Di Depan Presiden Lula, Rosan Ajak Pengusaha Brasil Investasi di RI

admin.aiotrade 24 Okt 2025 3 menit 34x dilihat
Di Depan Presiden Lula, Rosan Ajak Pengusaha Brasil Investasi di RI


Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengajak para pengusaha Brasil untuk menanamkan modal di Indonesia. Ajakan ini disampaikan langsung di hadapan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dalam acara Indonesia-Brasil Business Forum yang digelar di sela kunjungan kenegaraan Lula ke Indonesia, Jakarta, Kamis malam (23/10).

"Kami mengundang mitra-mitra dari Brasil untuk bekerja sama dalam pengembangan mineral kritis, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta berkolaborasi untuk masa depan energi hijau," ujar Rosan dalam sambutannya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Rosan menjelaskan bahwa Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi dengan pertumbuhan sekitar 5 persen per tahun. Namun, pemerintah menargetkan pertumbuhan yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

"Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi yang luar biasa, dengan pertumbuhan sekitar 5% per tahun. Namun, kami tidak berhenti di sini, karena Presiden kami memiliki target ambisius untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029," katanya.

Rosan optimistis kerja sama ekonomi dengan Brasil bakal menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level yang lebih tinggi. Ia meyakini, potensi kolaborasi kedua negara yang besar, terutama melalui peningkatan investasi langsung dari Brasil, dapat mempercepat pencapaian target ekonomi 8 persen tersebut.

Lebih lanjut, sektor industri hilir menjadi pilar penting dalam struktur ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 30,1 persen terhadap total investasi di Indonesia.

"Sektor industri hilir juga terus menarik banyak investasi di Indonesia, berkontribusi sekitar 30,1% dari total investasi nasional. Indonesia memiliki sejumlah sektor unggulan yang sangat sejalan dengan kekuatan industri Brasil," tutur Rosan.

Selain sektor hilirisasi, Rosan menyoroti potensi besar Indonesia dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang mencapai 3.700 gigawatt dari berbagai sumber, seperti tenaga surya, angin, air, pasang surut, dan panas bumi. Namun, pemanfaatannya masih jauh dari optimal.

"Namun, kapasitas terpasang saat ini baru mencapai 15,2 gigawatt, atau kurang dari 1% dari total potensinya," cakap Rosan.

Rosan menyebut keberhasilan Brasil dalam sektor energi hijau menjadi inspirasi besar bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi. Tak hanya di bidang energi, Rosan juga menilai kerja sama dengan Brasil penting untuk memperkuat sektor pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan.

"Di bidang pertanian berkelanjutan dan sumber daya pangan, Indonesia ingin belajar dari teknologi pertanian maju milik Brasil. Keahlian Brasil dalam agribisnis skala besar dan berteknologi tinggi sangat penting bagi modernisasi sektor pertanian Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut kemitraan ekonomi kedua negara kini semakin konkret melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kadin dan Apex Brasil, lembaga promosi bisnis dan investasi Brasil.

"Kami diberi kesempatan untuk MOU dengan Apex Brazil, itu semacam agensi bisnis atau investasi Brazil. Tujuannya untuk meningkatkan promosi, meningkatkan akselerasi investasi dan juga perdagangan tanpa juga melupakan aspek daripada keberlanjutan, inklusivitas, dan juga inovasi," jelas ia.

Menurutnya, kerja sama ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi selatan-selatan, termasuk dalam kerangka BRICS.

"Kenapa? Kita mesti berpikir bahwa kolaborasi dari selatan-selatan misalnya di dalam BRICS ini dengan kemarin kan dengan S-nya yaitu South Africa sekarang dengan B-nya Brazil, ini sangat penting," kata Anin.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan