
PT Caturkada Depo Bangunan Tbk (DEPO), sebuah perusahaan bahan bangunan yang dimiliki oleh konglomerat Hermanto Tanoko, berencana untuk memperluas jaringannya di tahun 2026. Rencana ekspansi ini akan melibatkan pembukaan tiga gerai baru yang akan berlokasi di Palembang, Samarinda, dan Bali. Dengan penambahan tersebut, jumlah gerai DEPO akan meningkat menjadi 20 gerai pada tahun depan.
Chief Financial Officer (CFO) DEPO, Shelly Leo, menyampaikan bahwa perusahaan mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 129 miliar untuk mendukung rencana ekspansi ini. Sekitar 89% dari total capex akan digunakan untuk pembangunan gerai baru, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan operasional perusahaan. Shelly menjelaskan bahwa pendanaan utama berasal dari pinjaman bank.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Wakil Presiden Direktur DEPO, Henryanto Komala, menekankan bahwa ekspansi gerai tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan perusahaan. Ia mengatakan bahwa potensi pasar di berbagai daerah masih sangat besar, dan DEPO ingin hadir lebih dekat dengan konsumen melalui jaringan yang lebih luas dan efisien. Selain itu, ia berharap kondisi industri pada 2026 semakin kondusif karena suplai likuiditas dari pemerintah dapat mendorong aktivitas sektor bahan bangunan.
Henryanto optimis bahwa efek dari uang yang digelontorkan pemerintah untuk industri properti di Indonesia akan sangat positif pada tahun 2026. Ia percaya bahwa hal ini akan mendorong kemampuan konsumen untuk berbelanja, termasuk untuk pasar properti.
Presiden Direktur Caturkada Depo Bangunan, Kambiyanto Kettin, menyatakan bahwa DEPO menargetkan penjualan sebesar Rp 3 triliun pada tahun 2026. Target ini lebih tinggi dibandingkan estimasi pendapatan penuh tahun 2025 senilai Rp 2,89 triliun. Ia optimis bahwa pendapatan DEPO akan lebih baik dan naik lebih dari Rp 3 triliun dengan persentase laba bersih yang lebih stabil.
Persaingan Ketat di Industri
Meski memiliki rencana ekspansi yang ambisius, kinerja DEPO pada tahun 2026 masih dibayangi oleh persaingan ketat di industri ritel bahan bangunan. Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memproyeksikan bahwa top line DEPO belum mampu tercapai sesuai ekspektasi manajemen. Ia menjelaskan bahwa persaingan di ritel bahan bangunan sangat tinggi, dengan banyaknya toko ritel yang menjamur.
Dari sisi teknikal, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat bahwa posisi saham DEPO masih berada di fase downtrend dan berada di bawah MA20. Volume perdagangan saham ini pun cenderung kecil. Indikator MACD dan Stochastic juga melandai dan berada di area negatif.
Herditya merekomendasikan strategi wait and see untuk saham DEPO dengan level support di Rp 250 dan resistance di Rp 270 per saham. Sementara Nafan belum memberikan rekomendasi untuk saham ritel bahan bangunan ini.
Hingga akhir perdagangan Selasa (9/12/2025), saham DEPO berada di posisi Rp 262 per saham atau menguat 0,77% dibandingkan perdagangan kemarin. Secara tahun berjalan, pergerakan harga saham ini menguat 5,65%.
DEPO Chart
by TradingView