Dolar melemah setelah Fed turunkan suku bunga, ini penjelasan analis

admin.aiotrade 11 Des 2025 2 menit 13x dilihat
Dolar melemah setelah Fed turunkan suku bunga, ini penjelasan analis

Indeks Dolar Anjlok, Rupiah Menguat di Pasar Spot

Indeks dolar mengalami penurunan signifikan dan berada pada level 98,543, yang merupakan angka terendah sejak 21 Oktober 2025. Penurunan ini terjadi setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Pelemahan indeks dolar mencerminkan kelemahan mata uang dolar AS, sehingga membuat mata uang lain menjadi lebih kuat.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Di pasar spot, rupiah dibuka dengan kenaikan pada awal perdagangan hari ini, Kamis (11/12/2025). Nilai tukar rupiah berada pada level Rp 16.675 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,08% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.688 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan tren penguatan mata uang di Asia.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada tahun 2026 telah turun menjadi sekali, dari proyeksi sebelumnya yang mencapai dua hingga tiga kali. Meski demikian, investor masih memiliki harapan terhadap potensi pemangkasan suku bunga yang lebih besar tahun depan jika pejabat The Fed, termasuk kepala The Fed, akan diisi oleh orang-orang yang dipilih oleh Trump.

Lukman juga menambahkan bahwa tekanan terhadap rupiah dapat berkurang jika pelemahan dolar AS terus berlanjut. Namun, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas karena pasar juga sedang memperhatikan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI), yang bisa menekan daya tarik rupiah.

Mata Uang Utama dan Kondisi Pasar

Mata uang utama seperti euro (EUR) menjadi sorotan berkat peluang kenaikan suku bunga, meskipun belum ada kepastian. Franc Swiss (CHF) juga menunjukkan kekuatan, tetapi saat ini sudah berada dekat level tertingginya terhadap dolar AS sejak 2011. Potensi kenaikannya terbatas, kecuali jika ada sentimen risk-off terkait geopolitik, perang, atau risiko pecahnya gelembung teknologi tahun depan.

Sementara itu, Poundsterling (GBP) sempat menguat setelah pemerintah Inggris mengumumkan anggaran baru. Namun, Lukman menilai bahwa fundamental ekonomi Inggris masih rapuh.

Di sisi lain, yen Jepang (JPY) masih bergerak fluktuatif di tengah tarik ulur antara sikap dovish pemerintah dan Bank of Japan (BoJ) yang cenderung hawkish. Adapun dolar Australia (AUD) belum terlihat kuat, meskipun inflasi masih tinggi dan Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan sikap hawkish.

Rilis data ketenagakerjaan terbaru yang lemah juga menambah tekanan pada AUD. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pasar valuta asing tetap dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi serta kebijakan moneter dari berbagai negara.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan