Pemerintah Berencana Mengganti LPG dengan DME
Pemerintah saat ini sedang mempertimbangkan rencana untuk mengganti liquefied petroleum gas (LPG) dengan dimethyl ether (DME) yang berasal dari batu bara. Senior Director Oil, Gas, Petrochemical Danantara Wiko Migantoro menjelaskan bahwa pembahasan yang sedang berlangsung mencakup kemungkinan konversi penuh atau skema bertahap, mulai dari campuran 20 persen, 40 persen hingga 50 persen DME pada LPG.
"Kami sedang berdiskusi apakah LPG bisa digantikan secara penuh dengan DME atau kita bertahap," ujarnya dalam acara Rembuk Energi dan Hilirisasi 2025 di Pos Bloc, Jakarta, Rabu (10/12/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Harga DME Masih Perlu Dikaji
Salah satu tantangan utama dalam penggunaan DME adalah harga yang masih perlu dibereskan agar sesuai dengan pasar. Pemerintah menilai bahwa tanpa kebijakan khusus, harga DME diperkirakan lebih mahal dibandingkan LPG.
"Tanpa intervensi pemerintah diperkirakan harga DME ini sedikit lebih mahal bila dibandingkan dengan LPG yang ujung-ujungnya akan menambah subsidi yang harus diberikan oleh pemerintah," jelasnya.

Mind ID dan Pertamina Siap Bekerja Sama
Holding BUMN Tambang, Mind ID disiapkan sebagai pemasok batu bara untuk produksi DME. Perusahaan ini juga tengah diarahkan untuk membangun fasilitas pengolahan DME. Sementara itu, penyalurannya akan dilakukan melalui Pertamina.
"Pertamina juga siap untuk partisipasi, dan tentu saja sebagai marketing distribution-nya ada Pertamina yang saat ini sudah memiliki distribution channel SPBU sekitar 7.000 dengan retail-nya sampai 15.000," kata Wiko.

Meningkatkan Kemandirian Energi
Wiko menjelaskan bahwa konsumsi LPG nasional mencapai 8 juta metrik ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 6 juta metrik ton masih dipenuhi melalui impor. Untuk itu, pemerintah mendorong percepatan hilirisasi energi.
"Mudah-mudahan dengan upaya yang kita lakukan dengan niat baik ini, kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor dengan memaksimalkan sumber-sumber domestik," paparnya.
Peluang Investasi dari China dan Eropa-Korea
Selain itu, pemerintah juga mengeksplorasi peluang investasi dari negara-negara seperti China serta Eropa dan Korea. Proyek pengganti LPG ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional dan meningkatkan kemandirian energi.
