Usulan Pengangkatan Kapten Japa sebagai Pahlawan Nasional
Pemerintah Kota Denpasar sedang mempertimbangkan usulan pengangkatan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa sebagai pahlawan nasional. Hal ini dilakukan karena peran pentingnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Bali dan Denpasar.
Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan kajian terkait rencana pengusulan tersebut. "Kami akan segera menerima audiensi dari pihak keluarga beliau," ujarnya setelah memimpin apel Hari Pahlawan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Jaya Negara, Kapten Japa adalah sosok yang sangat berkontribusi dalam mengharumkan nama Bali, khususnya Denpasar, dalam perjuangan melawan Belanda. "Nanti kami akan membuat narasi perjuangan beliau dan itu akan kami kirim ke pusat," tambahnya.
Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa gugur dalam serangan Umum Kota Denpasar pada 11 April 1946. Ia adalah kakak dari mantan Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra.

Pejuang yang gugur di usia 21 tahun ini lahir di Griya Punia Jati di Jalan Hayam Wuruk Nomor no. 105 pada 3 April 1925. Ia adalah pamannya mantan Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra. Selama masa kecilnya, ia sempat bersekolah di HIS, sekolah Belanda selama tujuh tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Malang dan kembali ke Bali karena meletusnya perang Pasifik pada zaman Jepang.
Saat berada di Bali, Kapten Japa ikut kerja paksa Jepang dan bekerja di Mitsui Bussan atau sejenis Bulog saat ini. Setelah Jepang kalah dari sekutu dan dibentuk PETA (Pembela Tanah Air), IB Japa bergabung dengan 1.650 orang lainnya dan menjalani latihan di Banyumala.
Setelah Indonesia merdeka, dibentuk BKR yang dipimpin oleh Nyoman Peged dan IB Japa. Pada tanggal 2 Maret 1946, Belanda datang ke Bali dan mendarat di Sanur dengan 2.000 pasukan bersenjata lengkap. Denpasar dikuasai tanpa perlawanan.
Untuk menggempur Belanda, dilaksanakan rapat pertama di Berumbungan, Sibang Kaja tanggal 5 April 1946. Rapat kedua dilaksanakan 8 April 1946 di Pagutan, Padangsambian di sebuah rumah di tengah sawah. Dalam rapat itu hadir Kapten Sugianyar, Pak Regug, Gusti Ngurah Pinda, dan juga Ida Bagus Japa.
Pada saat itu, ada tiga tangsi yakni Tangsi Kreneng, Tangsi Kayu Mas, dan Tangsi Satria. Ketiga tangsi tersebut diserang dari arah utara yang dipimpin I Gusti Ngurah Pinda, penyerang ke Kreneng dipimpin Letnan Suece, dan penyerangan ke Kayu Mas dipimpin Sarja Udaya. Sementara dari arah timur yakni Yang Batu dipimpin oleh IB Japa dengan pasukan terbanyak yakni 800 orang.
Namun naas, saat itu dahi IB Japa kena tembak, dan tiga peluru bersarang di dadanya. Sebelum meninggal, ia dipapah Ida Bagus Banjar. Ia berkata kepada Ida Bagus Banjar untuk meneruskan perjuangan. Ida Bagus Japa meninggalkan seorang istri bernama Jero Wati yang sedang mengandung delapan bulan.
Nama Kapten Japa kini diabadikan sebagai nama jalan dan juga monumen di bundaran Niti Mandala Renon.