
Death Valley, wilayah gurun yang terletak di California dan Nevada, dikenal sebagai salah satu tempat dengan cuaca paling ekstrem di dunia. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, kawasan ini justru mencatatkan rekor baru, bukan karena suhu yang membara, melainkan curah hujan yang luar biasa tinggi.
Layanan Taman Nasional Amerika Serikat (National Park Service/NPS) mengungkapkan bahwa Death Valley National Park mengalami hujan dengan intensitas yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Guyuran air yang deras dan berlangsung cukup lama itu bahkan berhasil mengembalikan keberadaan sebuah danau purba yang telah lama hilang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Danau tersebut bernama Danau Manly, yang berada di Badwater Basin, titik terendah di Amerika Utara. Dalam sejarah geologinya, Danau Manly pernah memiliki kedalaman lebih dari 300 meter. Namun, selama lebih dari 10.000 tahun terakhir, danau ini tidak pernah muncul secara permanen, setelah pengaruh Zaman Es mulai menghilang dari kawasan tersebut.
ScienceAlert melaporkan bahwa hujan yang terjadi akhir-akhir ini menyebabkan Danau Manly kembali terbentuk, meski masih sangat dangkal. Menurut NPS, di sebagian besar area, ketinggian airnya bahkan belum mencapai mata kaki. Jadi, jangan harap bisa naik perahu dalam waktu dekat.
Dalam sejarahnya, Danau Manly pernah beberapa kali muncul kembali secara sementara setelah musim hujan lebat. Pada 2023, danau ini sempat terlihat tipis dan dangkal setelah Badai Hilary melintasi wilayah tersebut.
Catatan cuaca menunjukkan bahwa Death Valley mengalami musim gugur (September hingga November) terbasah sepanjang sejarah, dengan total curah hujan mencapai 2,41 inci atau sekitar 6,12 sentimeter. November tahun ini juga tercatat sebagai bulan yang paling basah dengan curah hujan 1,76 inci, melebihi rekor sebelumnya yang hanya 1,7 inci.

Angka tersebut mungkin terdengar kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain. Namun, bagi Death Valley yang merupakan salah satu tempat terkering di Bumi dengan rata-rata curah hujan tahunan kurang dari 2 inci, ini adalah lonjakan cuaca basah yang sangat signifikan. Dampaknya jelas terasa ketika hampir setahun hujan turun hanya dalam waktu sebulan.
Fenomena cuaca tak biasa ini pun memunculkan pertanyaan tentang nasib bunga-bunga liar yang biasanya mekar di Death Valley pada musim semi. Hujan memang penting bagi pertumbuhan tanaman, tetapi bukan satu-satunya faktor. NPS menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan bagaimana curah hujan ekstrem ini akan memengaruhi mekarnya bunga tahun depan.
Sementara itu, pihak berwenang mengingatkan wisatawan bahwa banyak jalan beraspal maupun tidak beraspal di taman nasional tersebut saat ini tidak bisa dilalui akibat puing-puing badai. Pengunjung diimbau untuk selalu memeriksa informasi terbaru melalui situs resmi pemerintah sebelum datang.
NPS belum merinci penyebab spesifik dari sistem cuaca ekstrem ini. Namun, tekanan perubahan iklim diketahui semakin sering memecahkan rekor cuaca di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan memperkirakan cuaca ekstrem akan makin sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan semakin parah seiring pemanasan global.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa lanskap yang kita lihat hari ini terbentuk selama miliaran tahun dan telah mengalami perubahan besar sepanjang waktu. Bahkan, Death Valley yang kini tampak kering dan tandus pun sesungguhnya memiliki sejarah alam yang sangat dinamis.
Pada masa kejayaannya sekitar 128.000 hingga 186.000 tahun lalu, Danau Manly pernah membentang hampir 161 kilometer. Kala itu, danau raksasa tersebut mendapat pasokan air dari es dan aliran sungai yang mengalir dari Pegunungan Sierra Nevada.