Dua Taruna STMKG 2023 Puncaki IP Semester 4

admin.aiotrade 17 Des 2025 4 menit 13x dilihat
Dua Taruna STMKG 2023 Puncaki IP Semester 4

Dhanu dan Ashamad, Dua Taruna STMKG dengan Prestasi Menonjol

Dhanu Prakoso dan La Ode Ashamad Nusriah adalah dua taruna Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi Geofisika (STMKG) angkatan 2023 yang menempati peringkat pertama dan kedua dalam indeks prestasi (IP) semester 4. Meskipun keduanya tinggal jauh dari orangtua, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar gratis di STMKG yang dibiayai oleh negara.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kedua mahasiswa ini mengambil prodi Meteorologi. Dhanu, yang berasal dari Batam, Kepulauan Riau, mencatatkan IP semester 4 sebesar 3,68. Sementara itu, Ashamad, putra Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, memiliki IP 3,65. Meskipun prestasinya luar biasa, STMKG bukan tujuan awal dalam rencana pendidikan mereka.

Bukan Tujuan Awal

Kondisi ekonomi keluarga membuat Dhanu membatalkan rencana awalnya untuk menjadi dokter. Ia mengaku bahwa selama SMA, ia tidak tahu apa-apa tentang sekolah kedinasan. Ketika kelas 12 SMA tempat Dhanu belajar kedatangan pihak STMKG yang melakukan sosialisasi, ia mulai tertarik dengan sekolah kedinasan milik BMKG ini.

"Karena melihat kondisi ekonomi keluarga dan berbagai hal lah, melihat ada prospek di kedinasan ini lebih baik untuk saya mungkin ya, jadinya saya memilih ke sini," ujar Dhanu.

Kebetulan, daerah domisili Dhanu tergolong sebagai daerah afirmasi dalam seleksi masuk STMKG, sehingga jumlah pendaftarnya lebih sedikit dan membuat peluang diterima lebih besar. Meski demikian, Dhanu mengaku bahwa mempelajari meteorologi bukan minat sesungguhnya.

"Tapi karena di sini ada sainsnya dan matematikanya juga ada. Dan saya lebih suka yang sains, apalagi matematika itu. Jadinya ya tetap aja saya nikmatin," tutur Dhanu.

Mengira Belajar Meteor, Ternyata...

Hal serupa juga dialami oleh Ashamad. Sebelumnya, ia tidak terpikirkan untuk masuk STMKG. Ashamad sempat mencari informasi tentang sekolah-sekolah kedinasan, namun ia mendapati bahwa ilmu-ilmu yang dipelajari lebih mengarah ke ilmu sosial. Sebagai murid SMA jurusan IPA, ia ingin mendalami sains. Setelah menanyakan lebih rinci tentang STMKG ke senior SMA yang telah lebih dulu masuk menjadi taruna, ia memutuskan untuk masuk.

"Sempat keterima di Universitas Halu Oleo lewat SNBT dulu di jurusan Farmasi, tapi karena keterima di sini jadinya milihnya ke sini," ujar Ashamad.

Sebelum menentukan prodi yang akan dipilih di STMKG, Ashamad mencari-cari informasi lalu berpikir ingin menghindari prodi Geofisika karena takut dengan pelajaran fisika. "Jadi pilihnya ya udah Meteorologi. Namanya juga unik kan, Meteor. Pikirnya belajar meteor, ternyata berbeda jauh enggak belajar terkait meteor. Jadi belajarnya itu terkait hubungan atmosfer dengan laut, bagaimana kondisi atmosfer. Setelah tahu beda ya udah lah udah terlanjur masuk, jalanin aja," ucap Ashamad sambil tertawa.

Menurutnya, semakin atas semester yang dijalani, ilmu Meteorologi kian sulit.

Kiat Belajar Ala Taruna STMKG

Bagi Dhanu, setiap dosen memaparkan materi harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar ketika mempelajari kembali materi tersebut terasa lebih mudah. Selain menerima materi dari mata kuliah dosennya, ia juga mencari informasi tambahan dari sumber lain.

Pada awal perkuliahan di STMKG, Dhanu merasa mengulang pelajaran-pelajaran di masa SMA. Sistem STMKG yang semi militer bukanlah masalah besar bagi Dhanu yang hobi olahraga.

"Cuma untuk kedisiplinannya mungkin yang saya lebih bertahap belajar. Karena di situ mulai belajar tentang manajemen waktu yang lebih baik lagi, gimana cara kondisi tidurnya. Karena saya waktu masih SMA banyak begadang, banyak hal-hal lainnya yang enggak teratur lah. Jadinya di sini lebih disiplin," jelas Dhanu.

Ashamad juga memilih memperhatikan penjelasan dosen di kelas agar tidak perlu terlalu banyak mengulang saat hendak ujian semester. Ia juga mengusahakan untuk segera mengerjakan tugas supaya tidak mepet batas waktu pengumpulan.

"Di sini juga ada seniornya yang selalu membantu ya. Kalau misalnya ada kesulitan terkait mata kuliah yang susah kita bisa tanya ke senior yang sudah mempelajari itu lebih dahulu. Saya jadinya merasa terbantu juga dengan adanya senior yang bisa selalu membantu," ucap Ashamad.

Kelola Uang Tunjangan

Lantaran sudah bukan taruna tahun pertama di STMKG, Dhanu dan Ashamad tidak lagi tinggal di asrama yang disediakan. Mereka kini tinggal di rumah kos dekat kampus yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau naik sepeda.

Dengan uang tunjangan ikatan dinas (TID) sebesar Rp 600.000 yang diberi oleh STMKG, mereka berusaha mencukupi segala keperluan hidup bulanan. "Untuk saya sendiri kalau nge-kos langsung habis sih. Jadi uangnya dipakai buat bayar kos biasanya," kata Dhanu.

Untuk makan dan kebutuhan lainnya, mereka mengandalkan uang saku dari orangtua. "Kami udah dikasih Rp 600 ribu pun udah bersyukur sih buat bantuan-bantuan hidup kami juga. Karena kan kuliahnya gratis. Terus setelah lulus juga dijamin langsung kerja. Jadi kayak sepadan lah untuk apa yang kami keluarkan nanti," tutur Ashamad.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan