
Dua Mahasiswa di Indonesia Meninggal Dunia dalam Sepekan
Dalam sepekan terakhir, dua mahasiswa di Indonesia meninggal dunia di tengah masa studinya. Pertama adalah Timothy Anugerah Saputra, seorang mahasiswa FISIP Universitas Udayana yang meninggal pada Rabu (15/10/2025). Dua hari kemudian, Hanna Putri, mahasiswa jurusan Psikologi di UIN Raden Mas Said Surakarta, juga mengembuskan napas terakhirnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Keduanya diduga kuat melakukan lompat dari lantai gedung kampus. Namun, latar belakang penyebab kematian mereka berbeda. Kasus Timothy masih dalam penyelidikan dan diperkirakan karena perundungan. Sementara itu, Hanna memiliki riwayat kesehatan mental, termasuk bipolar dan gangguan kecemasan.
Kepedulian yang Masih Kurang di Kalangan Kampus
Pengamat pendidikan dari Center of Curriculum for Social Change Studies, Edi Subkhan, menilai kejadian ini menunjukkan bahwa kepekaan pihak kampus dan sesama mahasiswa terhadap masalah kesehatan mental dan korban bullying masih lemah.
"Di kampus, sesama teman sering kali menjadi orang pertama yang bisa melihat dan merasakan jika ada rekan yang sedang bermasalah secara psikis," ujar Edi dalam pesan singkat kepada aiotrade, Senin (20/10/2025).
Menurutnya, intensitas interaksi antar mahasiswa membuat mereka lebih mudah mengenali teman yang mungkin sedang rapuh secara psikis atau menjadi korban bullying. Namun, tidak semua mahasiswa memiliki kesadaran dan pengetahuan untuk merespons dengan tepat.
"Beberapa dari mereka mungkin memberikan respons yang kurang sesuai, bahkan bisa memperparah tekanan psikis korban," tambah Edi.
Selain itu, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Semarang ini menyoroti bahwa dosen dan pihak kampus umumnya memiliki jarak dengan mahasiswa. Meski ada dosen yang dekat dengan mahasiswa, tidak semua memiliki waktu atau karakter yang membuat mahasiswa nyaman untuk membuka diri.
Pentingnya Kampanye Anti-Bullying
Salah satu langkah yang bisa dilakukan kampus untuk mengurangi tindakan perundungan adalah mengadakan kampanye anti-bullying. Menurut Edi, kampanye ini sudah menjadi kesadaran pemerintah, tetapi pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan.
"Mahasiswa perlu diajak untuk mengenali masalah psikis yang bisa saja menimpa teman atau diri sendiri," jelas Edi.
Jika mahasiswa memahami secara teori, diharapkan mereka bisa lebih peka dan merespons masalah psikis dengan baik. Selain itu, mahasiswa perlu ditekankan untuk lebih waspada terhadap masalah psikis diri sendiri dan orang lain serta memahami regulasi yang berlaku.
"Ada keterampilan komunikasi yang bisa dipelajari untuk menenangkan psikis, serta tips-tips yang bisa digunakan untuk mencegah tindakan destruktif. Di sisi lain, kampus juga harus menyediakan saluran seperti pendampingan konseling dan psikis, baik dari dosen maupun sesama mahasiswa," tambah Edi.
Untuk kasus bullying, Edi menegaskan pentingnya sosialisasi ancaman sanksi yang tegas kepada pelaku, terutama jika korban sampai bunuh diri. Ia menyarankan adanya kebijakan dan alur yang jelas dalam investigasi kasus hingga sanksi yang setimpal diberikan kepada pelaku.
Implementasi Aturan Pemerintah
Edi menyebutkan bahwa pemerintah telah membuat beberapa aturan terkait perlindungan mahasiswa. Salah satunya adalah Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT).
Namun, menurutnya, yang paling penting adalah implementasi aturan tersebut secara operasional di kampus. "Yang diperlukan adalah kejelasan dan ketegasan dalam penerapan aturan, agar mahasiswa bisa dengan mudah mengetahui dan mengakses layanan tersebut," jelas Edi.
Sebagian besar kampus saat ini sudah memiliki layanan konseling dan psikolog. "Tinggal bagaimana operasionalnya dioptimalkan," tutup Edi.