
Ancaman Bencana di Balikpapan Saat Musim Hujan
Kejadian longsor yang menewaskan seorang ibu dan anak di Jalan Batu Butok, Kelurahan Muara Rapak, Kota Balikpapan pada Minggu (19/10/2025) kembali mengingatkan warga akan potensi bencana yang bisa terjadi selama musim hujan. Kejadian ini menjadi peringatan bagi masyarakat Balikpapan, kota terbesar kedua di Provinsi Kalimantan Timur, untuk lebih waspada terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan, selama periode 2024-2025 sudah terjadi puluhan kejadian mulai dari pergerakan tanah hingga longsor. Kondisi topografi Balikpapan yang berada di daerah perbukitan membuat wilayah ini rentan terhadap risiko bencana. Bahkan, 80 persen wilayah Balikpapan merupakan kawasan perbukitan, sementara hanya 20 persen yang termasuk dataran rendah dan pesisir.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Balikpapan, Bambang Subagyo, menjelaskan bahwa potensi genangan dan banjir di daerah datar tidak bisa dihindari. Misalnya, di kawasan MT Haryono dan Balikpapan Baru, air sering tergenang saat hujan deras karena daerah tersebut dekat dengan hilir. Jika bersamaan dengan pasang air laut, genangan pasti terjadi.
Sementara itu, wilayah perbukitan justru menghadirkan risiko lain, seperti longsor dan pergerakan tanah. Setiap kali hujan deras, hampir selalu ada satu atau dua laporan pergerakan tanah, terutama di kawasan Perapatan dan Pelandasan Hilir. Bedanya, longsor di Balikpapan tidak seperti di Pulau Jawa yang bisa melanda satu RT. Biasanya hanya 1–2 rumah yang terkena dampak.
BPBD Balikpapan telah memasang berbagai rambu rawan banjir dan longsor serta melakukan sosialisasi rutin melalui kelurahan dan relawan tangguh bencana. Namun, Bambang mengakui jumlah titik rawan yang banyak membuat upaya mitigasi belum menjangkau seluruh wilayah.
Konstruksi Rumah yang Tidak Layak Menjadi Penyebab Utama
Terkait tragedi longsor di Batu Butok yang menewaskan dua orang, Bambang menegaskan bahwa penyebab utama bukanlah pergerakan tanah, melainkan konstruksi rumah yang tidak layak. Setelah diperiksa menggunakan drone, ditemukan bahwa fondasi rumah dari kayu yang menopang bangunan beton menjadi penyebab utamanya. Hal ini sudah diingatkan sebelumnya karena berbahaya, tetapi pemilik rumah tidak punya pilihan lain.
Kondisi diperparah oleh drainase yang buruk dan hujan deras saat kejadian. “Jadi bukan tanahnya yang bergerak, tapi fondasi yang amblas karena tidak kuat menahan beban bangunan dan air hujan,” tambahnya.
BPBD terus mengimbau agar warga yang tinggal di perbukitan memperhatikan aspek keselamatan konstruksi rumah. “Kalau memang harus tinggal di perbukitan, pastikan bangunan aman terhadap pergerakan tanah. Jangan memaksakan diri membangun rumah beton di atas tanah yang labil. Itu bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga tetangga di sekitar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat segera melapor jika menemukan tanda-tanda retakan tanah atau pergerakan lereng. “Masyarakat bisa menghubungi call center 112. Kami siap melakukan evakuasi kalau ada potensi ancaman terhadap jiwa,” tegasnya.
Saat ini BPBD Balikpapan memiliki enam unit UPT (Unit Pelaksana Teknis) yang tersebar di seluruh kecamatan untuk mempercepat respons jika terjadi bencana. “Harapan kami, masyarakat tidak ragu melapor. Lebih baik siaga lebih awal daripada menyesal belakangan,” kata Bambang.
Potensi Longsor Saat Hujan Deras
Data terbaru BPBD Balikpapan yang diperbarui pada 23 Oktober 2025 pukul 12.00 Wita mencatat total 56 kejadian, terdiri atas 6 longsor dan 50 pergerakan tanah. Meski jumlahnya menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 93 kejadian (18 longsor dan 75 pergerakan tanah), ancaman bencana masih tinggi, terutama di wilayah padat penduduk dengan kontur berbukit.
“Ada penurunan kejadian tahun ini, tapi kewaspadaan tidak boleh turun. Potensi longsor masih ada, terutama saat intensitas hujan meningkat,” ujarnya.
Bambang menyebut Balikpapan Tengah menjadi kawasan paling rawan karena padat bangunan di lereng dan banyak titik dengan drainase buruk. “Tanah di sana mudah jenuh air, sehingga rawan bergerak ketika hujan deras,” jelasnya.
Sementara di wilayah Balikpapan Kota juga tergolong padat dan banyak berdiri bangunan tua. “Khusus Telaga Sari dan Prapatan, kondisi tanah campuran pasir dan batu membuatnya rawan bergeser,” tambahnya.
Adapun wilayah Balikpapan Utara mengalami perkembangan permukiman pesat dengan banyak lahan hasil urukan. BPBD menilai hal tersebut turut berkontribusi terhadap instabilitas tanah.
Sebaran Kejadian Longsor di Balikpapan Selama 2024-2025
- Kecamatan Balikpapan Tengah – 20 kejadian (2 longsor, 18 pergerakan tanah)
- Gunung Sari Ilir: 1 longsor, 1 pergerakan tanah
- Gunung Sari Ulu: 2 longsor, 8 pergerakan tanah
- Karang Jati: 3 pergerakan tanah
- Karang Rejo: 2 pergerakan tanah
- Mekar Sari: 1 longsor, 5 pergerakan tanah
-
Sumber Rejo: 1 longsor, 4 pergerakan tanah
-
Kecamatan Balikpapan Kota – 22 kejadian (3 longsor, 19 pergerakan tanah)
- Damai: 1 longsor, 4 pergerakan tanah
- Klandasan Ilir: 2 longsor, 3 pergerakan tanah
- Klandasan Ulu: 1 pergerakan tanah
- Prapatan: 1 longsor, 5 pergerakan tanah
-
Telaga Sari: 7 pergerakan tanah
-
Kecamatan Balikpapan Utara – 9 kejadian (1 longsor, 8 pergerakan tanah)
- Batu Ampar: 1 pergerakan tanah
- Graha Indah: 1 longsor, 2 pergerakan tanah
- Gunung Samarinda: 2 pergerakan tanah
-
Muara Rapak: 1 longsor, 2 pergerakan tanah
-
Kecamatan Balikpapan Selatan – 2 pergerakan tanah
- Damai Baru: 1 pergerakan tanah
-
Sepinggan Baru: 1 pergerakan tanah
-
Kecamatan Balikpapan Barat – 2 pergerakan tanah
- Baru Ilir: 1 pergerakan tanah
-
Baru Tengah: 1 pergerakan tanah
-
Kecamatan Balikpapan Timur – 1 pergerakan tanah
- Manggar: 1 pergerakan tanah