
SEMARANG, aiotrade.app–
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah terus berupaya meningkatkan produktivitas sektor perikanan dan garam rakyat melalui penguatan koperasi serta pengembangan kawasan tematik yang berbasis ekonomi kerakyatan. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa potensi ekonomi besar ini dikelola oleh masyarakat setempat, bukan oleh investor asing atau perusahaan swasta.
Kepala DKP Jateng, Endi Faiz Effendi, menyatakan bahwa Jawa Tengah perlu lebih hati-hati dalam membuka investasi di sektor garam. Menurutnya, sebaiknya potensi ini dikelola terlebih dahulu oleh koperasi dan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) dengan memaksimalkan sumber daya yang ada di Jawa Tengah sendiri. Ia khawatir jika nanti dikelola oleh swasta, masyarakat tidak akan mampu bersaing.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Jawa Tengah kalau bisa jangan buru-buru membuka investasi sektor garam. Kita kerjakan saja dulu oleh koperasi dan BUMD dengan mengoptimalkan potensi kita sendiri. Nanti kalau sudah dikasih swasta, khawatirnya malah kita nanti enggak mampu bersaing,” ujar Endi saat dikonfirmasi, Rabu (8/10/2025).
Menurutnya, produksi garam hanya membutuhkan air asin dari laut dan alat geo membrane dari plastic LDPE senilai Rp 11 juta untuk produksi garam seluas satu hektare. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah pengolahan pascapanen garam, khususnya alat pencuci garam (washing plant) yang masih langka karena harganya sangat mahal dan keterbatasan pembiayaan.
“Selama ini pembiayaannya melalui APBD provinsi maupun kabupaten/kota. Karena DAK tidak cair dan tahun depan kemungkinan juga tidak ada, maka kami harap ada channeling lain, bisa kredit lunak atau bantuan pemerintah pusat,” kata Endi.
Washing plant dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas garam agar sesuai standar industri dengan kadar NaCl di atas 97 persen. Garam dicuci tiga kali agar bersih dan sesuai kebutuhan industri. Untuk konsumsi, garam diinjeksi dengan yodium, tetapi untuk industri tidak perlu.
Saat ini, di Jawa Tengah baru beberapa koperasi yang memiliki fasilitas washing plant, antara lain:
- Koperasi Mutiara Laut Mandiri di Pati dengan kapasitas 6.000 ton per tahun.
- Koperasi Tani Sari Makmur di Kalirembang dengan kapasitas 7.500 ton per tahun.
Namun, kebutuhan garam Jawa Tengah mencapai sekitar 119.000 ton per tahun, terdiri dari 90.000 ton untuk industri dan 33.000 ton untuk konsumsi, dengan pemenuhan baru di bawah 50 persen.
Melihat besarnya potensi produksi garam di Jateng, DKP menegaskan bahwa pengelolaan washing plant harus berbasis koperasi agar manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
“Jangan sampai washing plant itu dimiliki oleh orang yang punya uang saja. Tapi dikelola koperasi agar keuntungan dirasakan rakyat,” tegas Endi.
Dengan skema ini, petani garam diharapkan tidak lagi menjual garam mentah bernilai rendah, tetapi bisa memperoleh nilai tambah dari hasil olahan. Intinya adalah ekonomi kerakyatan. Koperasi bisa membawahi kelompok dan desa agar hasilnya lebih berdaya saing.