Dastar 10 Pahlawan Nasional 2025 Diresmikan Prabowo, Mulai dari Marsinah hingga Gusdur

admin.aiotrade 10 Nov 2025 4 menit 16x dilihat
Dastar 10 Pahlawan Nasional 2025 Diresmikan Prabowo, Mulai dari Marsinah hingga Gusdur

Daftar Pahlawan Nasional Tahun 2025

Pada momentum peringatan Hari Pahlawan Nasional, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan sepuluh tokoh bangsa yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang dinilai memiliki jasa luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan, keadilan sosial, serta pembangunan bangsa di berbagai bidang.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Penganugerahan tersebut dituangkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa penghormatan ini merupakan bentuk pengakuan negara atas dedikasi dan pengorbanan yang telah diberikan oleh para tokoh dalam membangun Indonesia.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Mereka telah mewariskan semangat perjuangan yang harus terus kita lanjutkan,” ujar Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta.

Tokoh-Tokoh yang Diangkat sebagai Pahlawan Nasional

Gus Dur: Penjembatan Islam dan Pancasila

Salah satu penerima gelar Pahlawan Nasional tahun ini adalah Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tokoh asal Jawa Timur yang dikenal sebagai simbol pluralisme dan toleransi.

Gus Dur berperan besar dalam mengangkat derajat pesantren menjadi entitas pendidikan dan sosial yang diakui secara nasional. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mampu menyelaraskan hubungan antara Islam dan Pancasila tanpa menimbulkan konflik.

Menteri Agama menilai Gus Dur sebagai sosok yang “mampu mengurai bahwa Islamlah yang memberi ruh bagi Pancasila.” Pemikiran dan perjuangan Gus Dur mengajarkan bangsa Indonesia untuk menghargai kemajemukan sebagai sunnatullah, kehendak Tuhan yang tidak dapat dipungkiri.

Soeharto: Pemimpin Pembangunan Bangsa

Nama Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, Presiden ke-2 RI asal Jawa Tengah, juga masuk dalam daftar penerima gelar Pahlawan Nasional.

Soeharto dikenal atas perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berhasil merebut kembali Yogyakarta dari tangan Belanda, serta memimpin Operasi Trikora 1962 untuk membebaskan Irian Barat.

Sebagai Presiden, ia memperkenalkan konsep Trilogi Pembangunan, stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan, yang menjadi dasar arah pembangunan nasional selama masa kepemimpinannya.

Marsinah: Simbol Perjuangan Buruh Perempuan

Dari kalangan rakyat kecil, pemerintah juga menetapkan Marsinah, aktivis buruh asal Nganjuk, Jawa Timur, sebagai Pahlawan Nasional. Dikenal vokal memperjuangkan hak-hak pekerja, Marsinah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Tragedi yang menimpa dirinya pada Mei 1993, ketika ia ditemukan meninggal dunia dengan tanda-tanda kekerasan, menjadi titik penting dalam sejarah perjuangan buruh di Indonesia.

Kini, Marsinah dikenang sebagai martir demokrasi industri dan keberanian perempuan dalam menegakkan hak asasi manusia.

Mochtar Kusumaatmadja: Diplomat dan Arsitek Hukum Laut

Tokoh asal Jawa Barat, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, juga menerima gelar Pahlawan Nasional. Sebagai akademisi dan diplomat, Mochtar dikenal luas atas kontribusinya dalam merumuskan Konsep Negara Kepulauan (Archipelagic State) yang kemudian diakui dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS 1982).

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1974–1978) dan Menteri Luar Negeri (1978–1988). Selama masa pengabdiannya, Mochtar dikenal memperjuangkan kedaulatan hukum Indonesia di forum internasional.

Rahmah El Yunusiyah: Pelopor Pendidikan Perempuan

Dari Sumatera Barat, Hajjah Rahmah El Yunusiyah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berkat jasanya mendirikan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang pada 1923 — sekolah khusus perempuan pertama di dunia Islam.

Perjuangan Rahmah membuka akses pendidikan bagi perempuan Indonesia menjadi inspirasi hingga ke tingkat internasional. Pola pendidikan Diniyah Putri bahkan mengilhami pendirian fakultas perempuan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Sarwo Edhie Wibowo: Prajurit Disiplin dan Pendidik Militer

Nama Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo juga masuk dalam daftar pahlawan nasional tahun ini.

Sebagai Komandan RPKAD (kini Kopassus), ia berperan dalam menjaga stabilitas negara pasca tragedi 1965. Sarwo Edhie juga dikenal sebagai Gubernur Akademi Militer (Akmil) yang menanamkan nilai disiplin, integritas, dan nasionalisme kepada generasi perwira TNI.

Sultan Muhammad Salahuddin: Pejuang dari Bima

Dari Nusa Tenggara Barat, Sultan Muhammad Salahuddin dikenang atas perjuangannya melawan penjajahan Belanda di Bima. Ia memimpin rakyatnya dengan kebijaksanaan dan semangat perjuangan hingga akhir hayat pada 1951. Sultan Salahuddin dianggap sebagai tokoh yang berhasil menjaga kehormatan dan kedaulatan daerahnya di tengah tekanan kolonialisme.

Syaikhona Muhammad Kholil: Guru Para Ulama

Syaikhona Muhammad Kholil dari Bangkalan, Madura, merupakan sosok ulama karismatik yang menjadi guru bagi banyak tokoh besar, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Ia berkontribusi besar dalam penguatan pendidikan pesantren dan menjadi panutan dalam penyebaran ilmu agama di Nusantara.

Tuan Rondahaim Saragih: Penegak Kedaulatan Simalungun

Dari Sumatera Utara, Tuan Rondahaim Saragih Garingging dikenal sebagai pejuang Kerajaan Raya yang berani menentang kolonialisme Belanda pada akhir abad ke-19. Ia berhasil mempertahankan wilayah Simalungun dari ekspansi Belanda hingga akhir hayatnya pada tahun 1891.

Zainal Abidin Syah: Sultan Tidore dan Gubernur Pertama Irian Barat

Dari kawasan timur Indonesia, Sultan Zainal Abidin Syah asal Maluku Utara mendapat pengakuan atas jasanya dalam memperjuangkan integrasi Irian Barat ke wilayah Indonesia. Ia menjabat sebagai Gubernur Irian Barat pertama (1956–1961) dan menjadi simbol persatuan nasional di kawasan timur Nusantara.

Upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional turut dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jajaran Kabinet Merah Putih, serta keluarga ahli waris masing-masing tokoh.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga pengingat moral bagi generasi muda agar terus berkontribusi bagi bangsa.

“Mereka adalah teladan bagi kita semua. Semangat dan nilai perjuangan mereka tidak boleh padam,” ujar Prabowo menutup pidatonya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan