Dua Bupati Kena OTT dalam Seminggu, Nuh: Butuh Aturan Pilkada Hemat Biaya

admin.aiotrade 11 Nov 2025 3 menit 11x dilihat
Dua Bupati Kena OTT dalam Seminggu, Nuh: Butuh Aturan Pilkada Hemat Biaya

Penangkapan Kepala Daerah oleh KPK Menarik Perhatian Anggota DPD RI

Dalam kurun waktu satu minggu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menangkap dua kepala daerah melalui operasi tangkap tangan (OTT). Pertama, Gubernur Riau Abdul Wahid ditangkap pada Senin, 3 November 2025. Empat hari kemudian, tepatnya pada Jumat, 7 November 2025, KPK juga menangkap Bupati Ponorogo, Jawa Timur, Sugiri Sancoko.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Peristiwa ini menarik perhatian Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, KH Muhammad Nuh MSP. Senator asal Provinsi Sumatera Utara ini menyampaikan keprihatinan terhadap masih maraknya kasus korupsi di tingkat daerah. “Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (10/11/2025).

Menurut Nuh, untuk mencegah korupsi khususnya di level kepala daerah, salah satu langkah penting yang harus segera dilakukan adalah mengevaluasi pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) saat ini. Terutama dalam hal pembiayaan politik.

Ia menilai, besarnya biaya politik yang dikeluarkan dalam kontestasi Pilkada menjadi salah satu faktor utama yang mendorong calon melakukan korupsi setelah terpilih. “Ini karena biaya politik yang tinggi, sehingga orang berusaha mengembalikan modalnya. Jadi, ketika ada kepala daerah yang terpilih, biasanya orang akan bertanya habis berapa? Karena ukurannya adalah dana yang dibagikan,” jelas Nuh.

Selain perbaikan regulasi, terutama untuk membuat Pilkada lebih hemat biaya, menurut Ketua Persis Sumatera Utara ini, ada hal lain yang tidak kalah penting. Yaitu perbaikan mental para calon dan kelompok pemilih.

“Masyarakat sendiri cenderung memilih calon yang memberikan amplop. Padahal dengan menerima money politic, sama saja masyarakat mendorong para calon untuk korupsi ketika menjabat,” tambahnya.

Di satu sisi, kata Nuh, masyarakat tidak suka dengan korupsi. Tapi di sisi lain, mereka justru mau menikmati hal-hal yang bisa mendukung terjadinya korupsi dengan memilih calon hanya karena uang.

“Jadi untuk mencegah terjadinya korupsi, butuh perbaikan sistem secara mendasar dari pejabatnya, dari regulasinya, dan yang tidak kalah penting juga dari masyarakatnya,” pungkas Nuh.

Langkah-Langkah Pencegahan Korupsi di Tingkat Daerah

Beberapa langkah penting dapat diambil untuk mencegah korupsi di tingkat daerah:

  • Evaluasi Pelaksanaan Pilkada
    KPK dan lembaga terkait perlu meninjau ulang mekanisme pembiayaan politik dalam Pilkada. Tujuannya adalah untuk mengurangi beban finansial yang dialami para calon, sehingga tidak memicu tindakan korupsi setelah terpilih.

  • Perbaikan Regulasi
    Undang-undang dan aturan terkait Pilkada harus direvisi agar lebih transparan dan adil. Salah satu fokusnya adalah menciptakan sistem pemilu yang berbiaya rendah, sehingga tidak memberatkan calon dan partai politik.

  • Peningkatan Kesadaran Masyarakat
    Masyarakat perlu diberdayakan melalui pendidikan dan sosialisasi tentang bahaya korupsi. Hal ini penting untuk mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung memilih calon hanya karena uang atau hadiah.

  • Penguatan Etika Politik
    Para calon dan pejabat harus memiliki etika yang kuat serta komitmen untuk menjalankan tugas dengan benar dan bersih. Ini bisa dilakukan melalui pelatihan dan pengawasan yang lebih ketat.

  • Partisipasi Aktif Masyarakat
    Masyarakat harus lebih aktif dalam mengawasi proses demokrasi dan kebijakan daerah. Dengan partisipasi yang baik, masyarakat dapat menjadi pengawas yang efektif dalam mencegah korupsi.

Peran Masyarakat dalam Mencegah Korupsi

Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah korupsi. Meskipun banyak dari mereka tidak suka dengan korupsi, tetapi sering kali mereka tidak sadar bahwa tindakan mereka seperti memilih calon hanya karena uang bisa memicu korupsi.

Untuk itu, perlu adanya kesadaran kolektif bahwa korupsi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga merusak masa depan bangsa. Dengan memperkuat kesadaran ini, masyarakat bisa menjadi bagian dari solusi, bukan penyebab masalah.

Kesimpulan

Peristiwa penangkapan dua kepala daerah oleh KPK menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi isu serius di tingkat daerah. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan perubahan sistem yang mendasar, termasuk perbaikan regulasi, peningkatan kesadaran masyarakat, dan penguatan etika politik. Dengan kerja sama antara pemerintah, lembaga anti-korupsi, dan masyarakat, diharapkan korupsi bisa diminimalkan dan bahkan diberantas.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan