
Penemuan Kerangka Manusia di Gedung ACC Kwitang, Jakarta Pusat
Misteri penemuan dua kerangka manusia di Gedung Astra Credit Companies (ACC) Kwitang, Jakarta Pusat, akhirnya terungkap. Dua kerangka tersebut diketahui merupakan Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputra Dewo, dua orang yang dilaporkan hilang setelah demonstrasi ricuh di kawasan Kwitang pada akhir Agustus 2025.
Hasil tes DNA yang dilakukan oleh Rumah Sakit Polri Kramat Jati menunjukkan kecocokan dengan keluarga masing-masing korban. Hal ini memastikan bahwa kedua kerangka tersebut adalah korban yang hilang sebelumnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kronologi Penemuan Kerangka
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Putu Cholis Aryana, menjelaskan kronologi panjang dari laporan orang hilang hingga penemuan kerangka di dalam gedung ACC. Menurut Putu, setelah kerusuhan pada akhir Agustus 2025, kepolisian menerima 44 laporan orang hilang. Dari jumlah itu, 40 orang berhasil ditemukan dalam kurun waktu 2–10 September 2025.
“Lalu upaya kami mengerucut ke empat nama orang yang hilang, yaitu Eko, Bima, Farhan, dan Reno,” kata Putu.
Selama periode yang sama, polisi juga menerima laporan kebakaran di Gedung ACC Kwitang dan langsung melakukan olah TKP. Tiga orang pelaku kemudian diamankan terkait peristiwa kebakaran itu.
Polda Buka Posko, Kerja Bareng KontraS
Demi mempercepat pencarian, Polda Metro Jaya membuka Posko Orang Hilang pada 12 September 2025 dan berkoordinasi dengan KontraS, yang sejak awal mendampingi keluarga korban. Lima hari kemudian, polisi menemukan dua orang, Eko di Kalimantan Tengah dan Bima di Jawa Timur. Namun, Farhan dan Reno masih belum diketahui keberadaannya.
Pada 19 September, Puslabfor Bareskrim Polri turun ke TKP Gedung ACC untuk mencari tahu penyebab kebakaran. “Berdasarkan hasil penelusuran komunikasi dan digital Farhan, handphone miliknya sempat digadaikan sebelum kerusuhan di Kwitang,” jelas Putu.
Ditemukan Tertimbun Puing
Tanggal 30 Oktober 2025, tim inspeksi PT QIES, selaku vendor renovasi gedung, mencium aroma tak sedap di lantai dua Gedung ACC, tepatnya di ruang underwriting. Dari lokasi itu, ditemukan dua kerangka manusia yang tertimbun reruntuhan plafon dan puing bangunan.
Polisi kemudian mengambil sampel DNA dari keluarga Farhan dan Reno untuk proses identifikasi.
Hasil Tes DNA: Identik dengan Reno dan Farhan
Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Prima Heru Yulihartono, mengatakan, dua kerangka itu tiba di RS Polri pada 30 Oktober lalu. “Waktu kematian dari saat pemeriksaan sudah lebih dari 1 bulan. Terima kasih kepada seluruh pihak yang terus membantu termasuk pihak keluarga yang telah mengirim antemortem,” ujar Prima.
Kepala Pusat Laboratorium dan Dokkes Polri, Brigjen Sumy Hastry Purwanti, menjelaskan hasil tes DNA menunjukkan kecocokan dengan keluarga korban. “Nomor post-mortem 0080 cocok dengan ante-mortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputradewo anak biologis dari Bapak Muhammad Yasin,” kata Hastry.
“Nomor posmortem 0081 cocok dengan antemortem 001 sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid anak biologis dari Bapak Hamidi,” sambungnya, dalam konferensi pers di RS Polri, Jumat (7/11/2025).
Hastry menjelaskan identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan gigi dan tulang serta data kesehatan sebelum kematian. Hasilnya menunjukkan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tulang dua korban tersebut.