Dari Paris ke Bangkok, Jejak Cinta Ratu Sirikit

admin.aiotrade 26 Okt 2025 4 menit 27x dilihat
Dari Paris ke Bangkok, Jejak Cinta Ratu Sirikit

Kehidupan dan Warisan Ratu Sirikit Kitiyakara

Ratu Sirikit Kitiyakara, yang berpulang pada usia 93 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi rakyat Thailand. Ia adalah sosok penting dalam sejarah monarki modern negeri tersebut. Selama lebih dari empat dekade, ia menjadi pendamping setia Raja Bhumibol Adulyadej. Dikenal dengan pesonanya yang anggun dan elegan, serta peran sosialnya yang nyata di tengah masyarakat, Sirikit berhasil menggabungkan citra kerajaan yang megah dengan ketulusan sebagai seorang ibu bangsa.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kabar wafatnya diumumkan oleh Biro Rumah Tangga Kerajaan setelah dirawat sejak 2019 karena berbagai penyakit dan mengalami infeksi darah pada 17 Oktober. Masa berkabung nasional selama satu tahun ditetapkan bagi keluarga kerajaan dan lingkungan istana. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, bahkan sempat membatalkan keikutsertaannya dalam KTT ASEAN di Malaysia sebelum akhirnya hadir demi upacara perdamaian dengan Kamboja yang juga dihadiri Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Sirikit menjauh dari sorotan publik sejak mengalami stroke pada 2012. Namun, kiprahnya tetap melekat kuat di benak rakyat. Ia dikenal sebagai lambang keanggunan, pengabdian, dan kekuatan yang halussebuah figur yang memadukan modernitas dan tradisi dalam satu pribadi.

Cinta Bersemi di Paris

Lahir pada tahun 1932, saat Thailand beralih dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional, Sirikit tumbuh di lingkungan diplomatik dan terpelajar. Ayahnya adalah duta besar Thailand untuk Prancis, dan masa muda Sirikit diwarnai dengan kemewahan, musik, serta pelajaran bahasa di Paris. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan Pangeran Bhumibol Adulyadej, yang saat itu sedang menempuh studi di Swiss.

Dalam sebuah dokumenter BBC, Sirikit pernah bercanda bahwa pertemuan pertama mereka adalah benci pada pandangan pertama karena sang pangeran datang terlambat. Namun kebencian itu perlahan mekar menjadi cinta. Mereka bertunangan pada 1949 dan menikah setahun kemudian, ketika Sirikit baru berusia 17 tahun. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah lepas dari bayang-bayang pengabdian terhadap suami dan bangsa.

Warisan Sutra dan Keanggunan

Sirikit memancarkan citra glamor yang memikat dunia. Bersama desainer Prancis Pierre Balmain, ia menciptakan busana berbahan sutra Thailand yang menampilkan keanggunan Timur dan kehalusan Barat dalam satu harmoni visual. Lebih dari sekadar mode, Sirikit menjadikan kain sutra sebagai simbol identitas nasional. Ia mendirikan yayasan untuk melestarikan tenun tradisional dan memberdayakan perempuan di pedesaan.

Warisan inilah yang membuatnya dijuluki Ibu Sutra Thailand. Melalui tangannya, sutra tidak hanya menjadi bahan mewah, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan kebanggaan budaya dan membuka jalan ekonomi bagi masyarakat desa.

Penjaga Moral dan Kepedulian Sosial

Bersama Raja Bhumibol, Sirikit menjelajahi pelosok Thailand, dari lembah terpencil hingga desa-desa miskin. Setiap kunjungan mereka menjadi bagian dari Royal Bulletin yang disiarkan setiap malammenunjukkan sosok kerajaan yang dekat dengan rakyat. Ia juga sempat menjadi wali raja selama dua minggu pada tahun 1956, ketika sang raja menjalani ritual menjadi biksu, menunjukkan kepercayaan besar yang diberikan padanya.

Tanggal 12 Agustus, hari kelahirannya, kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional di Thailand sejak 1976. Sejak itu, sosoknya tak hanya dipandang sebagai permaisuri, tetapi juga sebagai lambang keibuan dan kasih bagi seluruh bangsa.

Takhth dan Politik

Meski monarki Thailand secara resmi berada di atas politik, sejarah mencatat bahwa Sirikit kerap tampil dalam momen krusial. Pada 1998, ia menggunakan pidato ulang tahunnya untuk menyerukan persatuan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Chuan Leekpai, langkah yang menggagalkan upaya oposisi menjatuhkan pemerintah.

Namun, sikapnya kemudian menimbulkan kontroversi. Ia dikenal bersimpati pada gerakan Peoples Alliance for Democracy (PAD) yang berhaluan royalistis (pro-monarki) dan anti-Thaksin. Pada 2008, kehadirannya dalam pemakaman seorang demonstran PAD yang tewas dalam bentrokan dengan polisi dipandang sebagai dukungan moral bagi gerakan yang mengguncang pemerintahan pro-Thaksin. Momen itu memperkuat kesan bahwa Sirikit tidak sepenuhnya netral dalam percaturan politik nasional.

Penghormatan Dunia

Pemerintah Thailand secara resmi menetapkan masa berkabung nasional selama satu tahun sejak wafatnya Ratu Sirikit pada 24 Oktober 2025. Semua kantor pemerintahan, sekolah, dan BUMN diminta menurunkan bendera setengah tiang selama 30 hari. Pegawai negeri dan aparat kerajaan diwajibkan mengenakan pakaian hitam atau gelap selama 90 hari, sementara rakyat diimbau menghindari acara hiburan atau pesta besar sepanjang masa berkabung.

Jenazah Ratu Sirikit kini disemayamkan di Dusit Maha Prasat Throne Hall, Grand Palace, Bangkok. Upacara penghormatan akan berlangsung selama satu tahun sebelum kremasi kerajaan dilaksanakan dengan penghormatan tertinggi. Prosesi pemakaman kerajaan ini mengikuti tradisi panjang monarki Thailand yang penuh simbolisme dan sakralitas, menandai transisi spiritual menuju kedamaian abadi.

Pemerintah juga mengimbau industri pariwisata dan perhotelan menyesuaikan diri dengan suasana nasionalmenghentikan promosi meriah, mengganti musik pesta dengan alunan lembut, dan menampilkan simbol-simbol duka. Dunia internasional pun turut menyampaikan belasungkawa: berbagai kedutaan besar dan kepala negara sahabat memuji dedikasi Ratu Sirikit terhadap pembangunan sosial, pelestarian budaya, serta diplomasi yang mempererat persahabatan antarbangsa.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan