
Jakarta – Isu mengenai merger antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan Grab kembali mencuri perhatian. Terbaru, muncul kabar bahwa GOTO dan Grab sedang berdiskusi untuk menawarkan golden share kepada BPI Danantara dalam rangka memperkuat kesepakatan penggabungan senilai US$ 29 miliar.
Menurut laporan Financial Times pada Kamis (13/11/2025), kedua perusahaan teknologi tersebut tengah melakukan negosiasi terkait pemberian golden shares atau saham emas kepada BPI Danantara. Dalam usulan ini, BPI Danantara akan diberikan porsi saham minoritas di entitas hasil penggabungan, lengkap dengan hak istimewa atas unit bisnis di Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Equity Research Analyst dari Bloomberg Intelligence, Nathan Naidu, menilai kemungkinan pemberian golden share ini menunjukkan bahwa kesepakatan merger semakin mendekati realisasi dan telah mendapat dukungan politik. Ia menyebutkan bahwa usulan ini bertujuan untuk memprioritaskan kepentingan mitra pengemudi, yang sebelumnya sempat mengeluh terkait upah dan asuransi.
Nathan juga menyoroti bahwa pengawasan pemerintah dapat membantu meredakan kekhawatiran antimonopoli dan tenaga kerja. Mengingat, GOTO dan Grab bersama-sama menguasai 80%–90% pangsa pasar layanan transportasi daring dan pesan-antar makanan di Indonesia.
Dari sisi analisis keuangan, Head of Research Macquarie Capital Indonesia, Ari Jahja, melihat bahwa kesepakatan merger ini logis. Menurutnya, kondisi keuangan GOTO yang membaik meningkatkan peluang terjadinya penggabungan. Kombinasi antara GOTO dan Grab dinilai akan memberi manfaat bagi pemegang saham utama seperti SoftBank Group, karena keuntungan dari Grab bisa mengimbangi kerugian di GOTO.
Pengamat Pasar Modal, Hendra Wardana, menambahkan bahwa penggabungan ini memiliki potensi besar dalam memperkuat posisi GOTO di industri ride-hailing. Selain itu, ia menilai bahwa Grab, yang telah mencatatkan laba sejak 2023, akan membawa disiplin biaya, pengalaman manajerial, dan sistem operasional yang lebih matang. Keduanya bisa saling menekan beban dan meningkatkan efisiensi ekosistem.
Dari sudut pandang investor, rencana merger ini menjadi katalis positif. Efisiensi biaya yang meningkat, margin laba yang berpotensi melebar, serta peluang jangka menengah yang terbuka lebar membuat saham GOTO langsung mengalami lonjakan volume dan harga setelah kabar merger mencuat.
Hendra menjelaskan bahwa jika penggabungan benar-benar terwujud, GOTO berpeluang bertransformasi dari saham “burn rate” menjadi saham “profit maker”. Hal ini menjadi simbol kebangkitan sektor digital Indonesia yang sempat kehilangan pamor.
Secara teknikal, tren jangka pendek GOTO terlihat positif dengan potensi menuju target harga di level Rp 72 dan Rp 90. Lebih lanjut, ia merekomendasikan trading buy GOTO selama sahamnya berada di atas Rp 60.