Komitmen Pemerintahan Prabowo Subianto dalam Pembangunan Infrastruktur Strategis
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmennya yang kuat untuk segera mewujudkan berbagai megaproyek infrastruktur strategis. Proyek-proyek ini tidak hanya bertujuan untuk memitigasi bencana, tetapi juga untuk menciptakan pemerataan ekonomi melalui pengembangan konektivitas. Salah satu proyek utama yang ditekankan adalah Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa, serta Jalan Tol terpanjang di Indonesia, Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci).
1. Giant Sea Wall: Melindungi Wilayah Pantai Utara Jawa
Giant Sea Wall diperkirakan akan memakan biaya hingga US$80 miliar atau sekitar Rp1.300 triliun. Proyek ini sangat penting untuk mengatasi penurunan muka tanah di sepanjang pesisir utara Jawa. Dalam pidatonya pada Sidang Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025), Presiden Prabowo menjelaskan bahwa proyek ini bertujuan untuk menyelamatkan 50 juta penduduk dari ancaman kenaikan air laut yang mencapai 5 cm per tahun.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain itu, sekitar 60% pusat industri di Pulau Jawa berada di sekitar pesisir Pantai Utara Jawa. Jika tidak diselamatkan, hal ini dikhawatirkan akan mengganggu performa ekonomi nasional. Selain itu, Pantura Jawa juga menjadi salah satu pusat lumbung pangan, khususnya komoditas padi. Pengembangan Giant Sea Wall diperlukan untuk memastikan sawah-sawah di sekitar Pantura tetap produktif.
Untuk mendukung proyek ini, Presiden Prabowo membentuk Badan Otorita Pelaksana Pembangunan Pantai Utara Jawa (BOPPUJ). Di mana, orang nomor satu di Indonesia itu menunjuk Didit Herdiawan Ashaf sebagai kepala badan. BOPPUJ akan menjadi eksekutor pengembangan Giant Sea Wall yang direncanakan membentang di sepanjang pesisir utara Jawa dari Banten hingga Gresik.

Dalam informasi terbarunya, proyek ini akan membentang hingga 535 kilometer (Km). Pada tahap awal, proyek ini akan difokuskan pada wilayah paling kritis terdampak banjir rob yakni di sekitar Teluk Jakarta dan pesisir Semarang hingga Demak. Tujuan utama proyek ini adalah melindungi puluhan juta penduduk, serta sekitar 60% industri dan puluhan ribu hektare sawah subur yang berada di wilayah Pantura Jawa dari banjir rob dan ancaman tenggelam.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengungkapkan sejumlah investor internasional tertarik masuk. Minat investasi itu berasal dari China, Belanda, hingga Jepang. Bahkan, kata Rosan, terdapat dua perusahaan China sudah mengungkapkan keinginan partisipasi. βMereka sudah sering membuat tanggul laut besar di China, kami diajak lihat tanggul laut di Jepang juga oleh perusahaan di sana,β jelasnya, Senin (8/9/2025).
2. Jalan Tol Getaci dan Gilimanuk-Mengwi
Pemerintahan Prabowo juga dipastikan melanjutkan dua proyek jalan tol yang digadang-gadang bakal menjadi yang terpanjang di Indonesia yakni Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci) dan Tol Gilimanuk-Mengwi. Kedua tol tersebut akan segera dimulai proses lelang pembangunannya oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PU, Rachman Arief Dienaputra dalam paparannya menyatakan penyiapan lelang 19 proyek jalan tol baru di Indonesia tersebut membutuhkan alokasi Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) senilai Rp23,33 miliar. βTahap penyiapan 19 proyek KPBU di alokasikan sebesar Rp23,33 miliar dan estimasi biaya investasi sebesar Rp408,68 triliun,β kata Rachman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI hari ini, Kamis (11/9/2025).
Dari 19 tol yang akan dilelang itu, beberapa di antaranya merupakan jalan tol yang semulanya dijadwalkan untuk dilelang pada tahun ini. Salah satunya yakni Jalan Tol Gilimanuk β Mengwi yang digadang-gadang bakal menjadi jalan tol terpanjang di Bali. Selain itu, terdapat juga Jalan Tol Gedebage β Tasikmalaya β Cilacap (Getaci). Namun, usai gagal dapat investor di beberapa kegiatan lelang sebelumnya tol ini dipangkas ruasnya menjadi Gedebage β Tasikmalaya.
Tol Getaci awalnya didesain bakal menghubungkan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, dengan perincian sepanjang 171,40 km berada di wilayah Jawa Barat dan sepanjang 35,25 km di Jawa Tengah. Pembangunan Tol Getaci semula ditargetkan terdiri atas 4 seksi yakni Seksi 1 Junction Gedebage β Garut Utara (45,20 km), seksi 2 Garut Utara - Tasikmalaya (50,32 km), seksi 3 Tasikmalaya β Patimuan (76,78 km), dan seksi 4 Patimuan β Cilacap (34,35 km). Dengan demikian, apabila konstruksi tahap pertama dipangkas hingga Tasikmalaya saja maka total panjangnya diperkirakan hanya ada di kisaran 50,32 kilometer.
Senada, Jalan Tol Gilimanuk β Mengwi juga digadang-gadang bakal menjadi jalan tol terpanjang di Bali. Di mana, proyek ini pertama kali dicanangkan pada era Jokowi. Akan tetapi hingga saat ini proyek ini terus jadi sorotan lantaran pembangunannya yang tak kunjung terealisasi. Terlebih, pemerintah juga masih belum berhasil menggaet investor yang berminat untuk menggarap proyek ini.
3. 48 PSN Bendungan
Pengembangan Infrastruktur sumber daya air juga menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto. Pasalnya, Infrastruktur ini merupakan kunci utama tercapainya target swasembada pangan yang dibidik pemerintah. Setidaknya, Prabowo menetapkan 48 bendungan dan 9 proyek jaringan irigasi masuk dalam daftar PSN.
Sementara saat ini, pemerintah tengah fokus melakukan penyelesaian pada 15 PSN bendungan yang tersebar di seluruh Indonesia dan dibidik rampung pada 2029 atau di akhir masa kepemimpinan Prabowo. Mengacu data Kementerian Pekerjaan Umum (PU), selesainya 15 bendungan tersebut berpotensi memberikan layanan irigasi seluas 184.515 hektare (ha), sehingga diharapkan luas tanam turut meningkat dari semula 277.775 ha menjadi 483.163 ha.
Nantinya, ketersediaan air irigasi dari 15 bendungan on going ini diharapkan juga meningkatkan produktivitas panen dari 1.403.300 ton/ha menjadi 2.343.289 ton/ha. Petani yang biasa mengandalkan suplai air dari tadah hujan dapat terpenuhi melalui air irigasi yang berkelanjutan, sehingga Indeks Pertanaman (IP) naik dari semula 150% menuju 262% dengan skala panen dari sekali setahun menjadi 2-3 kali dalam setahun.
Sejak tahun 1902 hingga 2014, pemerintah Indonesia telah membangun 187 bendungan, dan pada periode 2015β2024 telah selesai 53 bendungan dengan pemanfaatan layanan irigasi tersebar di 67 Daerah Irigasi (DI), terdiri dari 7 Daerah Irigasi melalui pembangunan saluran dari outlet bendungan ke sistem irigasinya seperti DI Baro Raya, DI Tugu Sistem, DI Tukul, DI Budong-Budong, DI Way Apu Sistem, DI Pidekso, dan DI Rababaka Kompleks (DI Tanju-DI Rababaka).
Adapun, beberapa contoh bendungan yang masih dalam tahap pembangunan hingga saat ini yakni Bendungan Keureuto (Aceh), Bendungan Rukoh (Aceh), Bendungan Ciawi, Bendungan Sukamahi, hingga Bendungan Tiga Dihaji.