Garuda Indonesia Rencanakan Penerbitan Saham Baru untuk Restrukturisasi Perusahaan

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tengah mempersiapkan rencana besar dalam upaya menyehatkan kondisi keuangan perusahaan. Salah satu langkah yang diambil adalah penerbitan saham baru dalam rangka penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Langkah ini dianggap sebagai bagian dari proses restrukturisasi agar perusahaan dapat kembali stabil dan beroperasi secara lebih efektif.
Penerbitan saham baru akan dilakukan dengan menerbitkan sebanyak 315,61 miliar saham seri D. Setiap saham memiliki nilai nominal sebesar Rp 75. Dana yang diperoleh dari penerbitan ini akan digunakan untuk beberapa tujuan utama, seperti memperbaiki nilai ekuitas, meningkatkan likuiditas, memperkuat struktur permodalan, serta mengurangi liabilitas. Tujuan akhirnya adalah untuk memperbaiki kondisi keuangan secara keseluruhan, sehingga perusahaan dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Hingga 30 Juni 2025, Garuda Indonesia mencatatkan modal kerja bersih negatif sebesar US$ 1,49 miliar. Sementara itu, total liabilitas perusahaan mencapai US$ 8,01 miliar, sedangkan total aset hanya sebesar US$ 6,51 miliar. Hal ini membuat rasio total liabilitas terhadap total aset mencapai 123%, yang menunjukkan bahwa perusahaan sedang menghadapi tantangan finansial yang cukup serius.
Dalam prospektus ringkas yang dirilis, manajemen Garuda Indonesia menjelaskan bahwa dana hasil pelaksanaan PMTHMETD akan mencapai Rp 23,67 triliun. Dana ini berasal dari dua sumber utama, yaitu modal tunai sebesar Rp 17,02 triliun dan konversi pinjaman pemegang saham sebesar Rp 6,65 triliun. Dengan dana tersebut, Garuda Indonesia akan melakukan beberapa penggunaan strategis:
-
37% untuk modal kerja dan operasional
Dana sebesar 37% akan digunakan untuk pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat. Biaya perawatan ini sebesar US$ 111,34 juta berasal dari shareholder loan (SHL), sedangkan sisanya sebesar Rp 6,88 triliun berasal dari penambahan modal tunai untuk pesawat tertentu yang jatuh tempo pada periode 2025/2026. -
63% untuk peningkatan modal kepada Citilink
Sebesar 63% dana akan dialokasikan untuk peningkatan modal Citilink melalui konversi pinjaman pemegang saham menjadi modal serta setoran modal tunai. Fokus restrukturisasi ini bertujuan untuk menghindari risiko strategis dan dampak sosial terhadap masyarakat. Peningkatan modal ini akan dilakukan pada Desember 2025. Nantinya, Citilink akan menggunakan dana tersebut sebesar 47% untuk pembiayaan modal kerja dan operasional, termasuk pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat. Sementara 16% akan digunakan untuk membayar utang pokok pembelian bahan bakar pesawat Citilink kepada Pertamina sebesar US$ 225 juta.
Selain itu, pelaksanaan PMTHMETD akan dilakukan oleh PT Danantara Aset Manajemen (DAM) sebagai pihak terafiliasi. DAM, yang merupakan pemegang saham utama Garuda Indonesia, dinilai perlu untuk menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan. DAM akan menyetorkan modal secara tunai sebesar Rp 17,02 triliun ke Garuda Indonesia, yang berasal dari pengambilan bagian atas saham yang diterbitkan dalam PMTHMETD.
Sisa dana dari PMTHMETD sebesar Rp 23 triliun akan digunakan untuk membayar utang anak usaha Citilink kepada DAM sebesar Rp 6,65 triliun. Pinjaman senilai US$ 405 juta ini sejatinya telah diteken sejak 24 Juni 2025. Namun, dalam prospektus dijelaskan bahwa pinjaman ini akan dikonversi menjadi saham. "Saat ini Garuda Indonesia dan DAM telah menyepakati untuk mengkonversi seluruh SHL yang telah dicairkan, menjadi Saham Baru melalui mekanisme PMTHMETD," jelas manajemen dalam keterbukaan informasi.
Harga wajar saham yang akan menjadi pelaksanaan akan ditetapkan dalam RUPSLB sebesar Rp 75 per saham. Penetapan harga ini sesuai dengan ketentuan dari kewajaran. Meski demikian, rencana ini masih membutuhkan restu pemegang saham, yang akan dimintakan pada 12 November. Hingga saat ini, harga saham GIAA berada di Rp 110 per saham.