
Kekuatan Militer Iran yang Masih Mengkhawatirkan
Meski telah menghadapi serangan intensif dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, Iran diperkirakan masih memiliki ribuan rudal balistik yang tersimpan di fasilitas bawah tanah. Fasilitas ini siap digunakan untuk meluncurkan rudal kapan saja, meskipun sebagian peluncur dan persenjataan telah rusak akibat konflik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Badan intelijen AS memperkirakan bahwa Iran masih memiliki jumlah rudal yang sangat besar, bahkan setelah serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel. Menurut laporan yang dirilis pada Sabtu (11/4/2026), rudal-rudal tersebut dapat diluncurkan dari berbagai fasilitas bawah tanah yang tersebar di seluruh wilayah Iran. Penilaian ini menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran belum sepenuhnya terganggu, meskipun serangan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir cukup intensif.
Khawatir dengan Gencatan Senjata
Sumber intelijen AS juga mengkhawatirkan bahwa Iran akan memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk membangun kembali kekuatan militer mereka. Dalam laporan yang dirujuk dari Haaretz pada Minggu (12/4/2026), ada indikasi bahwa Iran mungkin sedang merencanakan upaya pemulihan, termasuk penguatan stok rudal dan drone.
Selain itu, ada laporan yang menyebutkan bahwa China sedang bersiap mengirim sistem pertahanan udara ke Iran dalam beberapa minggu ke depan. Namun, diduga pengiriman ini akan melalui negara ketiga guna menyamarkan asal pengiriman. Meskipun demikian, pihak China membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar China di AS menegaskan bahwa negaranya tidak pernah memasok senjata ke pihak mana pun dalam konflik dan tetap mematuhi kewajiban internasional.
Perkembangan Terkini tentang Rudal Iran
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa program rudal Iran telah secara fungsional hancur. Ia menyebut bahwa sebagian besar peluncur dan rudal Iran telah rusak atau tidak efektif. Namun, sumber AS dan Israel menyebut bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk memulihkan sebagian kekuatan militernya.
Banyak peluncur rudal yang masih dapat diperbaiki, sementara stok rudal balistik jarak pendek dan menengah masih tersisa dalam jumlah ribuan. AS mengklaim bahwa meski pasokan rudal Iran telah berkurang sekitar setengah selama 40 hari konflik, kemampuan Iran untuk membangun kembali stok rudal tetap menjadi ancaman yang signifikan.
Potensi Kerja Sama dengan Rusia
Selain itu, persenjataan drone Iran juga dilaporkan menurun drastis, namun berpotensi dibangun kembali, termasuk melalui kerja sama dengan Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya mengandalkan sumber daya internal, tetapi juga mencari mitra strategis untuk memperkuat posisi militer mereka.
Iran juga disebut masih memiliki rudal jelajah terbatas yang dapat digunakan untuk menyerang target strategis di Teluk Persia. Kemampuan ini menambah kekhawatiran bagi negara-negara yang terlibat dalam konflik regional.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, meskipun Iran telah mengalami kerugian signifikan akibat serangan AS dan Israel, kemampuan militer mereka masih menjadi ancaman yang nyata. Dengan kemampuan untuk memperbaiki fasilitas dan membangun kembali stok rudal serta drone, Iran tetap menjadi kekuatan yang harus diperhatikan dalam dinamika geopolitik regional.