
Penjelasan Gubernur Jabar tentang Sumber Air Aqua
Beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan dengan isu yang menyebut bahwa sumber air Aqua berasal dari sumur bor. Isu ini muncul setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), melakukan sidak ke pabrik Aqua yang berada di kawasan Subang, Jawa Barat.
Kunjungan KDM ke pabrik Aqua tersebut menarik perhatian publik karena dugaan bahwa sumber air Aqua tidak berasal dari pegunungan melainkan dari sumur bor. Setelah isu ini viral, KDM akhirnya angkat bicara.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam kunjungannya yang kedua ke pabrik Aqua, KDM mengklaim bahwa sumber air utama yang digunakan Aqua memang berasal dari mata air pegunungan. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak memiliki niat untuk menjelek-jelekan Aqua. Menurutnya, isu tersebut hanya berkembang di kalangan netizen yang mengambil kesimpulan sepihak.
KDM dalam video yang beredar mengunjungi sejumlah karyawan Aqua dan menjelaskan bahwa dari awal Aqua dibangun di Subang, air bakunya memang berasal dari mata air pegunungan. Para karyawan kemudian bertanya apakah air tersebut benar-benar dari pegunungan. KDM menjawab bahwa air tersebut memang bersih dan berasal dari mata air pegunungan.
Selain itu, KDM juga mengunjungi beberapa perusahaan lain untuk memastikan bahwa perekonomian di sekitar pabrik Aqua berkembang. Ia ingin memastikan bahwa masyarakat sekitar sejahtera, infrastruktur baik, dan anak-anak penduduk bisa sekolah dengan layanan yang memadai.
Pengertian Air Pegunungan yang Sering Disalahartikan
Pengertian istilah "air pegunungan" sering disalahartikan oleh masyarakat. Banyak yang mengira bahwa air pegunungan adalah air yang langsung diambil dari sumber mata air permukaan di daerah pegunungan. Namun, menurut pakar hidrogeologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Profesor Lambok M. Hutasoit, air pegunungan yang digunakan industri air minum dalam kemasan (AMDK) bukanlah langsung dari mata air permukaan.
Menurutnya, sumber air pegunungan terletak dalam sistem akuifer yang dihasilkan dari proses alami di pegunungan. Hujan yang meresap ke dalam tanah akan mengalir ke sumber air dan diambil dari akuifer bawah tanah di pegunungan. Hal ini membuat air tersebut lebih aman dan bersih dibandingkan air tanah biasa.
Lambok juga menjelaskan bahwa tidak semua air tanah aman untuk dikonsumsi. Beberapa air tanah bisa mengandung mineral beracun seperti Kromium VI. Oleh karena itu, penggunaan air tanah untuk AMDK harus dilakukan dengan analisis kimia terlebih dahulu.
Keamanan Air Pegunungan
Profesor Heru Hendrayana dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga menegaskan bahwa air tanah dangkal lebih rentan terpolusi dibandingkan air tanah dalam. Ia menjelaskan bahwa air tanah dangkal bisa terkontaminasi dari toilet, selokan, atau limbah rumah tangga.
Sebaliknya, air tanah dalam relatif lebih higienis dan sehat. Industri AMDK besar cenderung memilih air pegunungan yang berasal dari akuifer dalam karena kualitasnya yang lebih baik.
Heru juga menjelaskan bahwa air pegunungan tidak selalu berarti air yang diambil persis di kaki gunung. Jarak puluhan kilometer pun masih bisa dihitung sebagai bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan. Contohnya, Bogor banyak airnya berasal dari Gunung Salak, sedangkan Yogyakarta dan Klaten memiliki sumber air dari Gunung Merapi.
Kualitas Air Pegunungan
Air pegunungan umumnya memiliki kandungan mineral alami yang lebih kaya dibanding air tanah dangkal di perkotaan. Inilah yang menjadi salah satu nilai tambah air pegunungan untuk kebutuhan AMDK.
Tenaga Ahli Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), Muhammad Sirod, menjelaskan bahwa saat ini tidak ada aturan khusus untuk syarat sumber air minum. Yang penting adalah air yang akan menjadi AMDK wajib lolos SNI, BPOM, dan sertifikasi halal.
Sirod menekankan bahwa air sumur yang terhubung dengan pegunungan memiliki kualitas yang sama dengan air pegunungan. Namun, perlu dilakukan riset terkait kandungan fisika, kimia, dan mikrobiologi.
Klarifikasi Danone tentang Sumber Air Aqua
Manajemen Danone Indonesia memberikan klarifikasi atas perbincangan di media sosial soal sumber air produk AQUA. Dalam keterangan resminya, Danone menegaskan bahwa air AQUA berasal dari sumber air pegunungan yang terlindungi secara alami.
“Air AQUA diambil dari 19 sumber air pegunungan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Setiap sumber dipilih melalui proses seleksi ketat dengan 9 kriteria ilmiah dan 5 tahap evaluasi yang berlangsung minimal satu tahun,” tulis pihak Danone dalam pernyataan resminya.
Danone menjelaskan bahwa air yang digunakan bukan berasal dari air permukaan atau tanah dangkal, melainkan dari akuifer dalam dengan kedalaman mencapai 60 hingga 140 meter. Air dari akuifer ini terlindungi oleh lapisan kedap air, sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia dan tidak mengganggu sumber air yang digunakan masyarakat.
Perusahaan juga mengungkapkan bahwa sebagian titik sumber air bersifat self-flowing, atau mengalir alami tanpa perlu dipompa. Proses pemilihan dan pengelolaan sumber air dilakukan oleh tim ahli dari berbagai bidang seperti geologi, hidrogeologi, geofisika, dan mikrobiologi.
Selain itu, Danone memastikan bahwa setiap lokasi sumber air telah melewati kajian dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) juga mengonfirmasi bahwa sumber air AQUA tidak bersinggungan dengan air yang digunakan warga.