Kembali Ditutup, Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Belum genap 24 jam setelah dibuka, Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran. Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Guard Corps (IRGC) mengumumkan penutupan kembali jalur air strategis tersebut. Penutupan ini dilakukan setelah sempat dibuka dalam rangka gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Ancaman Iran Terhadap AS
Pada hari Sabtu (18/4/2026) malam waktu setempat, IRGC mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup sampai Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya di kawasan tersebut. Iran menganggap tindakan ini sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Kami memperingatkan bahwa tidak ada kapal jenis apa pun yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman, dan mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran, kata perwakilan IRGC.
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran dan negosiator senior dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran tentang pengakhiran perang, menyatakan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Republik Islam.
Amerika telah menyatakan blokade selama beberapa hari sekarang. Ini adalah keputusan yang ceroboh dan bodoh, tambahnya.
Perubahan Situasi Pasca Pembukaan Sementara
Penegasan kembali kendali tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Iran sempat membuka kembali selat tersebut, sejalan dengan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. Namun, situasi langsung berubah ketika kapal-kapal perang Iran dilaporkan menembaki dua kapal komersial pada hari Sabtu.
Kementerian Luar Negeri India juga mengatakan bahwa dua kapal berbendera India terlibat dalam insiden penembakan di selat tersebut. Beberapa kapal dagang di wilayah tersebut menerima pesan radio dari Angkatan Laut IRGC, yang memperingatkan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati selat tersebut.

Reaksi Trump dan Khamenei
Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran tidak dapat memeras Washington dengan menutup jalur air tersebut. Trump memperingatkan bahwa ia akan mengakhiri gencatan senjata jika kesepakatan sebelum berakhirnya pada hari Rabu tidak tercapai.
Trump menambahkan bahwa blokade angkatan laut akan "tetap berlaku penuh". Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan angkatan laut siap untuk memberikan "kekalahan pahit baru" kepada musuh-musuhnya.
Trump juga menilai sikap Iran masih belum konsisten dalam merespons dinamika hubungan bilateral.
Mereka mencoba bersikap lucu, seperti yang sudah mereka lakukan selama 47 tahun, ujar Trump dilansir dari Al Jazeera.

Dampak Ekonomi dan Politik
Harga minyak turun di pasar global setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada hari Jumat bahwa jalur air tersebut sepenuhnya terbuka untuk semua kapal komersial. Namun, tindakan Iran yang kembali menutup selat tersebut membuat investor khawatir.
Sebelumnya, IRGC menyebutkan bahwa pada hari sebelumnya sejumlah kapal sempat melintasi Selat Hormuz. Lebih dari selusin kapal komersial melewati jalur air tersebut sebelum IRGC membalikkan haluan.
Situasi ini menunjukkan ketidakstabilan politik dan ekonomi di kawasan yang sangat penting bagi perdagangan internasional. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak global, sehingga setiap ancaman atau penutupan bisa memiliki dampak besar.
Perlu diketahui bahwa keberlanjutan gencatan senjata dan stabilitas regional bergantung pada kemampuan negara-negara terkait untuk menjaga dialog dan menghindari konflik yang lebih besar.