
Kematian Tragis Dosen Perempuan yang Diduga Dilakukan oleh Oknum Polisi
Keluarga besar EY (37), seorang dosen perempuan yang meninggal secara tragis, masih berjuang mencari keadilan. EY diduga menjadi korban pembunuhan sekaligus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Bripda W, anggota Propam Polres Tebo, Polda Jambi. Adik kandung EY, Anis, mengungkapkan betapa hancurnya keluarga atas kehilangan tersebut. Ia menegaskan agar pelaku menerima konsekuensi hukum seberat-beratnya atas perbuatan keji itu.
“Kami meminta supaya pelaku yang menghilangkan nyawa kakak saya dengan keji supaya diberikan hukuman yang setimpal, yang seadil-adilnya,” ujar Anis dalam pesan singkat pada Rabu (5/11/2025). Menurut Anis, keluarga sama sekali tidak menyangka EY yang dikenal penyayang dan rendah hati harus berpulang dalam kondisi tragis. Rasa kehilangan semakin mendalam karena ibu mereka saat ini juga tengah sakit, namun tetap berusaha ikhlas menerima kenyataan pahit tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kami berharap Polres dengan cepat menyelesaikan perkara ini,” tambah Anis. Meski keluarga sudah mencoba mengikhlaskan kepergian EY, mereka menegaskan bahwa proses hukum harus berjalan transparan dan adil. “Kami hanya memohon keadilan yang seadil-adilnya,” tutup Anis dengan suara bergetar.
Penemuan Jenazah EY di Rumahnya
Jasad dosen EY ditemukan tergeletak atas tempat tidur dalam kondisi tertutup sarung dan masih mengenakan sebagian pakaian di rumahnya daerah Bungo, Jambi pada Sabtu (1/11/2025) pukul 13.00 WIB. Polisi bergerak cepat membentuk tim khusus untuk mengungkap kasus ini. Tim yang bergerak secara paralel lalu mengerucut dugaan kepada salah satu oknum anggota Polri yang inisial W (Bripda Waldi).
Kapolres Bungo AKBP Natalena Eko Cahyono mengungkapkan, tim secara intensif menyelidiki dengan menggabungkan seluruh bukti berdasarkan TKP. “Dari fasilitas IT yang mana handphone korban beserta pelaku itu ada sinkronisasi tempat pada saat itu. Kami kejar untuk mendapatkan apa yang menjadi bukti petunjuk. Kami tekankan sinkron data ketika dia berada di area TKP atau pun korban.”
Dari hasil penyelidikan terungkap sebelum kejadian pembunuhan, Bripda Waldi dan EY sempat ke luar untuk makan bareng pada malam harinya. Lalu pukul 23.30, mereka masuk ke rumah korban. “Dengan demikian, masih tidak ada suatu percekcokan ataupun perselisihan,” ungkap kapolres. Pagi harinya, berdasarkan keterangan saksi dan bukti percakapan di ponsel, terungkap kalau ponsel korban sudah dikuasai Bripda Waldi.
“Kita dapatkan komunikasi antara korban dengan teman korban. Menurut pengakuan saksi, ini bukan lagi korban yang menjawab. Jadi, handphone sudah di tangan pelaku,” katanya. Setelah membunuh EY, korban berusaha menguasai harta benda korban berupa mobil Honda Jazz, sepeda motor Honda PCX, perhiasan, dan gawai. Informasi sementara mobil Honda Jazz dan motor Honda PCX itu dibawa ke luar oleh Bripda Waldi dengan cara menyamar. Waldi mengenak wig atau rambut palsu untuk keluar rumah EY sambil membawa mobil dan motor secara bertahap.
Mobil EY kemudian ditemukan di wilayah Kabupaten Tebo, tidak jauh dari tempat tinggal pelaku, lengkap dengan perhiasan di dalamnya. Sementara motor PCX milik EY ditemukan terparkir di RSUD H. Hanafie Muaro Bungo. Apakah itu berarti ada pelaku lain yang membantu Bripda Waldi? Kapolres mengatakan akan mengecek CCTV rumah sakit Hanafi Kabupaten Bungo untuk mengungkap siapa yang membawa motor ketika memasuki parkir rumah sakit Hanafi.
Motif Pembunuhan Dosen EY
AKBP Natalena memastikan, sampai saat ini motif pelaku membunuh dosen EY karena urusan asmara. Meski begitu, pihaknya akan menyelidiki adanya motif lainnya. “Jadi, yang pertama jelas motif hubungan pribadi yaitu hubungan asmara yang sudah terbangun lama. Kemudian, salah satunya juga di situ ada masalah ekonomi yang disebutkan oleh pelaku. Tapi ini kan pengakuan pelaku yang dia mempunyai urusan uang, mempunyai utang kepada si korban. Untuk motif yang lebih lainnya, kami masih dalami,” tukasnya.
Terungkap gara-gara teman korban. Penemuan jenazah EY bermula dari kekhawatiran rekan-rekannya di di Muaro Bungo. Selama dua hari korban tidak hadir mengajar dan tidak merespons panggilan telepon. Rekan korban kemudian mendatangi rumahnya, namun rumah dalam keadaan terkunci. Warga dipanggil untuk membantu, dan setelah pintu berhasil didobrak, korban ditemukan tergeletak di atas tempat tidur dengan wajah tertutup bantal.
Warga langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Tim Inafis dan penyidik Polres Bungo kemudian melakukan olah TKP dan membawa jenazah ke RSUD H Hanafie. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, ditemukan bekas kekerasan pada tubuh korban. “Beberapa tanda kekerasan pada tubuh korban. Penyebab pastinya, kita tunggu hasil autopsi lengkap,” jelas Kasatreskrim AKP Ilham Tri Kurnia.
Pemeriksaan Medis Terhadap Jenazah EY
Dokter pemeriksa RSUD H Hanafie Muara Bungo, dr Sepriadi menemukan sejumlah luka mencurigakan pada tubuh korban. Luka tersebut meliputi lebam di wajah, benjolan di bagian belakang kepala, serta memar di kedua bahu. “Ditemukan lebam di seluruh bagian wajah, dan ada benjolan di kepala belakang berukuran sekitar 13 x 10 sentimeter,” ujar dr. Sepriyedi usai melakukan pemeriksaan di RSUD H Hanafie, Sabtu sore.
Selain itu, memar juga terlihat pada bahu kanan dan kiri, serta terdapat luka pada leher yang diduga akibat benturan benda tumpul atau tajam. “Habis itu ditemukan juga lebam di bagian leher,” jelasnya. Tim medis juga menemukan dugaan adanya kekerasan seksual, ditandai dengan cairan pada area organ intim korban. Berdasarkan kondisi jenazah, korban diperkirakan telah meninggal sekitar 12 jam sebelum ditemukan, ditunjukkan oleh keluarnya darah berwarna gelap dari mulut dan hidung sebagai tanda awal proses pembusukan.
Hasil penyelidikan polisi akhirnya mengarah pada Bripda Waldi. Kapolres Bungo AKBP Natalena Eko Cahyono menyebut, pihaknya sempat kesulitan mengungkap kasus pembunuhan tersebut karena pelaku berupaya menghilangkan jejak dan tidak kooperatif selama pemeriksaan. “Jadi pelaku ini memang ulet (kekeh) dalam berkelit. Namun, setelah kita bagi beberapa tim, yang hasilnya semua penelusuran tim mengarah ke pelaku ini, dan akhirnya kita tetapkan sebagai tersangka,” kata Natalena saat dikonfirmasi, Senin (3/11/2025).
Pembunuhan yang disertai dugaan pemerkosaan terhadap dosen muda itu diduga dilatarbelakangi hubungan asmara. W dan korban diketahui memiliki hubungan dekat. “Untuk motif sementara yang bisa kita ungkapkan adalah asmara,” kata Natalena. Namun, Natalena belum menjelaskan secara rinci alasan pelaku membunuh dan memperkosa korban. Kapolres Bungo AKBP Natalena Eko Cahyono hanya menyebut pelaku kejam. “Pelaku ini bengis dan kejam,” ujar AKBP Natalena. Menurutnya, kondisi tubuh korban menunjukkan tanda-tanda kekerasan yang cukup parah. Hanya saja, kapolres tidak menjelaskan bagaimana modus dan kronologi pembunuhan yang dilakukan Bripda Waldi.