
Kinerja Ekonomi Indonesia yang Mengesankan
Ekonom global Shan Saeed menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 5,0% hingga 5,8%. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu ekonomi dengan kinerja terbaik di Asia. Pertumbuhan tersebut didukung oleh doktrin stabilitas makroekonomi yang diterapkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Stabilitas Makroekonomi dan Disiplin Fiskal
Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi adalah disiplin fiskal. Pemerintah berhasil menjaga defisit anggaran di sekitar 2,7% terhadap PDB, sementara rasio utang publik tetap dipertahankan di bawah 40%. Ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan tata kelola makro yang stabil, meskipun banyak negara lain mengalami penurunan posisi fiskal.
Menurut Saeed, pemerintah fokus pada tiga variabel utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi: tanggung jawab fiskal, kredibilitas pertumbuhan jangka panjang, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Kontrol Inflasi dan Stabilitas Harga
Inflasi tetap terjaga dalam batas yang wajar. Proyeksi inflasi inti berada dalam rentang 2,5% hingga 3,2%, mencerminkan kebijakan moneter yang terukur dari Bank Indonesia dan normalisasi rantai pasok. Stabilitas harga ini memberikan visibilitas yang baik bagi pelaku usaha, rumah tangga, dan investor.
Rupiah Sebagai Jangkar Kepercayaan
Rupiah menjadi simbol kepercayaan baru di tengah volatilitas global. Nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp15.200 hingga Rp16.000 per dolar AS. Stabilitas nilai tukar ini mencerminkan perbaikan neraca transaksi berjalan, manajemen devisa yang disiplin, serta penerimaan komoditas yang terdiversifikasi.
"Di tengah volatilitas global, rupiah muncul sebagai salah satu mata uang paling stabil di kawasan," ujar Saeed.
Penanaman Modal Asing yang Meningkat
Penanaman Modal Asing (PMA/FDI) terus menunjukkan percepatan. Dalam tahun 2025, FDI diperkirakan mencapai USD 52–57 miliar. Perkembangan ini didukung oleh komitmen besar pada hilirisasi mineral, baterai kendaraan listrik, petrokimia, pusat data, hingga manufaktur berat.
Sektor manufaktur menyumbang 38%–42% dari total FDI, menandai pergeseran struktural Indonesia menuju industri bernilai tambah tinggi.
Manufaktur sebagai Mesin Utama Pertumbuhan
Manufaktur tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi. Output industri tumbuh antara 4,5% hingga 5,5%, didorong oleh lonjakan impor barang modal, pembangunan kawasan industri baru, serta diversifikasi rantai pasok dari Asia Timur.
Hilirisasi nikel, tembaga, dan bauksit memperkuat ekspor bernilai tambah, sekaligus meletakkan dasar industrialisasi jangka panjang.
Dukungan dari Pasar Saham dan Cadangan Devisa
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendapatkan dukungan dari arus masuk investor asing. Hal ini ditopang oleh kinerja emiten yang solid dan likuiditas domestik yang tangguh. Cadangan devisa tetap tinggi, yaitu sebesar USD 140–145 miliar, memberikan bantalan kuat terhadap risiko eksternal.
Kepercayaan Investor yang Terus Meningkat
Yang paling menentukan, kata Saeed, adalah kepercayaan investor yang terus meningkat. Kombinasi stabilitas rupiah, disiplin makro, kapasitas manufaktur yang berkembang, serta rezim investasi yang kredibel membuat Indonesia menjadi standout performer di Asia Tenggara.
"Doktrin Stabilitas Makro Prabowo bukan sekadar slogan. Ini adalah arsitektur strategis yang mulai membentuk lintasan baru ekonomi Indonesia—memperkuat fundamental, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memposisikan Indonesia sebagai kekuatan industri baru di Asia. “Indonesia First” menjadi tema kunci kepemimpinan ekonomi Presiden Prabowo," pungkasnya.