
Perubahan Kepemilikan Saham Direktur BCA
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melaporkan perubahan kepemilikan saham dari salah satu direktur perseroan. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen menyebutkan bahwa Direktur BCA, Santoso, melakukan pembelian saham BBCA sebanyak 100.000 lembar pada 3 Oktober 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sebelum transaksi tersebut, jumlah dan porsi kepemilikan saham Santoso tercatat sebanyak 3,169 juta saham atau 0,003%. Setelah transaksi, jumlah kepemilikan sahamnya menjadi 3.269.028 lembar atau tetap sebesar 0,003%.
Tujuan dari pembelian saham ini disebutkan sebagai investasi dengan klasifikasi saham biasa. Harga pembelian dalam transaksi tersebut senilai Rp7.500 per saham. Pada tanggal transaksi, saham BBCA ditutup pada level Rp7.525 per saham atau melemah sebesar 3,22%. Sementara itu, pada perdagangan hari ini, saham BBCA masih dalam tren pelemahan dengan penurunan sebesar 3,54% ke level Rp7.500 per saham.
Prospek Saham BCA
Kiwoom Sekuritas Indonesia sebelumnya merekomendasikan buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp9.000 per saham. VP of Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memandang kinerja keuangan empat bank besar pada kuartal III/2025 cenderung beragam, dengan outperform pada saham BBCA.
Peningkatan rasio NIM menjadi 5,71% dan laba bersih tumbuh 9% YoY menjadi Rp39,1 triliun pada Agustus 2025 menjadi dasar pertimbangan Audi. Ia melihat peluang pertumbuhan laba bersih akan cenderung konservatif dengan BBCA yang akan mencatatkan pertumbuhan positif, sementara NIM akan lebih stabil dengan target ~5,6%-5,7% YoY.
Untuk BBRI dan BMRI, NIM akan turun tipis, sedangkan BBNI akan cenderung tertekan ~5,1%-5,2% YoY. Audi menilai BBCA memiliki ruang bertumbuh seiring dengan likuiditas relatif longgar sehingga dapat menjaga fokus pada margin dan fee.
Kinerja BCA Semester I/2025
Sebelumnya, BCA dan entitas anak mengumumkan raihan laba bersih konsolidasi senilai Rp29 triliun pada semester I/2025. Laba tersebut tumbuh 8% secara tahunan (year on year/YoY). Pada semester I tahun lalu, bank swasta terbesar di Indonesia itu membukukan laba bersih senilai Rp26,9 triliun.
"Kredit tumbuh 12,9% YoY menjadi Rp959 triliun per Juni 2025 didukung pertumbuhan penyaluran di berbagai segmen dan terjaganya kondisi likuiditas perseroan," ujar Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, dalam konferensi pers kinerja keuangan pada Rabu (30/7/2025).
Secara rinci, kredit korporasi BCA tumbuh 16,1% YoY mencapai Rp451,8 triliun per Juni 2025. Kredit komersial naik 12,6% YoY menjadi Rp143,6 triliun, dan kredit UKM meningkat 11,1% YoY hingga Rp127 triliun.
Ditopang pertumbuhan KPR sebesar 8,4% menjadi Rp137,6 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) 5,2% mencapai Rp65,4 triliun, total pertumbuhan kredit konsumer mencapai 7,6% YoY hingga Rp226,4 triliun.
Rasio Kredit Bermasalah
Sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit, rasio loan at risk (LAR) BCA terjaga pada level 5,7% sepanjang semester I/2025, membaik dari 6,4% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) terkelola pada level 2,2%. Pencadangan NPL dan LAR memadai, masing-masing 167,2% dan 68,7%.
Selain itu, BBCA membukukan pertumbuhan himpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 5,7% YoY menjadi Rp1.190 triliun per Juni 2025. Jenis simpanan giro dan tabungan atau dana murah berkontribusi sebesar 82,5% dari total simpanan perseroan. Dana murah perseroan tersebut tumbuh 7,3% YoY mencapai Rp982 triliun.
Pendapatan Operasional
Kinerja laba BCA juga didukung oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh sebesar 7% menjadi Rp42,5 triliun pada semester I/2025. "Pada saat yang sama, pendapatan selain bunga naik 10,6% YoY menjadi Rp13,7 triliun. Total pendapatan operasional Rp56,2 triliun, naik 7,8% YoY. Rasio cost to income [CIR] sebesar 29,1%, turun dari 30,5% pada tahun sebelumnya," ujar Hendra.