Dividen BBRI dan BMRI Mengalir, Saham Bank Besar Masih Menarik?

admin.aiotrade 21 Des 2025 4 menit 12x dilihat
Dividen BBRI dan BMRI Mengalir, Saham Bank Besar Masih Menarik?


aiotrade.CO.ID-JAKARTA.

Beberapa bank milik pemerintah telah mengumumkan pembagian dividen kepada pemegang saham, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Mandiri (BMRI). Pembagian dividen ini menjadi salah satu indikator kinerja keuangan perusahaan yang menunjukkan stabilitas dan pertumbuhan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dividen Interim BRI

Berdasarkan informasi yang diperoleh, BRI akan membagikan dividen interim sebesar Rp 137 per saham. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 135 per saham. Dengan total saham beredar yang cukup besar, jumlah total dividen interim yang dibagikan bisa mencapai Rp 20,63 triliun. Pada tahun sebelumnya, BRI membagikan dividen interim senilai Rp 20,3 triliun.

Meski harga saham BBRI dalam tren melemah, pembagian dividen ini tetap dilakukan. Pada perdagangan Jumat, 19 Desember 2025, harga saham BBRI ditutup pada level 3.770, turun 10 poin atau 0,26% dari hari sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, harga saham BBRI terakumulasi turun 5,51%. Sedangkan sejak awal tahun hingga saat ini (ytd), harga saham BBRI melemah 7,60%.

Pada 17 Desember 2025, harga saham BBRI berada di level Rp 3.75. Dengan harga tersebut, rasio dividen saham BBRI sekitar 3,7%.

Dividen Interim BMRI

Sementara itu, BMRI memutuskan untuk membagikan dividen interim sebesar Rp 100 per saham, dengan total nilai sekitar Rp 9,3 triliun. Jumlah ini didasarkan pada jumlah saham beredar sebanyak 93,33 miliar lembar saham serta memperhatikan jumlah saham treasury perseroan atas realisasi pelaksanaan pembelian kembali.

Jika mengacu pada harga penutupan Jumat (19/12/2025), yield dari dividen interim tersebut sekitar 1,9%. Harga saham BMRI ditutup di Rp 5.175 per saham, naik 0,49% dari hari sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, harga saham BMRI juga terlihat naik 4,76%.

Langkah pembagian dividen interim ini dinilai dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham BMRI, sekaligus memperkuat daya tarik saham perbankan pelat merah di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Analisis dari Ahli

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menyatakan bahwa dividen ini cocok bagi investor yang prioritaskan pada dividen. Hal ini akan menciptakan permintaan yang lebih tinggi. Menurut Nafan, saham perbankan besar nasional masih menawarkan prospek menarik karena didukung oleh fundamental yang solid, likuiditas sehat, serta potensi imbal hasil dividen yang kompetitif.

Untuk BBRI, Nafan menilai model bisnis bank yang mengombinasikan skala besar, fokus pada segmen UMKM, serta jaringan distribusi yang luas menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang. Struktur tersebut memberikan basis kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang besar sekaligus terdiversifikasi.

Dari sisi imbal hasil, BBRI juga dinilai menarik bagi investor berorientasi pendapatan, dengan dividend yield mencapai sekitar 5,76%. Berdasarkan valuasi dan prospek tersebut, Nafan merekomendasikan harga saham BRI dengan target di level Rp 4.540.

Kinerja BMRI

Sementara itu, untuk BMRI, Nafan menyoroti kekuatan kinerja keuangan, skala aset yang besar, serta likuiditas yang solid. Hingga kuartal III-2025, rasio CASA BMRI tercatat sebesar 69,3%, mencerminkan struktur pendanaan berbiaya rendah. Adapun Loan-to-Deposit Ratio (LDR) berada di kisaran 91%, yang menunjukkan kondisi likuiditas dan pendanaan relatif sehat.

Kualitas aset BMRI juga dinilai terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terkendali, sehingga risiko pemburukan kualitas kredit ke depan relatif lebih rendah. Dari sisi eksternal, dukungan kondisi makroekonomi nasional serta program pemerintah termasuk pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, dan pengembangan sektor energi diperkirakan akan mendorong peningkatan kebutuhan pembiayaan berskala besar.

Prospek Perbankan 2026

Dalam risetnya, Analis CGS Sekuritas Adrian Alamsyah Saputra memperkirakan, prospek kinerja fundamental sektor bank jumbo akan membaik pada 2026. Menurutnya, pemulihan akan mulai terlihat sejak kuartal keempat tahun ini, seiring menguatnya pertumbuhan kredit.

Adrian juga memproyeksikan pertumbuhan kredit bank-bank besar mencapai sekitar 9% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan tahun 2025. Dari sisi biaya dana atau cost of funds, kondisi tersebut juga dinilai membaik berkat penempatan dan injeksi likuiditas pemerintah ke bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara, serta tren suku bunga acuan yang cenderung melandai.

CGS Sekuritas pun merekomendasikan saham BMRI dan BBCA. Keduanya dinilai memiliki eksposur kuat di segmen wholesale yang diuntungkan oleh membaiknya sentimen bisnis, sekaligus berpeluang menjadi penerima manfaat utama dari potensi masuknya dana asing.

CGS Sekuritas memberikan rekomendasi add atau beli untuk saham-saham big banks. Target harga yang dipatok masing-masing adalah BBCA di Rp 10.700, BMRI Rp 5.600, BBRI Rp 4.900, dan BBNI Rp 5.300.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan