincin yang hilang.”
Perempuan itu menyebutkan gambaran tentang cincin itu, yang ternyata persis sama dengan cincin yang kutemukan.
“Itu cincin milik Bu Irma?”
“Bukan. Maksud saya, nama saya bukan Irma.”
Aku tersenyum memandang perempuan itu dan harapanku timbul lagi. Mungkin Irma nama anak sulungnya atau adik bungsunya. Kalau perempuan itu tergolong cantik, tentu anaknya atau adiknya memiliki peluang besar untuk sama cantiknya—atau lebih cantik karena lebih muda.
Kurogoh saku celana trainingku dan kuperlihatkan cincin yang kutemukan.
Mata perempuan itu membesar dan wajahnya kelihatan bersinar.
“Oh, syukurlah…. Saya tak bisa kehilangan cincin ini….”
Aku turut tersenyum dengan dada yang lega. Mungkin jalan makin terbuka untuk bisa mengenal pemilik cincin itu—perempuan yang tentu muda dan cantik bernama Irma.
“Ini cincin warisan keluarga,” kata perempuan itu lagi. “Irma itu nenek saya…”

Topik Terkait:
Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan