Dibalik Kritik, David Terus Kembangkan Bisnis 'Gue Temenin Jalan'

admin.aiotrade 01 Okt 2025 3 menit 11x dilihat
Dibalik Kritik, David Terus Kembangkan Bisnis 'Gue Temenin Jalan'

Ide Baru yang Menghadapi Pro dan Kontra

Setiap inovasi baru sering kali tidak langsung diterima dengan baik. Hal ini juga dialami oleh Johanes David Gratias Pero (32), pendiri jasa "Gue Temenin Jalan". Sejak layanan ini diluncurkan, ia mendapat berbagai respons, mulai dari dukungan penuh hingga komentar sinis yang meragukan. Namun, bagi David, perjalanan ini adalah bagian dari tantangan yang harus dihadapi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Viral di Threads dan Respons yang Beragam

David menceritakan bahwa ide jasanya pertama kali ramai dibicarakan setelah ia mengunggah informasi tentang "Gue Temenin Jalan" di Threads. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut mendapatkan perhatian yang cukup besar.

“Jasa ini bermula dari unggahan Threads aku yang hampir tembus seribu dan banyak banget yang komentar. Tidak dipungkiri, memang banyak komen negatif maupun positif,” ujarnya saat diwawancarai di Blok M, Jakarta Selatan.

Banyak warganet menyambut positif jasa ini. Mereka menilai bahwa layanan ini bisa membantu orang-orang yang merasa kesepian atau butuh teman untuk mendampingi aktivitas sederhana.

“Yang positif bilang kalau jasa ini membantu untuk mereka yang enggak punya banyak teman,” katanya.

Komentar Negatif yang Muncul

Di sisi lain, beberapa warganet mempertanyakan gagasan tersebut. Beberapa komentar negatif bahkan menyinggung soal keaslian hubungan pertemanan jika harus dibayar.

“Tapi ada juga yang negatif berpendapat bahwa kenapa berteman saja harus bayar atau mengarah ke hal negatif lainnya, seperti laki-laki bayaran,” jelas David.

Ia mengakui bahwa komentar-komentar itu cukup membuatnya berpikir. Namun, menurutnya, setiap orang punya cara masing-masing untuk memenuhi kebutuhannya.

“Tapi kembali lagi, ini semua tergantung pada kebutuhan masing-masing orang dan aku tidak memaksa harus pakai jasa ini,” tambahnya.

Fokus Pada Tujuan Positif

David tak ingin larut dalam komentar negatif. Baginya, inti dari jasa ini tetap sama, yaitu menemani orang yang membutuhkan.

“Tidak masalah kalau beberapa orang menganggapnya negatif, tapi memang tujuan dari jasa ini membantu mereka yang membutuhkan teman untuk sekadar curhat atau aktivitas lainnya,” katanya.

Ia pun menegaskan, jasanya dijalankan secara profesional dan sebatas menemani aktivitas positif, mulai dari nongkrong, kondangan, hingga sekadar menjadi pendengar.

Dukungan yang Banyak Datang

Meski sempat dihujani kritik, David merasa lebih banyak dukungan yang datang dibanding komentar miring. Ia bersyukur karena sebagian besar respons masyarakat justru menyemangatinya untuk terus mengembangkan jasa ini.

“Sejauh ini di Threads komentar negatifnya hanya sedikit sih, banyak yang positif dan mendukung,” ujar dia.

Bahkan, ada yang langsung tertarik untuk meminta lowongan pekerjaan dan ikut bergabung.

“Banyak yang minta lowongan kerja untuk join, tapi aku juga belum berani soal itu,” tambahnya.

Menghadapi Pro-Kontra dengan Sikap Terbuka

Dengan sikap terbuka dan profesional, David percaya bahwa jasanya punya manfaat nyata, terlebih bagi mereka yang membutuhkan teman jalan dalam suasana tertentu. Ia yakin bisa mengubah pandangan negatif menjadi pemahaman bahwa jasanya bukan sekadar “teman berbayar”, melainkan sebuah layanan sosial dengan pendekatan yang lebih personal.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan