
Perubahan di Subak Yeh Anakan: Transformasi Energi yang Mengubah Kehidupan Petani
Pada hari Minggu, 12 Oktober 2025, gemericik air menjadi satu-satunya suara di tengah petak sawah Subak Yeh Anakan. Mesin diesel tua yang biasanya berisik kini diam. Pompa listrik yang hening bekerja menggantikannya. Transformasi hijau ini menghidupkan lagi denyut nadi subak, kini aliran listrik bagi warga di titik paling barat Pulau Dewata ini menumbuhkan senyum bagi para petani secara paripurna.
Di bawah kilau senja, petani memastikan padi-padi bunting mereka mendapat porsi tiga hingga lima sentimeter air. Porsi air itu, merupakan penanda kebutuhan konsumsi untuk tanah sawah telah sempurna. Senja di Banjar Dinas Air Anakan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali itu, sejatinya membawa ketenangan. Namun, bagi Dewa Putu Ariawan, 47 tahun, sore itu tetap berarti kesibukan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Mengenakan topi dan baju biru panjang, ia berdiri di tepi pematang. Di tangannya sabit berkilat, siap memotong rumput, dan di pundaknya tergantung ongkek, keranjang bambu penampung rumput pakan ternak. Dewa adalah petani, peternak, dan sekaligus penjaga kunci harapan ratusan petani lain. Ia menyusuri jalan setapak di belakang rumah warga, mengendarai motor bebeknya menuju sawah 70 are miliknya.
Sawahnya terhampar hijau, memasuki fase paling menentukan: Bunting atau akan berbunga. Fase ini menuntut air yang cukup, sekitar 3 sampai 5 sentimeter di atas tanah. Tanpa air memadai, harapan panen bisa pupus. Di petak sawah, Dewa didampingi tetua, Ketut Suernan, 65 tahun. Mereka menunjuk ke kotak biru kecil yang disebut Paleb atau Koncor, alat tradisional pembagi air, yang satu unitnya membagi atas dua hektar sawah. Air yang mengalir ke sana kini bukan lagi hasil jeritan mesin tua.
Air itu datang dari Gardu sumur bor BBR 86, yang kini bertenaga listrik, dan Dewa adalah operator utamanya. Posisi Dewa menjadi sentral: Ia bertugas memasukkan token listrik, mengendalikan jam operasi pompa, dan kemudian menagih biaya ke petani. Di sanalah sebuah perubahan senyap telah terjadi. Petani kini hanya perlu sekali klik tombol untuk mengairi sawah, jauh lebih praktis daripada mengurus surat solar.
Di dalam gardu BBR 86, mesin diesel tua masih tersimpan. Diesel adalah sebuah ironi zaman yang masih siap siaga digunakan, jika listrik bermasalah. Mesin itu adalah warisan dari masa lalu yang penuh kerepotan. Pengairan di Subak Yeh Anakan sejatinya ada sekitar lima buah sumur bor, meskipun saat ini baru tiga diantaranya (BBR 86, BBR 157, dan BBR 164) yang sudah beralih ke listrik, dengan hanya BBR 86 yang beroperasi karena BBR 157 dan 164 masih menunggu proses serah terima resmi dari BWS.
Dewa menjelaskan, petani di Subak Yeh Anakan adalah petani sawah tadah hujan. Air irigasi hanya tersedia di musim tanam pertama (Kertha Masa/Rendeng). Setelah itu, datanglah masa sulit musim tanam kedua (Gadu) dan ketiga, ketika air alami menghilang. “Di situ (musim tanam ketiga) petani kan kekurangan air, jadi kita sebagai petani merasa terbantulah adanya program pemerintah dengan adanya pemanfaatan air baku seperti pompa air di BBR 86 ini,” kata Dewa, langsung menunjuk inti perubahan.
Tidak Lagi Terpaku pada BBM Subsidi
Dulu, pompa BBR 86 memakai solar subsidi. Setiap jam, mereka menghabiskan 4 sampai 5 liter solar, setara Rp30.000 per jam (asumsi Rp6.000 per liter). Angka itu belum seberapa dibandingkan kerepotannya. “Untuk mencari solar itu, itu sangat susah. Kenapa saya bilang susah? Kita harus perlu urus surat izin,” ujar Dewa. Prosedurnya rumit, surat izin harus ditempuh dari desa hingga dinas. Belum lagi urusan birokrasi, karena petani hanya bisa membeli solar di Pertamina yang ditunjuk, seperti di Kaliakah, yang jauh dari daerah Banyubiru, Jembrana.
“Kadang-kadang kita ke sana, sampai di sana, solarnya belum datang, balik lagi. Nah, itu merupakan suatu kendala,” kenangnya. Kesulitan itu menumpuk, menyebabkan biaya membengkak dan waktu pengairan yang terganggu, memicu keretakan dalam jadwal tanam.
Perubahan ini tak lahir mendadak, melainkan aspirasi dari bawah, dari para anggota subak yang sudah jengah dengan kesulitan solar, dan dipayungi oleh kearifan lokal (paruman subak). I Gusti Ngurah Sukasana, 64 tahun, Kelian Subak Yeh Anakan selama 12 tahun, adalah motor penggeraknya. Bersama 187 anggotanya, ia telah berjuang menghadapi deru mesin diesel dan carut-marut solar subsidi.
Awal Perubahan dari Paruman
Keputusan mengganti diesel ke listrik bermula dari Paruman (rapat) subak pada September 2024 lalu, menjelang Turun Kertha Masa atau masa tanam pertama. Dalam tradisi Bali, setiap kegiatan bercocok tanam selalu didasari konsep Tri Hita Karana, hubungan harmonis antara Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. "Yang pertama, paruman menjelang ‘Turun Kertha Masa’ atau masa tanam pertama yang megandalakan hujan, sehingga pasti membahas tentang akan memulai tanam padi," jelas Sukasana, merunut pentingnya momen itu.
Kemudian ada ritual meayah-ayahan (gotong royong), dan yang ketiga adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa di Pura Ulun Suwi Air Anakan. Dalam paruman itulah, aspirasi para petani untuk beralih ke listrik mencuat kuat. “Kita semua sama pengurus. Atas permintaan anggota dan pengurus, kita coba mengajukan ke Balai Wilayah Sungai Bali Nusa Penida usulan biar pakai listrik,” ujar Sukasana.
Sukasana memastikan, rencana jangka panjang mereka adalah beralih sepenuhnya ke listrik, dengan keinginan kuat agar kelima sumur bor kelak semuanya menggunakan listrik. Keputusan besar ini tersambung dengan jaminan dari hulu.
Penghematan Hingga 50 Persen
Perpindahan ke listrik, yang instalasinya dimulai Maret 2025 dan beroperasi September 2025, membawa hitungan efisiensi yang ramah pada kantong. Dewa, sebagai operator, menghitung dengan cermat: “Dengan memakai tenaga listrik, itu saya kemarin tes dan mengecek, satu jamnya itu kurang lebih 10 kWh. Dengan asumsi biaya listrik Rp1.500 per kWh, maka biaya per jam hanya Rp15.000.” Biaya anjlok separuhnya, dari Rp30.000 menjadi Rp15.000 per jam.
Dwipayana dari PLN membenarkan “Dengan listrik, estimasinya pengiritan per jam itu hampir mengirit 50 persen biaya,” ujar Dwi. Untuk mengairi 30 are sawah yang kering, Dewa butuh 6 sampai 7 jam. Jika menggunakan solar, biayanya Rp180.000, kini hanya Rp90.000 dengan listrik. Penghematan hingga Rp90.000 dalam waktu kurang dari sehari. Penghematan yang dicapai Dewa dan petani lainnya sangat signifikan. Selain biaya, efisiensi waktu juga tak ternilai, karena antrean pengairan bergulir.
Sukasana melanjutkan, bahwa saat ini, padi mereka sudah memasuki fase bunting, yaitu sudah berumur 60 hari. Meskipun saat ini baru satu sumur bor yang benar-benar aktif menggunakan listrik, ia optimistis. Perbedaan yang paling terasa sejauh ini, menurutnya, adalah kemudahan, efisiensi biaya, dan volume air. "Air itu segalanya buat kami, dan sekarang air itu datang lebih cepat, lebih banyak, dan tanpa suara bising yang mengganggu telinga," kata Sukasana.
Program Electrifying Agriculture
Transformasi di Subak Jembrana ini adalah bagian dari program Electrifying Agriculture yang bersifat proaktif, yang menargetkan seluruh kelompok Subak di Jembrana beralih ke gaya hidup electrifying lifestyle. Lantas, seberapa besar kontribusi konversi ini terhadap penguatan ketahanan pangan?
Secara efisiensi energi, perbandingan penggunaan antara listrik dan solar adalah 1:20. Rasio ini menjanjikan efisiensi energi yang luar biasa. Dari sisi ekonomi, dampak di lapangan jauh lebih dramatis. Petani di Tegal Badeng memberikan kesaksian, mereka yang semula mengandalkan irigasi tradisional atau diesel, yang hanya memungkinkan masa tanam dua kali setahun, kini bisa meningkatkan frekuensi tanam hingga empat kali setahun.
Kenaikan masa tanam dari dua kali menjadi empat kali dalam setahun, bahkan pada luasan tujuh hektare, berarti peningkatan produksi sekitar 50 persen. Asmara Putra memandang proyek elektrifikasi irigasi Subak ini sebagai model ideal. "Ya. Dengan adanya sumur air tanah maka petani dapat tetap produksi pada saat musim kering," tegasnya.
Untuk mendukung visi Bali menuju Pulau Hijau dan mengurangi ketergantungan pada BBM impor, PLN menawarkan mekanisme Renewable Energy Certificate (REC). Dwipayana menjelaskan, sistem Jamali adalah bauran energi, mencakup PLTU Paiton, PLTA, hingga EBT. “Untuk mengklaim bahwa benar yang dia gunakan adalah dari energi baru-terbarukan, PLN ada namanya REC,” jelasnya, menyebut PLTS Apung Cirata di Jawa Barat sebagai salah satu sumber EBT yang berkontribusi.
Hasil Panen dan Penerimaan Takdir
Dewa menanam jenis padi Impari 32, yang ia dapatkan sebagai bantuan dari subak. Ia memperkirakan, jika dirawat maksimal dan tidak terserang penyakit, 70 are lahannya bisa menghasilkan sekitar 4,9 ton padi (7 sampai 8 kuintal per are). Dengan harga gabah yang dipatok pemerintah sekitar Rp6.500 per kilogram, nilai totalnya Rp31 juta lebih. Sedangkan hasil bersih, dirinya tidak terlalu banyak spekulasi dan menerima saja apa yang diberikan pada musim tanam ke tiga ini.
Untuk Sukasana, memiliki lahan seluas 80 are (8.000 meter persegi). Ia memperkirakan, per are lahannya dapat menghasilkan sekitar 70 kilogram padi, yang berarti total panennya akan mencapai 5,6 ton padi. Atau mendapatkan hasil sekitar Rp 36 juta lebih. Persis sama, Sukasana juga menerima apapun hasil dari musik tanam ke tiga ini, meskipun atas hasil yang didapat itu adalah bukan diterima bersih atau belum dipotong biaya-biaya selama masa tanam.
Kisah transformasi Subak Jembrana ini bukan hanya catatan keberhasilan teknis PT PLN dan BWS. Ini adalah narasi empati tentang keringat petani yang kini tidak lagi memikirkan mahalnya solar, melainkan kepastian aliran air dari tenaga listrik. Bagi I Gusti Ngurah Sukasana, listrik dari sumber domestik memperkuat Tri Hita Karana, khususnya harmoni dengan alam dan kemandirian ekonomi desa.
“Listrik itu ibarat Dewa itu Pasupati. Listrik hidup itu Dewa Brahman.” Lebih penting lagi, kata dia, ia menjaga alam (Palemahan). "Diesel kan dulu menyebabkan polusi, listrik kan sekarang tidak berpolusi. Itu juga konsep Tri Hita Karana untuk menjaga alam,” imbuhnya.
Transformasi energi di sektor pertanian, didukung pembangunan infrastruktur JTR PLN yang menjangkau pelosok sawah, mampu mengubah nasib, menguatkan ketahanan pangan, dan mewujudkan janji lingkungan yang lebih bersih. Kalimat itu, yang dirangkai Kelian Subak dari pengalaman panjangnya, disempurnakan oleh sikap tawakal kepada Ida Bhatara Sri yang dipuja sebagai Dewi Kesuburan.
“Pindah ke listrik memang membantu. Tapi kita wajib memohon kepada Ida Bhatara Sri, biar diselamatkan segala yang kita tanam. Supaya nantinya akan mendapat suatu hasil (panen melimpah). Itu harapannya,” ucap Sukasana, ketika ditemui di bale rumahnya. Dengan optimistis nantinya transformasi hijau ini bakal lebih menghidupkan lagi denyut nadi subak, denyutnya makin berdetak, sebagai pertanda kesejahteraan petani jaraknya hanya sejengkal di depan mata.