
Analisis Kinerja Emiten Konsumer di Tengah Tantangan Daya Beli
Di tengah tantangan daya beli masyarakat, analis tetap memberikan pandangan positif terhadap dua emiten konsumer yang dimiliki oleh konglomerat Anthoni Salim, yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Menurut analis Sinarmas Sekuritas Vita Lestari, kedua saham tersebut memiliki potensi untuk menguat di sisa 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kinerja ICBP di Paruh Pertama 2025
Dalam risetnya berjudul Sector Viewfinder–Consumer Staples Unlocking Opportunities in 2H25, Vita menjelaskan bahwa tekanan terhadap daya beli masyarakat sepanjang paruh pertama 2025 tidak memberikan dampak signifikan terhadap ICBP dan INDF. Dengan eksposur pada makanan kemasan dan mie instan, kedua perusahaan berpotensi diuntungkan dari permintaan tinggi terhadap produk-produk esensial meskipun kenaikan harga CPO dan sensitivitas harga dapat membatasi ekspansi margin.
Sejauh ini, ICBP mencatatkan kenaikan penjualan neto konsolidasi sebesar 2% menjadi Rp37,6 triliun, dibandingkan dengan Rp36,96 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 56% menjadi Rp5,54 triliun dari Rp3,54 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, Vita menilai bahwa ICBP masih terkena tekanan daya beli masyarakat domestik. Margin kotor yang tertekan karena kenaikan harga CPO dan permintaan yang rendah membuat ICBP cenderung menahan diri untuk melakukan penyesuaian harga yang signifikan ke depannya.
Inovasi Produk sebagai Strategi Pemulihan
Meski demikian, upaya ICBP untuk berinovasi terhadap beberapa produk baru di segmen susu, mie, hingga makanan nutrisi diharapkan dapat mendorong momentum penjualan ICBP di sisa 2025. Inovasi ini diprediksi akan sejalan dengan minat konsumen yang terus berkembang dan mampu mendukung pertumbuhan pendapatan meskipun daya saing di segmen ini cukup menantang.
Vita menilai bahwa saham ICBP masih menarik untuk dikoleksi, meskipun prospek penjualan yang lebih lambat dan daya beli masyarakat yang kian menantang di sisa 2025. Dengan demikian, Vita merevisi target pendapatan ICBP pada 2025 menjadi 4% YoY. Namun, laba bersih ICBP diprediksi bakal mencapai 15% di akhir 2025, terutama didorong oleh asumsi pendapatan keuangan yang lebih tinggi.
“Meskipun penjualan relatif lesu tahun ini, kami memperkirakan adanya perbaikan moderat pada semester II/2025, didukung oleh pemulihan bertahap dalam permintaan domestik dan kontribusi luar negeri yang berkelanjutan,” katanya.
Alhasil, Vita merekomendasikan add terhadap saham ICBP dengan target Rp10.200 per saham. Risiko terhadap rekomendasi ini meliputi pemulihan daya beli yang kian lambat, tekanan biaya bahan baku, dan volatilitas mata uang.
Kinerja INDF di Paruh Pertama 2025
Sementara itu, kinerja INDF sepanjang paruh pertama 2025 dinilai telah sesuai dengan ekspektasi para analis. INDF membukukan kenaikan penjualan bersih 4,45% YoY menjadi Rp59,84 triliun pada semester I/2025. Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turut naik 51,83% menjadi Rp5,83 triliun dari Rp3,85 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Vita menjelaskan bahwa kinerja solid INDF sepanjang paruh pertama 2025 didorong oleh pemulihan kuat pada segmen agribisnis yang mampu mengimbangi pelemahan penjualan ICBP. Menguatnya kinerja segmen agribisnis disebut ditopang oleh harga CPO yang lebih tinggi, serta peningkatan produksi.
Namun, menyusul melemahnya pendapatan ICBP, Vita merevisi pendapatan INDF sebesar 2% hingga 2025, tetapi menaikkan proyeksi laba bersih perseroan sebesar 6% hingga tahun penuh 2025.
“Kami memperkirakan margin akan tetap stabil hingga akhir tahun, didukung oleh harga CPO yang memberikan keuntungan dan biaya gandum yang stabil,” katanya.
Dalam kondisi ini, Vita merekomendasikan beli terhadap saham INDF dengan target Rp8.800 per lembar. Target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan 23,07% dari harga INDF saat ini Rp7.150 per lembar.