
UNGARAN, aiotrade—
Warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, kini terus menghadapi ancaman banjir. Hal ini disebabkan oleh penumpukan sedimen yang parah di Sungai Panjang, yang melintasi permukiman warga dan bermuara ke Rawa Pening.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bejalen, Rahmat Kristianto Adi, menjelaskan bahwa kondisi sedimentasi ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa adanya penanganan serius.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Sedimentasi ini sudah lama terjadi, tapi belum ada tindakan yang dilakukan. Bejalen merupakan daerah hilir dari Sungai Panjang yang langsung bermuara ke Rawa Pening,” ujarnya, Senin (10/11/2025).
Menurut Rahmat, saat musim hujan, warga selalu waspada karena permukaan air sungai cenderung sejajar dengan tinggi tanggul.
“Karena itu kami selalu waspada dan khawatir saat hujan, karena air di sungai sejajar dengan tinggi tanggul dan seringkali meluap,” kata Rahmat.
Hulu Sungai Panjang Dipenuhi Sampah
Rahmat menambahkan bahwa hulu Sungai Panjang berada di Kecamatan Bandungan. Akibat sedimentasi, kemampuan sungai dalam menampung debit air hujan menjadi tidak optimal.
“Sedimentasi membuat Sungai Panjang tidak optimal dalam menampung lonjakan debit air yang meningkat tajam,” ujarnya.
Lebih buruk lagi, air yang mengalir ke hilir juga membawa sampah dan barang-barang besar dari hulu.
“Ini karena tidak hanya air yang mengalir, tapi juga ada sampah. Bahkan banyak barang tak terduga seperti kasur, sofa, dan barang berukuran besar lainnya, belum lagi sampah plastik, kayu, bambu,” jelas Rahmat.
Upaya Pencegahan Banjir
Untuk mencegah luapan air Sungai Panjang, warga Bejalen secara swadaya meninggikan tanggul hingga 50 sentimeter.
Upaya ini dilakukan dengan menyisihkan sedikit anggaran dari Dana Desa.
“Secara bertahap, kami meninggikan tanggul sendiri dengan menyisihkan sedikit anggaran dari Dana Desa. Sehingga saat elevasi air Sungai Panjang meningkat, tidak meluap ke permukiman,” jelas Rahmat.
Namun, Rahmat mengkhawatirkan kemungkinan tanggul jebol di area persawahan, yang dapat menyebabkan kerugian besar bagi petani.
“Kalau tanggul di sawah jebol, pasti padi akan terendam, luasnya ratusan hektare. Kalau itu terjadi, kerugian pasti bertambah banyak,” katanya.
Tanggapan dari Bupati Semarang
Menanggapi keluhan warga, Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyatakan akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali–Juana untuk mencari solusi.
“Kami juga mengimbau agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai,” ujarnya.