Ancaman Kekerasan Politik di Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menjadi target berbagai ancaman kekerasan sepanjang masa jabatannya. Dalam konteks polarisasi politik yang semakin dalam di negara ini, pernyataan dan tindakan Trump sering kali memicu reaksi keras dari kelompok-kelompok ekstrem.
Insiden Penembakan pada 14 Juli 2024
Pada 14 Juli 2024, saat sedang berbicara kepada massa di Butler County, Trump mengalami penembakan. Beberapa suara tembakan terdengar sekitar pukul 18.15 waktu setempat. Ia jatuh, sementara agen Dinas Rahasia AS bergegas ke panggung untuk melindunginya. Setelah beberapa menit, ia dibantu berdiri oleh para agen dan dibawa ke luar panggung menuju iring-iringan mobilnya, dengan darah terlihat di telinga kanannya dan berlumuran di wajahnya.
Dinas Rahasia menembak dan membunuh tersangka dalam beberapa detik setelah tembakan. Sebelum dibawa pergi, dia tampak mengepalkan tinjunya dan berteriak Lawan! menuju kerumunan. FBI kemudian menyebut pria bersenjata itu sebagai Thomas Matthew Crooks, 20 tahun, dari Bethel Park, Pennsylvania.
Insiden Penembakan di West Palm Springs
Pada 15 September 2024, Trump sedang berada di resor West Palm Springs di Florida ketika terjadi juga insiden penembakan sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Menurut laporan media lokal, Trump sedang bergerak antara hole lima dan enam di lapangan golfnya bersama temannya yang sekarang menjadi utusan Steve Witkoff ketika terdengar suara tembakan.
Lapangan golf dengan cepat ditutup. Para pejabat mengatakan seorang agen Dinas Rahasia melihat sebuah laras senapan di semak-semak dekat tepi lapangan. Beberapa petugas menembakkan setidaknya empat peluru ke arahnya.

Papan dukungan terhadap Presiden Donald J. Trump terpasang disalah satu rumah di Satilla Shores yang merupakan tempat pelari Ahmaud Arbery di tembak dan dibunuh di Brunswick, Georgia, AS, Kamis (7/5). Pelari Ahmaud Arbery tewas setelah ditembak ketika sedang jogging di Brunswick pada 23 Februari 2020. - (EPA-EFE/ERIK S. LESSER)
Tersangka diidentifikasi sebagai Ryan Wesley Routh, 58 tahun. Jaksa mengatakan Routh telah tinggal di Florida Selatan selama sekitar satu bulan, dan catatan telepon seluler menunjukkan dia berada di sekitar lapangan golf dan kawasan Mar-a-Lago milik Trump. Pada bulan Februari, Routh dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah dinyatakan bersalah berencana membunuh Trump.
Insiden di Turnamen Golf Ryder Cup
Pada September 2025, Melvin Eng, seorang petugas di Departemen Kepolisian New York (NYPD), muncul di turnamen golf Ryder Cup di Bethpage Black Course di New York, bersenjata dan perlengkapan taktis lengkap. Ia berpura-pura menjadi bagian dari pasukan keamanan Trump, media AS melaporkan.
Belakangan diketahui bahwa Eng mengambil cuti sakit, tidak mendapat tugas resmi untuk menjadi bagian dari presiden, dan tidak diberi peran dalam acara tersebut. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan Eng diberhentikan sementara menunggu penyelidikan lebih lanjut oleh NYPD.
Insiden di Mar-a-Lago
Sementara pada Februari 2026 seorang pria yang membawa kaleng gas dan senapan ditembak mati oleh agen Dinas Rahasia setelah menabrakkan kendaraannya ke dalam batas keamanan resor Trump Mar-a-Lago di Florida. Presiden berada di Washington pada saat itu.
Polisi mengidentifikasi penyerang sebagai Austin Tucker Martin yang berusia 21 tahun dari North Carolina. Keluarganya telah melaporkan dia hilang dan tidak jelas apa motifnya.
Insiden Terbaru di White House Correspondents' Dinner
Insiden terbaru terjadi pada Sabtu, 25 April 2026, di mana Presiden Donald Trump menjadi target upaya penembakan saat menghadiri acara White House Correspondents' Dinner di Hotel Washington Hilton, Washington DC. Satu orang agen Secret Service tertembak dari jarak dekat saat mencoba menghentikan pelaku, namun Trump dilaporkan selamat tanpa luka.
Pelaku diketahui bernama Cole Tomas Allen (31 tahun) asal Torrance, California. Pelaku diketahui membawa beberapa senjata dan mengenakan rompi antipeluru. Ia diduga menginap di hotel tersebut untuk memudahkan akses ke lokasi acara.
Analisis oleh James Piazza
James Piazza, pakar kekerasan politik di Penn State, menganalisis di the Conversation tentang apa bahwa peristiwa 25 April menggarisbawahi betapa berbahayanya momen politik di Amerika Serikat. Selama beberapa tahun terakhir utamanya sejak 6 Januari 2021 AS telah mengalami periode peningkatan kekerasan politik, yang secara umum didefinisikan sebagai kekerasan yang dimotivasi oleh politik atau dimaksudkan untuk menyampaikan pesan politik atau mencapai tujuan politik.
Pada Januari 2021 itu, pendukung Trump yang tak terima jagonya kalah pemilihan presiden menyerbu Gedung Parlemen AS di Capitol Hill, Washington. Mereka sempat menduduki gedung tersebut dan melukai sejumlah aparat kepolisian.
Para peneliti di Lab Riset and Inovasi Polarisasi and Ekstremisme telah mendokumentasikan bahwa kekerasan politik telah meningkat di AS dalam beberapa tahun terakhir. Selain serangan ke Capitol Hill dan percobaan pembunuhan Trump, ada mematikan terhadap anggota parlemen Minnesota Melissa Hortman dan John Hoffman yang menyebabkan Hortman dan suaminya tewas; percobaan pembunuhan terhadap Paul Pelosi; pembunuhan tokoh konservatif muda Charlie Kirk. Dan serangan terhadap kediaman Gubernur Josh Shapiro di Pennsylvania.
Piazza menyatakan, ada beberapa pendorong penting kekerasan politik yang terjadi di AS saat ini. Amerika Serikat saat ini sangat terpolarisasi secara politik, yang berarti bahwa masyarakat Amerika terpecah secara tajam satu sama lain berdasarkan garis partisan. Mereka saling curiga dan bermusuhan satu sama lain, dan hal ini menghasilkan lingkungan yang tegang dan bergejolak dalam politik dan kehidupan publik, kata dia.
Hal ini menurutnya telah menghasilkan lingkungan zero-sum yang mana setiap pemilu dan kontes politik merupakan momen do or die. Yang menonjol bagi saya adalah dimensi moral dari polarisasi di AS. Masing-masing pihak memandang anggota partai lain bukan sekadar memiliki pandangan berbeda mengenai politik, melainkan jahat atau tidak bermoral.
Lingkungan yang terpolarisasi telah membuat kekerasan politik menjadi lebih normal. Hal ini juga mengurangi reaksi masyarakat terhadap kekerasan politik yang terjadi.
Hal ini membuat kekerasan politik lebih mungkin terjadi. Retorika politik menjadi lebih bersifat memecah-belah dan penuh kekerasan, kata Piazza.
Hal ini sejalan dengan polarisasi dan membantu menormalisasi kekerasan politik. Khususnya, ketika para politisi menggunakan retorika yang bersifat menjelek-jelekkan atau tidak manusiawi untuk menyerang lawan-lawan mereka misalnya, menggunakan kata-kata yang menggambarkan lawan mereka sebagai tidak manusiawi hal ini akan menumbuhkan ekstremisme dan membantu memotivasi para ekstremis untuk menyakiti lawan mereka secara fisik.
Disinformasi juga kaya dia merupakan faktor penting yang mendorong terjadinya kekerasan politik. Sejumlah orang yang baru-baru ini terlibat dalam aksi kekerasan politik tampaknya termotivasi oleh teori konspirasi dan bentuk disinformasi lainnya, yang seringkali diperoleh dari media sosial.
Disinformasi memainkan peran yang sangat penting dalam konteks komunitas media sosial, di mana masyarakat dihadapkan pada disinformasi dalam jumlah besar dan tertutup rapat dari sumber-sumber lain yang mungkin menantang pandangan dunia mereka. Hal ini memfasilitasi radikalisasi dan terbukti memicu kekerasan politik dalam beberapa kasus.