
Kunjungan Gubernur Jabar ke SMP Negeri 2 Jalancagak
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan langsung ke SMP Negeri 2 Jalancagak, Kabupaten Subang. Kedatangan beliau ini terkait dengan isu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru terhadap siswanya. Kejadian ini membuat sekolah tersebut viral di media sosial.
Pada hari Jumat (7/11/2025), Dedi tiba di sekolah sekitar pukul 07.30 WIB. Ia mengenakan pakaian serba putih dan langsung menyapa para guru serta siswa. Selama kunjungannya, ia meninjau beberapa ruang kelas yang terlihat mengalami kerusakan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kunjungan tersebut berakhir di kelas tempat ZR (16) belajar. ZR menjadi perhatian setelah video unggahan akun Instagram @mangdans_ menyebar. Sebelumnya, orang tua ZR memarahi guru bernama Rana Saputra karena menampar anaknya. Dedi menegaskan bahwa pendisiplinan siswa di sekolah tidak boleh dilakukan dengan kekerasan fisik, seberapa pun berat pelanggarannya.
"Sanksi terhadap siswa jangan kekerasan. Sekolah harus tegas, tapi jangan sampai memukul. Risikonya terlalu tinggi," ujar Dedi kepada wartawan di SMPN 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, Jumat.
Ia memberikan contoh dari kasus di daerah lain, di mana ada guru madrasah yang dipidana selama 5 bulan karena memukul siswa. Untuk itu, ia menekankan agar sanksi diberikan dalam bentuk edukatif dan produktif, seperti membersihkan lingkungan sekolah atau memperbaiki fasilitas umum.
"Sanksinya gampang saja, bersihin sampah, babat rumput, ngecat ruang kelas, bantuin guru nulis. Anak lemah matematika, ya sanksinya latihan matematika setiap hari sampai bisa. Itu mendidik, bukan menyakiti," ujarnya.
Dedi juga menyebut, bagi siswa yang sudah terlanjur berperilaku menyimpang, seperti merokok, perlu diarahkan ke program rehabilitasi. "Anak-anak yang merokok harus direhab, bukan digaplok. Semakin digaplok, makin tambah merokoknya. Kebetulan kan ada dana bagi hasil pajak rokok di setiap kabupaten/kota, itu bisa dipakai buat rehab anak-anak seperti ini," ucap dia.
Rana Saputra yang menjadi sorotan dalam video viral tersebut mengaku menyesal dan menjadikan kejadian itu sebagai pelajaran penting. Ia berharap masyarakat bisa lebih menghargai profesi guru dan tidak langsung mengkriminalisasi tindakan pendisiplinan di sekolah.
"Di sini bukan soal siapa yang salah atau menang, tapi bagaimana muruah guru kembali dihargai. Saya akui kemarin memukul siswa, tapi saya punya ukuran, bukan untuk mencederai," kata Rana.
Rana juga menyatakan akan mengubah cara pemberian sanksi kepada siswa sesuai dengan arahan Gubernur. "Ke depan, sesuai arahan Kang Dedi, sanksi cukup dengan kerja sosial, bersihin toilet, betulin bangku, atau ngecat kelas. Yang penting anaknya disiplin tanpa harus disakiti," ujarnya.
Diketahui sebelumnya, kasus ini berawal dari video unggahan akun @mangdans_, milik Deni Rukmana (38), orang tua dari ZR. Ia memprotes tindakan guru IPS yang diduga menampar anaknya setelah upacara bendera pada Senin (3/11/2025).