Dasar Teknologi yang Harus Dikuasai

admin.aiotrade 07 Nov 2025 3 menit 17x dilihat
Dasar Teknologi yang Harus Dikuasai
Dasar Teknologi yang Harus Dikuasai

Peran Ilmu Dasar dalam Membangun Masa Depan ASEAN

Wilayah Asia Tenggara (ASEAN) memiliki posisi strategis yang sangat penting di masa depan sebagai pusat pasar muncul (emerging market). Namun, potensi ini tidak akan terwujud tanpa kesiapan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) secara regional. Dosen Fisika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Acep Purqon, menjelaskan bahwa penguasaan ilmu dasar seperti fisika menjadi kunci untuk menguasai teknologi di masa depan. Hal ini karena ilmu-ilmu dasar memberikan kontribusi signifikan terhadap munculnya teknologi baru yang berkembang pesat di berbagai negara.

Perkembangan teknologi seperti komputer kuantum, material maju, teknologi fotonik, fisika medis, teknologi kebumian, instrumentasi dan komputasi, kecerdasan buatan (AI), serta permasalahan terkait big data pada ekonofisika dan sosiofisika semakin berdampak ketika mempertimbangkan faktor keberlanjutan. Saat ini, permasalahan yang dihadapi semakin kompleks dan tidak lagi bisa diselesaikan dengan satu disiplin ilmu. Oleh karena itu, kolaborasi lintas disiplin dan multidisiplin menjadi keniscayaan, terutama di dunia global yang tanpa batas dan sekat.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Seminar dan Kuliah Tamu untuk Meningkatkan Kolaborasi

Dari latar belakang tersebut, Prodi Fisika FMIPA ITB menggelar kuliah tamu dari sembilan dosen Universitas Tenaga Nasional (Uniten) Malaysia dan seminar bersama dengan 25 presenter dari ITB. Tema utama kuliah umum ini adalah pemanfaatan kecerdasan buatan untuk prediksi kualitas udara, machine learning pada gempa bumi, desain bendungan untuk adaptasi perubahan iklim, adaptasi bangunan untuk daerah iklim tropis, pemanfaatan limbah untuk bahan bangunan, dan material maju untuk SDGs.

Kegiatan ini juga menghadirkan 25 pemakalah dari ITB, Laos, Rusia, dan Australia dengan berbagai tema terkait pemanfaatan data sains untuk berbagai sistem fisis. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penjajakan berbagai kegiatan, seperti skema pengabdian masyarakat antar negara, terutama regional ASEAN yang meliputi isu-isu bersama terkait keberlanjutan.

Kerja Sama Akademik yang Lebih Erat

Acep menekankan bahwa dalam konteks akademik, diperlukan kerja sama yang lebih erat terkait isu bersama antara Indonesia dan Malaysia. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan jumlah mahasiswa yang melakukan pertukaran inbound maupun outbound. Selain itu, pemanfaatan riset bersama untuk bidang data sains dan big data serta yang terkait di Asia Tenggara juga menjadi prioritas.

Menurut Acep, peran percepatan ekonomi berbasis inovasi terletak di tingkat universitas. Karena perguruan tinggi menghasilkan teknologi dan inovasi yang sudah mengadopsi keberlanjutan.

Inovasi dan Keberlanjutan di Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menciptakan solusi inovatif yang berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan ilmu dasar dan teknologi modern, institusi pendidikan tinggi dapat menjadi motor penggerak utama bagi pembangunan berkelanjutan di kawasan ASEAN. Kolaborasi antar universitas dan negara-negara di kawasan ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga berkontribusi pada tujuan SDGs.

Dengan demikian, investasi dalam pendidikan dan riset menjadi langkah strategis untuk membangun masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi seluruh wilayah Asia Tenggara.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan