Defisit APBN 2025 di Bawah Target, Ekonomi Tumbuh Lambat

admin.aiotrade 16 Nov 2025 3 menit 12x dilihat
Defisit APBN 2025 di Bawah Target, Ekonomi Tumbuh Lambat


aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pada akhir tahun 2025 diperkirakan hanya mencapai sebesar 2,29% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan target awal defisit APBN 2025 yang ditetapkan sebesar 2,53% dari PDB, serta lebih rendah dari outlook defisit APBN yang diperkirakan oleh Kementerian Keuangan sebesar 2,78% dari PDB.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa defisit APBN diperkirakan lebih rendah karena dua faktor utama. Pertama, penerimaan yang stagnan dan belanja pemerintah yang tersendat. Rizal menilai, dari sisi penerimaan, realisasi pajak masih di bawah ekspektasi, terutama dari wajib pajak (WP) besar yang baru menyumbang Rp 8 triliun dari 200 pengemplang pajak.

Realisasi yang minim tersebut dinilai menunjukkan bahwa efektivitas intensifikasi pajak belum terlihat secara signifikan. “Jika melihat data fiskal terkini, maka proyeksi defisit APBN 2025 kemungkinan akan berada di bawah target resmi 2,29% dari PDB, atau sekitar Rp 580 triliun hingga Rp 600 triliun,” ujarnya kepada aiotrade, Minggu (16/11/2025).

Faktor kedua adalah dari sisi belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) hingga 15 November baru mencapai Rp 630,03 triliun atau 71,23% dari target, serta pengembalian anggaran kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp 3,5 triliun. Hal ini dinilai menunjukkan bahwa fungsi fiskal sebagai mesin pertumbuhan ekonomi masih melemah.

Selain itu, Rizal juga melihat adanya hambatan birokrasi, pengadaan yang lambat, serta realokasi anggaran yang tidak segera terserap di daerah, sehingga menyebabkan stimulus fiskal kehilangan momentum. Akibatnya, defisit yang lebih rendah dari target bukanlah kabar baik, melainkan menjadi indikasi kontraksi fiskal terselubung yang bisa menahan laju PDB di bawah potensi.

“Jadi, defisit rendah bukan otomatis pertanda sehat, karena kualitas fiskalnya yang perlu dilihat. Defisit idealnya turun karena penerimaan meningkat dan belanja efektif, bukan karena dana tidak terserap,” jelasnya.

Secara keseluruhan, Rizal melihat bahwa selama tahun 2025, pemerintah justru menahan ekspansi fiskal di tengah lemahnya permintaan domestik dan investasi. Nah, jika hingga Desember 2025 serapan belanja tetap di bawah 95%, efeknya bisa menekan pertumbuhan ekonomi kuartal IV di bawah 5%, sementara multiplier fiskal dari APBN tidak tercapai secara optimal.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Defisit APBN Lebih Rendah

  • Penerimaan yang Stagnan
    Realisasi pajak masih di bawah ekspektasi, terutama dari wajib pajak besar yang baru menyumbang Rp 8 triliun dari 200 pengemplang pajak. Hal ini menunjukkan bahwa intensifikasi pajak belum efektif.

  • Belanja Pemerintah yang Tersendat
    Transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) hingga 15 November baru mencapai 71,23% dari target. Pengembalian anggaran K/L juga tercatat sebesar Rp 3,5 triliun, menunjukkan bahwa fungsi fiskal sebagai mesin pertumbuhan ekonomi masih melemah.

  • Hambatan Birokrasi dan Pengadaan
    Proses birokrasi yang lambat serta realokasi anggaran yang tidak segera terserap di daerah menyebabkan stimulus fiskal kehilangan momentum.

Dampak dari Defisit APBN yang Rendah

  • Bukan Kabar Baik
    Meskipun defisit APBN lebih rendah dari target, hal ini bukan pertanda sehat. Kualitas fiskal harus dilihat, karena defisit idealnya turun karena penerimaan meningkat dan belanja efektif, bukan karena dana tidak terserap.

  • Kontraksi Fiskal Terselubung
    Defisit yang rendah bisa menjadi indikasi kontraksi fiskal terselubung yang dapat menahan laju PDB di bawah potensi.

  • Potensi Penurunan Pertumbuhan Ekonomi
    Jika serapan belanja tetap di bawah 95% hingga Desember 2025, pertumbuhan ekonomi kuartal IV bisa turun di bawah 5%, dan multiplier fiskal dari APBN tidak tercapai secara optimal.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan