
Inovasi Paving Block dari Sampah Plastik yang Viral di Media Sosial
Toni Permana, seorang warga dari Kampung Sukamaju, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, membuat heboh media sosial dengan video yang menunjukkan kemarahan terhadap pemerintah. Toni dikenal sebagai pengrajin paving block dari bahan daur ulang sampah plastik. Ia merasa tidak mendapatkan perhatian yang layak meskipun telah menghasilkan inovasi yang sangat berpotensi.
Sejarah dan Perjalanan Toni Permana
Toni memiliki nama lengkap Toni Permana dan usianya 41 tahun. Sebelum memproduksi paving block, ia awalnya memiliki usaha las. Namun, ia mulai beralih ke bisnis daur ulang sampah plastik setelah melihat potensi besar dari bahan tersebut. Dari 2017, Toni telah mengembangkan inovasinya sendiri, yaitu mengubah sampah plastik menjadi paving block.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Awalnya, ia bekerja secara manual, tetapi kini ia memiliki mesin sendiri yang dirakit olehnya. Selain itu, Toni juga menyediakan penyaring asap yang dirakit sendiri dan telah lolos uji emisi. Meski sudah melakukan berbagai pengujian seperti uji lab, uji tekan, uji bakar, dan uji abrasi, Toni merasa tidak mendapat dukungan apapun dari pemerintah.
Reaksi dari Gubernur Jawa Barat
Viralnya video Toni di media sosial akhirnya menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Saat bertemu langsung dengan Toni, Gubernur langsung bertanya tentang harga jual dari paving block buatan Toni. "Berapa per meter? Saya beli," kata Dedi Mulyadi.
Namun, Toni menolak tawaran tersebut karena mesin produksinya belum mampu memproduksi secara massal. "Justru belum bisa produksi massal pak, sehari paling cuma 2 meter mesinnya itu," jawab Toni.
Harga jual paving block milik Toni adalah Rp 200 ribu per meternya, sedangkan paving dari pasir berkisar antara Rp 95 ribu hingga Rp 200 ribu per meternya. Menurut Toni, kekuatan paving block ini hampir setara dengan paving bahan pasir.
Tantangan dan Penawaran dari Gubernur
Dedi Mulyadi kemudian memberikan tantangan dengan menawarkan uang sebesar Rp 50 juta. Jika dikalkulasi dengan harga jual, Toni harus memberi paving block sebanyak 250 meter. Namun, Toni menolak penawaran tersebut. "Diupayakan," jawab Toni.
Gubernur menegaskan bahwa Toni seharusnya tetap berani seperti ketika membuat video di media sosial. "Keberanian bapak harus sesuai dengan amarah bapak di media sosial dong. Ini udah teriak-teriak, kan bapak ingin mandiri. Bapak di media sosial wanian banget. Dulu kayak maung kenapa sekarang kayak kucing," katanya.
Dedi Mulyadi berencana memasang paving block dari Toni untuk jalan di sawah. Dengan demikian, ia tidak perlu lagi memesan dari pihak lain. "Buat jalan di sawah jadi saya gak usah beli paving block dari luar. Kalau di tempat saya berhasil saya nanti mau bikin program desa-desa mengunakan paving block buatan bapak," katanya.
Tujuan Toni yang Lebih Besar
Meski menolak tawaran dari Gubernur, Toni menjelaskan bahwa tujuannya bukan hanya sebatas mendapat modal usaha. "Pengin saya di tempat wilayah itu ada kayak saya lagi, jadi diterapkan di sini, di sini. Ketika ada kebutuhan tuh bisa saling memenuhi," ujarnya.