Pelatihan Self Regulated Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar Anak di LKSA Simpang Tiga Medan
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU), Josetta MR Tuapattinaja, M.Si, Psikolog dan Rika Eliana, M.Si, Psikolog menggelar pengabdian kepada masyarakat di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Simpang Tiga Medan. Pada kegiatan ini, kedua dosen tersebut menyelenggarakan pelatihan Self Regulated Learning (SRL) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan self regulation pada anak asuh LKSA Simpang Tiga Medan.
Menurut Josetta MR Tuapattinaja, dalam proses identifikasi awal, ditemukan beberapa tantangan yang dialami oleh anak-anak asuh terkait bidang pendidikan. Salah satu masalah utama adalah kesulitan memahami mata pelajaran yang membutuhkan hafalan seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kesulitan dalam menjaga konsentrasi di lingkungan tempat tinggal yang dirasa berisik serta kurangnya strategi belajar yang efektif.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Anak-anak ini cenderung mudah menyerah dan mengalami penurunan semangat belajar, bahkan sering menunda penyelesaian tugas. Hal ini berdampak pada hasil belajar yang rendah,” jelas Josetta dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan bahwa masalah ini berkaitan dengan rendahnya kemampuan self regulation. Self regulation adalah kemampuan untuk mengarahkan pikiran, emosi, dan tindakan guna mencapai tujuan belajar. Dengan adanya self regulation yang tepat, anak-anak akan mampu mengatur diri, menetapkan tugas, memiliki strategi belajar yang efektif, serta mampu mengelola emosi dan menjaga motivasi saat menghadapi kesulitan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan self regulation pada anak-anak asuh LKSA adalah melalui pelatihan Self Regulated Learning (SRL). Pelatihan ini membantu anak-anak memahami dan menjalani proses mengendalikan aktivitas belajar sendiri, memonitor motivasi dan tujuan dari belajarnya, serta mengelola perilakunya dalam pelaksanaan belajarnya.
“SRL juga merupakan usaha untuk memunculkan dan memonitor sendiri pikiran, perasaan, dan perilaku dalam rangka mencapai target belajar. Dengan demikian, SRL memberi siswa/anak-anak asuh rasa tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri,” tambah Josetta.
Metode yang digunakan dalam pelatihan ini meliputi beberapa tahapan. Pertama, ceramah yang disampaikan oleh narasumber untuk memberikan informasi atau materi terkait self regulation. Selanjutnya, dilakukan diskusi untuk membahas pemahaman akan informasi atau materi yang diberikan, baik dalam kelompok kecil maupun bersama-sama dalam kelompok besar. Setelah itu, ada latihan mengerjakan tugas sesuai dengan target dari tiap aksi dalam materi SRL. Terakhir, tanya jawab dilakukan untuk mempertajam pemahaman terhadap informasi/materi yang diberikan.
Berdasarkan hasil observasi selama proses pelatihan, terlihat bahwa anak-anak asuh LKSA mampu memusatkan perhatian dan berkonsentrasi pada materi psikoedukasi yang diberikan. Mereka juga termotivasi untuk secara aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban baik dalam pelatihan maupun kepada sesama anak-anak asuh.
Untuk melihat perubahan pada self regulation anak-anak asuh, pretest dan posttest juga diberikan. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan skor yang berarti. Anak-anak asuh mengalami peningkatan dalam hal self regulation setelah mendapatkan intervensi berupa pelatihan Self Regulated Training.
Feedback yang disampaikan oleh anak-anak asuh juga sangat positif. Mereka menyukai kegiatan diskusi dan tanya jawab, serta role play yang dinilai menyenangkan. Materi pelatihan dinilai mudah dipahami, jelas, dan teratur, serta bermanfaat dalam meningkatkan keterampilan belajar, fokus dalam belajar, serta motivasi untuk mengaplikasikan keterampilan yang telah diperoleh dalam usaha meningkatkan prestasi belajar mereka.
Josetta merasa sangat senang dan bersyukur melihat perubahan yang dialami oleh anak-anak asuh LKSA. Ia menyadari bahwa upaya yang tidak besar ternyata menjadi modal bagi keberhasilan anak-anak tersebut. Ia berharap mereka tetap semangat dan terus berusaha untuk menggapai mimpi mereka.