Direktur Sreeya Sewu (SPID) Natanael Yuyun Suryadi Percaya Investasi Jangka Panjang

admin.aiotrade 15 Nov 2025 4 menit 28x dilihat
Direktur Sreeya Sewu (SPID) Natanael Yuyun Suryadi Percaya Investasi Jangka Panjang

Perjalanan Investasi yang Penuh Pelajaran

Natanael Yuyun Suryadi, Direktur PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk (SPID), memiliki kisah perjalanan investasi yang menarik. Awalnya, ia tidak mulai dengan modal besar, melainkan dari penghasilan kerja paruh waktu dan beasiswa saat masih kuliah. Dari sini, ia membangun dasar pengetahuan tentang portofolio analisis investasi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Mulai Berinvestasi

Sejak masa kuliah, Natanael sudah mengenal teori investasi. Namun, dorongan utama untuk mulai berinvestasi datang dari kakaknya yang lebih dulu terjun ke reksadana. Ia memilih instrumen reksadana campuran sebagai awal. Pada tahun 2003–2004, ia mulai membelinya. Hasilnya cukup menjanjikan, dengan return sekitar 15% hingga 20% per tahun.

"Ketika itu saya terus menabung sedikit-sedikit," ujarnya.

Memasuki Dunia Saham

Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja pada tahun 2025, Natanael mulai mengembangkan portofolionya ke reksadana saham. Tahun 2006–2007 menjadi titik awal ia masuk ke dunia saham. Saat itu, pasar sedang dalam kondisi bullish dan banyak rekan kerjanya aktif berinvestasi. Ia ikut masuk, tetapi gaya investasinya masih spekulatif dan mengikuti euforia pasar.

Namun, pelajaran mahal datang ketika krisis keuangan global pada 2008 membuat nilai portofolionya anjlok hingga 60%. Setelah itu, ia memilih berhenti bertransaksi dan membiarkan portofolionya tanpa perubahan.

Fase Kembali Ke Properti

Pada tahun 2010, saat melanjutkan studi magister, Natanael menghentikan aktivitas investasinya demi fokus pada pendidikan. Setelah kembali ke Indonesia dan memasuki fase awal bekerja, ia menilai instrumen saham belum cocok untuknya karena pengalaman pahit sebelumnya.

Ia kemudian melirik sektor properti yang sedang booming pada tahun 2013–2014. Ia membeli unit apartemen dengan skema cicilan bertahap langsung ke developer. Keputusan ini membutuhkan komitmen besar, dengan 60% penghasilannya dialokasikan untuk mencicil properti.

"Saya enggak bisa mengandalkan orang tua. Itu yang membuat saya harus benar-benar bisa berpikir mengoptimalkan penghasilan yang saya dapat," ujarnya.

Menghadapi Krisis Pandemi

Saat pandemi Covid-19 melanda, harga properti turun tajam. Alih-alih panic selling, Natanael melihat ini sebagai kesempatan membeli lebih banyak properti dengan harga murah. Ia kembali memperbesar porsi investasi propertinya. Namun setelah ekonomi pulih, ia menyadari harga properti sudah tidak lagi semurah sebelumnya. Dari sini, ia memutuskan mencoba peluang kembali ke pasar saham.

Mengadopsi Value Investing

Berbekal pengalaman pahit tahun 2008, Natanael kembali ke saham dengan pendekatan berbeda. Ia mengadopsi strategi value investing sebagai pondasi utama, yakni sekitar 80% dari portofolio sahamnya. Fokusnya pada emiten-emiten dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan potensi jangka panjang. Sektor favoritnya adalah perbankan karena dinilai paling mudah diprediksi.

Sisanya, sekitar 20% portofolio sahamnya dialokasikan untuk aktivitas trading. Namun ia tetap selektif, hanya bermain di saham-saham blue chip dan beberapa saham yang prospektif.

Strategi Investasi yang Moderat

Natanael mengaku bukan tipe investor yang agresif. Ia memposisikan dirinya sebagai investor moderat. Strategi investasinya berfokus pada penempatan dana di aset yang tidak memberikan keuntungan cepat dari aktivitas trading, tetapi mampu menghasilkan dividen stabil serta capital gain dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, ia nyaman memegang saham-saham perbankan tanpa tekanan untuk segera menjual, sebab dividen yang diterima sudah memberikan hasil yang bisa dinikmati.

Komposisi Portofolio Investasi Saat Ini

Saat ini, Natanael membagi portofolio investasinya dengan komposisi 50% pada sektor properti, 20% pada saham, 20% pada reksadana, dan 10% sisanya dalam bentuk cash serta logam mulia.

Porsi terbesar masih ditempatkan di properti. Menurutnya, keputusan mempertahankan alokasi besar di instrumen itu sangat dipengaruhi kondisi pasar saat ini. Sebagian aset properti miliknya berbentuk apartemen. Karena harga apartemen masih turun signifikan, ia memilih tidak merealisasikan kerugian.

"Kalau saya melepas properti sekarang, itu berarti harus siap menjual dengan harga di bawah," ujarnya.

Keyakinan pada Sektor Properti

Meski begitu, ia tetap yakin sektor properti akan bangkit kembali. Pemulihannya mungkin tidak terjadi dalam waktu dekat. Ia percaya ketika ekonomi Indonesia menguat, kinerja sektor properti pun akan mengikuti.

Dari rangkaian perjalanan investasinya, salah satu pencapaian yang paling ia syukuri ialah bisa membantu orang tuanya membeli rumah menggunakan hasil investasinya.

"Bukan saya minta orang tua membelikan rumah, tapi saya bantu orang tua untuk beli rumah dari hasil investasi saya," paparnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan