
Bekasi — Program Bank Sampah RW 22 Perumahan Villa Gading Harapan, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, terus menunjukkan bahwa sampah bisa menjadi sumber manfaat jika dikelola dengan baik. Upaya yang dilakukan warga akhirnya membuahkan hasil setelah program ini meraih Juara II Kategori Ekonomi Circular Sampah dalam penilaian lingkungan tingkat kelurahan. Penghargaan tersebut diberikan pada 20 Agustus 2025 sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan warga dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Ketua Bank Sampah RW 22, Manis, menjelaskan bahwa program ini pertama kali dijalankan pada tahun 2016. Namun, kegiatan sempat terhenti selama masa pandemi COVID-19 karena keterbatasan aktivitas warga. Setelah situasi membaik, program kembali aktif pada 16 Mei 2025 dengan semangat baru dan komitmen untuk mengubah pola pengelolaan sampah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Tujuan kami adalah membuat lingkungan tetap bersih dan sampah dapat dikelola dengan baik. Bahkan sebagian sampah bisa diolah menjadi barang berguna, seperti galon bekas yang dijadikan pot, atau bungkus kopi yang diubah menjadi dompet dan tikar,” ujar Manis.
Pengurus bank sampah terdiri dari warga RW 22 sendiri, mulai dari pembina, ketua, sekretaris, bendahara hingga divisi pemilahan dan penimbangan. Kolaborasi ini membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan dapat berjalan efektif jika dilakukan secara bersama-sama.
Setelah program diaktifkan kembali, antusiasme masyarakat meningkat. Saat ini, bank sampah RW 22 sudah melibatkan 75 Kepala Keluarga dari 18 RT yang aktif menyetorkan sampah. Jenis sampah terbanyak berasal dari kebutuhan sehari-hari, seperti botol minuman, gelas plastik, dan bungkus kopi, yang dikumpulkan melalui sistem setor, pilah, timbang, dan jual ke pengepul.
Selain bermanfaat bagi lingkungan, program ini juga memberikan dampak ekonomi bagi warganya. Salah satu anggota yang telah ikut selama enam bulan mengatakan:
“Sampah di rumah jadi tidak menumpuk dan bisa menghasilkan uang. Lumayan untuk menambah penghasilan,” ujar Wiwin Wintarsih.
Keberadaan bank sampah memberikan perubahan signifikan. Lingkungan RW 22 kini terlihat lebih bersih, dan kerukunan warga semakin terbangun karena rutin bertemu dalam kegiatan pengelolaan sampah.
Meski demikian, beberapa tantangan masih ditemui, seperti masih adanya sampah bercampur sehingga proses pemilahan membutuhkan kerja ekstra. Selain itu, pengurus tidak selalu dapat hadir setiap minggu, namun hal ini dapat ditutupi dengan sistem giliran dan saling membantu.
Meskipun sudah melibatkan banyak warga, pengurus menyebut bahwa beberapa RT masih belum ikut serta. Untuk itu, mereka berharap partisipasi komunitas dapat semakin luas ke depannya.
“Harapan kami, bank sampah RW 22 semakin maju dan seluruh RT dapat ikut berpartisipasi,” kata Manis.
Lurah Kebalen, Andhika Jurnalisanda, mengapresiasi kerja keras masyarakat RW 22 yang mampu membangun ekonomi sirkular berbasis komunitas. Ia berharap program ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kelurahan Kebalen maupun Kecamatan Babelan.
Penghargaan Juara II yang diraih menjadi bukti bahwa upaya sederhana yang dikerjakan bersama dapat memberikan dampak besar baik bagi lingkungan, ekonomi warga, maupun keharmonisan sosial.
Kisah Bank Sampah RW 22 menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar limbah, tetapi dapat berubah menjadi manfaat ketika dikelola secara kreatif dan kolaboratif. Melalui dukungan warga dan konsistensi pengurus, program ini kini menjadi contoh nyata bagaimana lingkungan yang bersih dan mandiri dapat diwujudkan bersama-sama.