
Kritik terhadap Rencana Pengajaran Bahasa Portugis di Sekolah
Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat, Bonnie Triyana, menyampaikan kekhawatiran terkait rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengajarkan bahasa Portugis di sekolah-sekolah. Ia menilai bahwa langkah ini berpotensi memberatkan para siswa, terutama karena bahasa tersebut tidak familiar dalam lingkungan internasional.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Bukan pula bahasa pengetahuan umum yang digunakan di kalangan akademik,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Menurut Bonnie, pengenalan bahasa Portugis dapat menjadi beban tambahan bagi siswa yang sudah memiliki kurikulum yang padat.
Selain itu, ia juga khawatir tentang dampak terhadap guru. Untuk mengajar bahasa Portugis, tenaga pengajar harus mampu menguasai bahasa tersebut sebelumnya. Hal ini bisa memengaruhi kualitas pengajaran jika guru tidak cukup siap.
Bonnie juga menyoroti bahwa rencana ini akan meningkatkan anggaran pendidikan. Ia menekankan pentingnya persiapan matang sebelum rencana tersebut benar-benar dilaksanakan. Oleh karena itu, ia menilai sebaiknya mata pelajaran bahasa Portugis tidak diwajibkan. Dengan demikian, siswa memiliki kebebasan untuk memilih apakah ingin mengambil mata pelajaran tersebut atau tidak.
“Lebih baik maksimalkan mutu pengajaran bahasa Inggris, atau kalau mau ada tambahan pelajaran bahasa Mandarin jauh lebih strategis untuk diajarkan,” katanya.
Konteks dan Penjelasan Rencana dari Presiden
Rencana untuk memasukkan bahasa Portugis sebagai salah satu mata pelajaran bahasa asing di sekolah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan kenegaraan dengan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, pada Kamis, 23 Oktober 2025. Prabowo menyatakan bahwa keputusan ini merupakan bukti kuatnya hubungan antara Indonesia dan Brasil.
Ia juga telah memberikan instruksi kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti untuk merealisasikan rencana tersebut. “Saya akan memberi petunjuk kepada Menteri Pendidikan Tinggi dan Menteri Pendidikan Dasar untuk mulai mengajar bahasa Portugis di sekolah-sekolah,” ujarnya di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Pertanyaan dan Diskusi yang Muncul
Dari rencana ini, muncul beberapa pertanyaan penting. Apakah kebijakan ini akan efektif dalam memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Brasil? Bagaimana tanggapan komunitas pendidikan terhadap penambahan mata pelajaran baru ini?
Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa penambahan mata pelajaran bahasa asing harus dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, perlu adanya evaluasi terhadap kemampuan guru dan infrastruktur pendidikan agar proses pengajaran tetap berkualitas.
Terkait hal ini, banyak pihak menyarankan agar prioritas utama tetap diberikan pada peningkatan kualitas bahasa Inggris, yang saat ini masih menjadi bahasa internasional yang dominan. Jika ingin menambahkan bahasa lain, maka pilihan seperti bahasa Mandarin atau Jepang bisa menjadi alternatif yang lebih strategis.
Kesimpulan
Meski rencana pengajaran bahasa Portugis di sekolah-sekolah bertujuan untuk memperkuat hubungan antara Indonesia dan Brasil, kritik dan kekhawatiran dari berbagai pihak tetap perlu dipertimbangkan. Sebelum rencana ini dijalankan, diperlukan analisis mendalam mengenai dampaknya terhadap siswa, guru, dan anggaran pendidikan. Dengan demikian, kebijakan pendidikan yang diambil dapat lebih optimal dan berkelanjutan.