Dedi Mulyadi Marah, Pemprov Jabar Dianggap Tidak Tertib

admin.aiotrade 25 Okt 2025 2 menit 14x dilihat
Dedi Mulyadi Marah, Pemprov Jabar Dianggap Tidak Tertib

Polemik Dana Daerah dan Kebijakan Keuangan yang Tidak Konsisten

Polemik antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa terkait pengelolaan dana pemerintah provinsi (Pemprov) Jabar masih berlangsung. Terbaru, Dedi Mulyadi mengkritik pernyataan Menkeu yang dinilainya tidak konsisten dan membingungkan publik.

Dedi Mulyadi menuding bahwa Menkeu Purbaya melakukan plin-plan dalam menyampaikan pendapatnya tentang pengelolaan keuangan daerah. Ia menilai bahwa pernyataan Menkeu yang berubah-ubah menciptakan ketidakjelasan di masyarakat.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Menkeu menyatakan bahwa menyimpan dana dalam deposito bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan, karena daerah tidak boleh hanya mengambil bunga untuk mendapatkan bunga," ujar Dedi Mulyadi, dikutip dari sumber berita.

Namun, menurut Dedi Mulyadi, pernyataan tersebut justru menunjukkan ketidakkonsistenan. Ia menegaskan bahwa dana sebesar Rp2,6 triliun yang disimpan oleh Pemprov Jabar bukanlah dana dalam bentuk deposito, melainkan dana dalam giro. Namun, hari ini Menkeu berbicara berbeda.

"Nah hari ini beliau ngomongnya beda lagi. Rugi dong kalau disimpan di giro karena bunganya kecil, harusnya di deposito," tambah Dedi Mulyadi, menirukan pernyataan Menkeu.

Menurut Dedi Mulyadi, tindakan Menkeu itu memberikan kesan bahwa pemerintah daerah tidak tertib dalam mengelola keuangan. Padahal, ia menegaskan bahwa seluruh dana kas daerah Jawa Barat telah tercatat dan diaudit secara terbuka.

"Padahal, seluruh kas daerah Jawa Barat tercatat dan diaudit secara terbuka," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa dana sebesar Rp2,6 triliun yang tersimpan di bank bukanlah dana yang mengendap, melainkan bagian dari siklus belanja daerah yang akan digunakan hingga akhir tahun.

"Jadi yang menilai apakah ada anggaran yang diendapkan di Provinsi Jawa Barat, yang harus menyatakannya adalah BPK karena mereka memiliki kewenangan melakukan audit," pungkas Dedi Mulyadi.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan merilis daftar 15 daerah yang paling banyak menyimpan dana di bank. Berikut daftar daerah tersebut:

  • DKI Jakarta: Rp14,6 triliun
  • Jawa Timur: Rp6,8 triliun
  • Kota Banjar Baru: Rp5,1 triliun
  • Kalimantan Utara: Rp4,7 triliun
  • Jawa Barat: Rp4,1 triliun
  • Bojonegoro: Rp3,6 triliun
  • Kutai Barat: Rp3,2 triliun
  • Sumatera Utara: Rp3,1 triliun
  • Kepulauan Talaud: Rp2,6 triliun
  • Mimika: Rp2,4 triliun
  • Badung: Rp2,2 triliun
  • Tanah Bumbu: Rp2,11 triliun
  • Bangka Belitung: Rp2,10 triliun
  • Jawa Tengah: Rp1,9 triliun
  • Balangan: Rp1,8 triliun

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan