
Kinerja Ekonomi Indonesia pada Kuartal III 2025
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun 2025 mencapai 5,04% secara year on year (yoy). Angka ini dianggap sebagai capaian yang baik dan menunjukkan bahwa perekonomian masih mampu tumbuh meskipun menghadapi berbagai tantangan. Berbagai kalangan ekonom memberikan analisis terkait dampak kebijakan pemerintah, khususnya kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dampak Langsung dari Kebijakan Menteri Keuangan
Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyatakan bahwa efek dari kebijakan Menteri Keuangan sudah terasa dalam aktivitas ekonomi. Salah satu indikator utama adalah peningkatan likuiditas perbankan. Setelah dilantik, Purbaya menempatkan dana sebesar Rp200 triliun di sistem perbankan. Dana tersebut digunakan untuk memperkuat penyaluran kredit.
“Pertumbuhan kredit itu sebagian besar masih ditopang oleh debitur BUMN. Dari 1,69% naik menjadi 10,04%,” ujar Sunarsip dalam acara Katadata Policy Dialogue di Jakarta.
Kementerian Keuangan mencatat bahwa dana pemerintah senilai Rp200 triliun yang ditempatkan di bank-bank milik negara (Himbara) telah banyak terserap untuk pembiayaan kredit. Dana tersebut baru disalurkan pada 12 September 2025.
Sunarsip menilai bahwa tanpa tambahan kredit yang merupakan bagian dari "Purbaya Effect", pertumbuhan ekonomi kuartal III/2025 kemungkinan tak akan mencapai 5,04%. “Itu sebabnya saya bilang 'Purbaya Effect' sudah bekerja,” katanya.
Tantangan dalam Pertumbuhan Ekonomi
Meski pertumbuhan ekonomi saat ini cukup baik, Sunarsip menilai bahwa belum ada perbaikan signifikan dalam konsumsi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi saat ini banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh 5,49% pada kuartal III/2025.
Dia menyarankan agar pemerintah mengubah pendekatan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Jika sebelumnya fokus pada peningkatan permintaan, kini perlu diarahkan pada penguatan suplai sektoral.
“Kalau saya, lebih baik perbaiki sisi supply-nya, bukan demand,” ujarnya.
Sunarsip menilai bahwa konsumsi rumah tangga yang masih stagnan di bawah 5% disebabkan oleh belum pulihnya sejumlah sektor industri pascapandemi Covid-19.
Peran Konsumsi Rumah Tangga
Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Lutfi Ridho menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya terus berupaya memperkuat konsumsi rumah tangga. Namun, kunci utamanya adalah membangun kepercayaan publik terhadap prospek pendapatan mereka.
“Mereka harus yakin terutama keyakinan pendapatan di masa yang akan datang,” kata Lutfi.
Ia menambahkan bahwa DEN akan memfokuskan perhatian pada peningkatan optimisme dan stabilitas pendapatan masyarakat. Jika kepercayaan itu terbentuk, konsumsi rumah tangga bisa kembali jadi motor utama pertumbuhan ekonomi, meski investasi masih akan jadi pendorong utama tahun depan.
Luthfi Ridho mengatakan, tahun depan pemerintah berupaya untuk meningkatkan daya beli kelompok kelas menengah. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi saat ini masih bisa dimaksimalkan potensinya.
“Tren konsumsi rumah tangga turun, dan ini yang ingin kami balikkan. Kelas menengah harus percaya diri atas peluang pendapatan ke depan,” ucap Luthfi.
Kebijakan yang Akan Dilakukan Tahun Depan
Dia menekankan, ada dua kebijakan besar yang menjadi fokus tahun depan, yaitu formula UMP yang seimbang dan perbaikan aturan investasi termasuk terkait tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).
“Semoga keduanya bisa menjawab turunnya daya beli. Tapi output-nya tetap perlu kerja sama semua pihak agar Indonesia semakin kompetitif,” kata Luthfi.
Analisis dari Chief Economist Permata Bank
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 sebesar 5,04%. Angka tersebut dinilai sebagai capaian yang baik.
Menurut Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, capaian di kuartal III/2025 sudah sesuai ekspektasi. Hal itu sekaligus membuka ruang optimistis untuk tahun depan terutama jika konsumsi kelas menengah bisa dipulihkan.
“Pertumbuhan tahun depan berpeluang lebih baik dari tahun ini. Kuncinya ada pada sinergitas kebijakan internal, yakni fiskal, moneter, dan sektor riil, sembari memberi ‘vitamin C’, yaitu confidence. Demand dan suplai harus dijaga bersama,” ujar Josua.
Secara kuartalan, merujuk data BPS, pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan dibanding kuartal II yang mencapai 5,12%. Namun, dilihat secara tahunan, pencapaian kuartal III lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Kuartal III sesuai proyeksi kami, termasuk perlambatan konsumsi rumah tangga yang sifatnya musiman. Motor pertumbuhan tetap konsumsi, lalu investasi, dan net ekspor. Tapi memang data BPS menunjukkan daya beli kelas menengah turun,” tutur Josua.