
Dampak Hujan Ekstrem di Sumatera Utara
SEMARANG, aiotrade
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa setelah Sumatera Barat, hujan ekstrem kini telah bergerak ke Sumatera Utara, yang berdampak pada empat hingga lima Daerah Aliran Sungai (DAS). Salah satu DAS yang paling terdampak adalah DAS Batang Toru, yang menarik perhatian internasional.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Yang paling krusial adalah DAS Batang Toru yang menjadi sorotan internasional. Karena di sana konon ada orang utan Tapanuli yang jumlahnya juga terus kita pertanyakan,” ujar Hanif dalam sambutannya di UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Selasa (16/12/2025).
Luas dan Kondisi DAS Batang Toru
Hanif menjelaskan bahwa DAS Batang Toru memiliki luas sekitar 340.000 hektar, namun tutupan hutannya hanya mencapai 38 persen. Hal ini menunjukkan adanya deforestasi yang cukup serius.
“Dari posisi 340.000 (hektar) DAS di Batang Toru tadi, tutupan hutannya hanya berjumlah 38 persen. Terjadi deforestasi yang cukup sangat serius untuk daerah aliran sungai di Sumatera Utara, terutama pada lima DAS di sisi selatannya,” tambahnya.
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa sekitar 15.000 hektar hutan telah berubah menjadi non-hutan dalam kurun waktu 2009 hingga 2024. Hal ini diperparah dengan kondisi geomorfologi dan curah hujan untuk Sumatera Utara yang rata-rata mencapai 110 milimeter per hari selama empat hari.
Dampak Hujan di Wilayah DAS Garoga
Setelah menghantam Sumatera Barat, hujan dengan intensitas yang sama di Sumatera Utara telah mengakibatkan satu desa di sekitar DAS Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, hilang.
“Dengan posisi landscape yang sangat terjal itu, maka kemudian di daerah DAS Garoga satu desa benar-benar hilang,” ungkapnya.
Hanif menjelaskan bahwa desa tersebut terletak di tengah Sungai Garoga dan kemungkinan merupakan wilayah endapan banjir purba yang kembali terulang.
“Satu desa hilang karena memang hujan yang cukup tinggi, kemudian dinding yang berdiri dan ada laju deforestasi yang cukup serius,” ucapnya.
Tiga Faktor yang Memperparah Bencana
Dalam kesempatan tersebut, Hanif juga mengungkapkan tiga faktor penting yang memperparah terjadinya bencana di Sumatera Utara.
“Mulai dari antropogenik kita, dari kultur kita, budaya kita yang telah melakukan kegiatan deforestasi yang cukup luas,” bebernya.
Ia menambahkan bahwa dari segi geomorfologi, Sumatera bagian Utara berada dalam kondisi yang tidak stabil.
Terakhir, Hanif menilai faktor hidrometriologi yang terlihat jelas melalui siklon atau topan yang jarang terjadi di daerah-daerah dengan lintang rendah, termasuk Indonesia.
“Kita berada di daerah tropis. Kemudian kita merupakan daerah kepulauan. Sehingga dengan demikian kita merupakan negara yang sangat riskan terhadap perubahan iklim ini,” pungkasnya.