
Peran Penting Sarwo Edhie Wibowo dalam Penumpasan G30S
Pada masa peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965, Sarwo Edhie Wibowo yang saat itu menjabat sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) memainkan peran penting dalam penumpasan gerombolan tersebut. Salah satu faktor yang membantu keberhasilannya adalah bantuan dari seorang prajurit polisi bernama Sukitman.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sukitman merupakan salah satu saksi hidup dari peristiwa mengerikan di Lubang Buaya. Dari pengalamannya sendiri, ia memberikan petunjuk penting yang akhirnya membantu pasukan RPKAD menemukan lokasi penyembunyian para jenderal yang diculik oleh gerakan tersebut. Peran Sukitman ini menjadi salah satu kunci dalam operasi penumpasan yang dilakukan oleh Sarwo Edhie.
Langkah Taktis dan Perintah dari PANGKOSTRAD
Sarwo Edhie pada masa itu masih berpangkat Kolonel. Pangkat ini menurutnya sebagai jenjang terpendek karena setahun kemudian ia naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Saat peristiwa G30S, ia mendapat perintah untuk menyerbu Halim Perdana Kusuma. Perintah ini datang dari PANGKOSTRAD Mayjen Soeharto dan diterima di kantor KOSTRAD, tempat Nasution juga hadir.
Penyerbuan dilakukan tengah malam atau menjelang dini hari agar menghindari korban jiwa. Pasukan dibagi menjadi dua poros: satu dari arah timur dengan 5 tim RPKAD dan 1 kompi panser, serta satu dari arah Cawang dengan batalyon Raider yang diperkuat 22 buah tank. Semua pasukan ini berada di bawah komando Sarwo Edhie.
Kesulitan dalam Operasi di Halim
Saat sampai di daerah Halim, matahari hampir terbit, sehingga pelaksanaan penyerangan menjadi tergesa-gesa. Beberapa panser nyasar masuk lebih dulu ke Halim. Tujuan utama penyerbuan adalah mencari para jenderal yang diculik. Namun setelah Halim berhasil diduduki, nasib para jenderal belum diketahui.
Sarwo Edhie kemudian mendapat informasi bahwa Soeharto diminta menghadap Presiden Sukarno di Bogor. Ia menyusul Soeharto ke Bogor, tetapi tidak berhasil bertemu karena Soeharto belum tiba. Akhirnya, Sarwo Edhie melanjutkan perjalanan ke KOSTRAD. Di sana, ia melaporkan perkembangan kepada Pak Nasution dan Pak Sarbini.
Bantuan dari Polisi Sukitman
Setelah pasukannya berhasil menduduki Halim, Sarwo Edhie menerima kunjungan dari Sukitman, seorang anggota intel Kostrad. Sukitman menceritakan pengalamannya ketika ditahan oleh gerombolan G30S. Setelah berhasil meloloskan diri, ia memberikan informasi bahwa ada seorang pria ditutup matanya, digiring ke samping rumah, dan terdengar rentetan tembakan diiringi sorak sorai. Tempat tersebut adalah Lubang Buaya, dan diduga pria itu adalah salah satu jenderal yang ditangkap.
Berdasarkan informasi ini, pasukan RPKAD menuju Lubang Buaya. Namun, jejak yang dicari mengabur. Areal pohon karet itu tanahnya sudah dipasirkan, sehingga sulit dilacak. Pekerjaan ini dilakukan bersama rakyat sekitar Lubang Buaya.
Pencarian dan Penggalian di Lubang Buaya
Pencarian dimulai dari sore hari. Seorang anggota RPKAD melakukan pencarian dengan bayonet seperti mencari ranjau. Ia merasakan keempukan pada tanah, lalu pencarian dilanjutkan dengan tangan. Pada lapisan-lapisan penggalian ditemukan tali-tali berwarna kuning dan dedaunan hijau.
Pekerjaan dihentikan pada malam hari setelah seorang penduduk yang ikut menggali jatuh pingsan melihat kaki manusia di galiannya. Lokasi tersebut ramai dan Sarwo Edhie langsung melaporkan kejadian itu kepada Soeharto.
Penggalian dan Peringatan atas Kehilangan Pahlawan
Keesokan harinya, Soeharto memimpin penggalian sumur di Lubang Buaya. Sementara itu, Sarwo Edhie meminta izin kepada Soeharto untuk menghadiri sidang Kabinet di Bogor. Pada tanggal 5 Oktober, hari ulang tahun Angkatan Bersenjata RI, Sarwo Edhie menghadiri upacara peringatan sekaligus duka atas kepergian pahlawan revolusi ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.