Dampak Bencana Sumatera pada Ekonomi RI Menurut Bank Dunia

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 14x dilihat
Dampak Bencana Sumatera pada Ekonomi RI Menurut Bank Dunia

Dampak Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera terhadap Perekonomian Indonesia


Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menjadi perhatian khusus dari Bank Dunia. Menurut lembaga tersebut, bencana alam yang terjadi sejak akhir November 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berpotensi memberikan dampak negatif terhadap perekonomian nasional.

Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, menyatakan bahwa banjir merupakan salah satu faktor risiko penurunan (downside risk) bagi pertumbuhan ekonomi menjelang akhir 2025 ini. Ia mengungkapkan bahwa bencana alam seperti ini akan berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian di Indonesia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, David juga memperkirakan bahwa bencana tersebut dapat memberi tekanan terhadap penerimaan negara. Oleh karena itu, menurutnya, keseimbangan antara risiko penurunan dan peluang pertumbuhan sangat bergantung pada keberhasilan reformasi pemerintah yang telah dicanangkan. "Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan ke depan, terutama untuk mempersempit berbagai kesenjangan yang masih ada."

Potensi Risiko Peningkatan (Upside Risk)

Di sisi lain, Bank Dunia mencatat adanya potensi risiko peningkatan (upside risk). Salah satunya adalah membaiknya pertumbuhan mitra dagang utama seperti Tiongkok serta harga komoditas ekspor Indonesia yang relatif menguntungkan. Reformasi perdagangan dan investasi yang berhasil dinilai dapat memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, Bank Dunia tetap mengingatkan bahwa sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Salah satunya adalah tekanan terhadap konsumsi masyarakat akibat penurunan upah riil. Data yang dikumpulkan oleh lembaga tersebut menunjukkan bahwa sejak 2018, upah riil turun rata-rata 1,1 persen per tahun. Penurunan paling besar terjadi pada pekerja berketerampilan tinggi yang mencapai 2,3 persen, disusul pekerja berketerampilan menengah sebesar 1,1 persen.

Sementara itu, upah pekerja informal atau berketerampilan rendah hanya tumbuh 0,3 persen. "Bagi pekerja berketerampilan menengah, ini sangat berdampak dan berimbas pada kesejahteraan rumah tangga serta perekonomian secara keseluruhan," ujar David.

Kinerja Tenaga Kerja dan Perdagangan

Dari sisi ketenagakerjaan, Bank Dunia mencatat penyerapan tenaga kerja pada Agustus 2025 meningkat 1,3 persen dibandingkan Agustus 2024. Namun, pertumbuhan tersebut masih didominasi sektor informal dengan tingkat upah rendah. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan pasar tenaga kerja, meskipun stabilitas makroekonomi tetap terjaga.

Khusus untuk kinerja perdagangan Indonesia, Bank Dunia memperkirakan adanya tantangan ke depan di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global. Surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$ 2,39 miliar pada Oktober 2025, dengan surplus kumulatif sebesar US$ 35,88 miliar sepanjang Januari-Oktober 2025. Lonjakan ekspor ini sebagian besar didorong oleh aktivitas frontloading, yang mana eksportir mempercepat pengiriman barang sebelum diberlakukannya tarif resiprokal AS.

Rekomendasi Kebijakan dari Bank Dunia

Bank Dunia kemudian merekomendasikan sejumlah prioritas kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan, antara lain penguatan fondasi digital, peningkatan kualitas lapangan kerja, serta reformasi kebijakan fiskal dan sektor keuangan. Di bidang fiskal, optimalisasi digitalisasi dan administrasi perpajakan dinilai bisa meningkatkan pendapatan negara tanpa perubahan kebijakan yang terlalu signifikan.

Sedangkan dari sektor keuangan, Bank Dunia menyarankan perluasan akses pembiayaan, termasuk melalui program penjaminan kredit dan dukungan bagi UMKM, dipandang penting untuk mendorong investasi swasta dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Terdampak

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi di wilayah terdampak banjir Sumatera akan melemah. “Pertumbuhan di daerah bencana dipastikan akan turun yaitu Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis, 4 Desember 2025.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga menanggapi proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar maksimal 5,6 persen pada kuartal keempat tahun ini. Dalam kesempatan yang sama, ia menyatakan pemerintah akan terus memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah lain sehingga bisa mencapai target.

Politikus Golkar itu memastikan pemerintah akan memberikan sejumlah relaksasi keuangan bagi masyarakat di wilayah terdampak banjir Sumatera. Salah satunya adalah restrukturisasi dan penghapusan kredit macet bagi pelaku UMKM. “Regulasinya sudah ada dan itu bisa berlaku otomatis,” ujar dia.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan