
Rencana Pemangkasan BUMN: Dari 1.000 Lebih Menjadi 200
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah merancang strategi untuk mengurangi jumlah perusahaan yang termasuk dalam kategori Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rencana ini bertujuan untuk mengurangi jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 menjadi hanya sekitar 200. Managing Director Danantara Indonesia, Febriany Eddy, menjelaskan bahwa pengurangan ini dilakukan karena banyak BUMN yang mengalami kerugian.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Dari lebih dari 1.000 BUMN yang kita miliki, hampir setengahnya mengalami kerugian. Perusahaan-perusahaan tersebut dibentuk dengan konteks yang sangat berbeda dibandingkan situasi saat ini,” katanya saat ditemui di kantornya pada Jumat, 14 November 2025.
Rencana pemangkasan ini sebelumnya pernah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam dialog bersama Chairman Forbes Media, Steve Forbes, di forum Forbes Global CEO Conference 2025 di St. Regis, Rabu, 15 Oktober 2025. Dia memerintahkan agar Danantara mengurangi jumlah perusahaan BUMN menjadi hanya 200-240.
Febriany menjelaskan bahwa kerugian yang dialami oleh BUMN terdahulu disebabkan oleh adanya pihak yang merugikan dan keputusan bisnis yang salah. Di masa depan, masalah seperti ini akan diatasi agar BUMN dapat menjadi lebih efisien dan fokus, serta menguntungkan dalam setiap bidangnya. “Kita melakukan konsolidasi, menyeimbangkan, dan yang tidak bisa kita likuidasi,” ujarnya.
Menurut dia, operasional BUMN yang tidak selaras karena saling bersaing terjadi pada sektor maskapai penerbangan, seperti Garuda Indonesia dan Citilink. Meskipun merupakan satu keluarga, persaingan internal justru terjadi pada rute penerbangan tertentu. Persaingan ini juga terjadi antara grup Garuda dengan Pelita Air.
Danantara, kata Febriany, juga akan mempertimbangkan sektor-sektor usaha tertentu. Proses perampingan jumlah BUMN ini tidak hanya mempertimbangkan untung atau tidak. “Kalau menguntungkan tapi bukan sektor yang fokus utama, itu kan distraksi,” ucapnya.
Manajemen Danantara berharap pengurangan BUMN memberikan banyak manfaat dan nilai terhadap Indonesia. Untuk menyelesaikan pekerjaan rumah ini, Febriany menilai kemitraan dengan berbagai pihak sangat penting.
Strategi Perampingan BUMN
Berikut beberapa langkah yang akan diambil oleh Danantara dalam proses perampingan BUMN:
- Konsolidasi: Memadukan perusahaan-perusahaan yang memiliki fungsi serupa agar tidak terjadi duplikasi.
- Pemilahan sektor usaha: Memastikan bahwa setiap BUMN fokus pada sektor yang menjadi prioritas nasional.
- Penghapusan perusahaan yang tidak efisien: Melakukan likuidasi terhadap perusahaan yang terbukti tidak mampu memberikan kontribusi positif.
- Meningkatkan efisiensi operasional: Mengoptimalkan sumber daya dan pengelolaan agar BUMN dapat beroperasi lebih baik.
Tantangan dalam Proses Perampingan
Meski rencana ini dianggap penting, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah resistensi dari pihak-pihak yang terlibat dalam BUMN yang akan dipangkas. Selain itu, diperlukan koordinasi yang baik antara Danantara dengan pemerintah dan stakeholder lainnya.
Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang dampak sosial dari pengurangan jumlah BUMN. Misalnya, penurunan jumlah perusahaan dapat berdampak pada lapangan kerja dan stabilitas ekonomi regional.
Namun, Febriany yakin bahwa dengan pendekatan yang tepat dan komunikasi yang baik, proses ini dapat berjalan lancar. Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari rencana ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kinerja BUMN secara keseluruhan.
Kesimpulan
Proses perampingan BUMN yang direncanakan oleh Danantara merupakan langkah penting dalam upaya meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan negara. Dengan mengurangi jumlah BUMN dari 1.000 lebih menjadi 200, diharapkan dapat menciptakan lingkungan bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan. Namun, tantangan tetap ada, dan diperlukan kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak untuk mencapai tujuan tersebut.