
Pemindahan Kampus IKJ ke Kota Tua: Pro dan Kontra
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengusulkan pemindahan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Cikini, Jakarta Pusat ke kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Usulan ini dilakukan dengan harapan menjadikan Kota Tua sebagai pusat aktivitas dan kreativitas para seniman.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kami akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan IKJ ke tempat ini (Kota Tua)," ujar Pramono Anung saat ditemui di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (18/10/2025). Ia menilai bahwa dengan adanya seniman dari IKJ, atmosfer seni dan budaya di Kota Tua akan semakin kuat.
Menurut Pramono, relokasi tersebut akan memberikan ruang kreativitas yang lebih baik, lebar, dan luas. Dalam pelaksanaannya, pihak pemerintah daerah dan pusat akan menyiapkan lokasi terlebih dahulu sebelum pemindahan dilakukan. Rencana ini juga diselaraskan dengan pembangunan infrastruktur di sekitar Kota Tua, termasuk proyek MRT yang ditargetkan rampung hingga kawasan Kota pada 2027.
Pramono berharap seluruh rencana pengembangan kawasan Kota Tua dan pemindahan IKJ dapat terealisasi antara 2027 hingga 2029. Namun, rencana tersebut menuai pro dan kontra.
Dukungan dari Rektor IKJ
Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Syamsul Maarif mendukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memindahkan kampus ke kawasan Kota Tua. Menurut Syamsul, ide relokasi kampus IKJ ke kawasan Kota Tua akan selaras dengan visi yang dimiliki Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, yaitu menjadikan Jakarta kota global dengan menekankan aspek kebudayaan.
"Sebagai kota global, pusat kebudayaan, bahwa IKJ itu sebagai dapur seni budayanya Jakarta," kata Syamsul. Ia menjelaskan bahwa pihak kampus akan membahas lebih lanjut rencana tersebut bersama Pemprov DKI Jakarta dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
"Kami akan mematangkan rencana itu sekitar November," ucap dia.
Kampus IKJ di Cikini Tetap Ada
Meski nantinya dipindah, Syamsul menegaskan, kampus IKJ di Cikini tetap akan dipakai kegiatan belajar mahasiswa. "Oh, tetap dong," ujar Syamsul. Ia menjelaskan, kampus IKJ di Cikini akan tetap beroperasi, sementara lokasi di Kota Tua akan difungsikan sebagai kampus kedua.
Menurut Syamsul, kampus IKJ di Cikini tetap akan dipakai mengingat kegiatan seni memerlukan fasilitas yang cukup banyak. "Perlu ada fasilitas yang cukup banyak ya kegiatan seni," ungkap dia.
Penolakan dari Mahasiswa
Sejumlah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menolak rencana pemindahan kampus mereka ke Kawasan Kota Tua. Mereka juga mempertanyakan urgensi pemindahan kampus IKJ ke Kota Tua.
Abel (21), salah seorang mahasiswa, mengaku sudah nyaman di kampus IKJ Cikini karena sejuk dan tidak terlalu panas. Jika membutuhkan ruang yang lebih luas untuk kegiatan seni, mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas di Taman Ismail Marzuki (TIM).
"Sebenarnya IKJ di sini udah enak, enggak perlu pindah," ujar Abel. Ia menilai, saat ini IKJ hanya perlu melakukan sedikit renovasi dan memperbaiki akses menuju kampus dibandingkan relokasi.
Senada dengan Abel, Rivo (21) mengaku heran dengan munculnya rencana pemindahan kampus IKJ ke Kota Tua. Dia menilai rencana relokasi itu tidak memiliki alasan yang kuat. Apalagi IKJ sudah memiliki identitas dan keterikatan historis dengan kawasan Cikini dan Taman Ismail Marzuki (TIM).
"Impresi pertama kayak kenapa tiba-tiba banget? Terus kayak urgensinya apa untuk tiba-tiba di Kota Tua?," kata Rivo. Ia juga khawatir pemindahan lokasi tersebut berpotensi meningkatkan beban biaya kuliah, terutama untuk kebutuhan transportasi dan biaya hidup bagi mahasiswa perantau.
"Soalnya banyak yang merantau dari luar kota segala, jadi kayak banyak biaya lagi," ungkap dia. Ia juga menyoroti aksesibilitas menuju Kota Tua yang dinilai cukup sulit bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi.