
Dugaan Spionase di Lingkungan Militer Israel
Dua teknisi dari Angkatan Udara Israel kini menghadapi tuduhan spionase yang serius, dengan kemungkinan ancaman hukuman pengkhianatan. Mereka diduga terlibat dalam aktivitas yang menunjukkan kerja sama dengan Iran, sehingga memicu kegundahan di lingkungan militer negara tersebut. Kasus ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan dan menjadi perhatian utama bagi pihak berwenang.
Kedua tersangka, yang bertugas sebagai teknisi pesawat tempur F-15 di Pangkalan Udara Tel Nof, dituduh mengumpulkan serta menyebarkan informasi sensitif. Informasi tersebut mencakup data terkait tokoh penting seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan mantan Kepala Staf Herzi Halevi. Selain itu, mereka juga disebut memberikan dokumen teknis tentang mesin pesawat Israel serta foto seorang instruktur penerbangan.
Tuduhan yang mereka hadapi melibatkan "membantu musuh selama masa perang," dengan salah satu tersangka berpotensi menghadapi tuduhan yang setara dengan pengkhianatan. Laporan menyebutkan bahwa delapan tentara lainnya di pangkalan yang sama sedang diselidiki karena dicurigai gagal melaporkan aktivitas yang diduga terkait kasus ini meskipun mereka mengetahuinya.
Eksekusi di Iran Akibat Tuduhan Terkait Mossad
Di sisi lain, Iran kembali melakukan eksekusi terhadap seorang pria yang diduga memiliki hubungan dengan badan intelijen Israel, Mossad. Pria bernama Mehdi Farid digantung pada Rabu setelah dinyatakan bersalah atas tindakan yang dianggap sebagai kerja sama dengan Mossad. Ini merupakan bagian dari tren peningkatan jumlah hukuman mati di Iran, yang memicu kekhawatiran dari kelompok hak asasi manusia.
Farid dituduh memiliki hubungan dengan Mossad, meskipun ia bekerja untuk Organisasi Energi Atom Iran saat ditangkap. Awalnya, ia dihukum 10 tahun penjara, tetapi dalam persidangan baru pada Juli 2025, hukumannya diubah menjadi hukuman mati atas tuduhan memata-matai Israel. Persidangan tersebut dilakukan setelah jaksa penuntut mengajukan banding.
Eksekusi ini terjadi di tengah konflik antara Iran dengan AS dan Israel. Sejak pelaksanaan hukuman mati dilanjutkan pada 19 Maret 2026, otoritas Iran telah mengeksekusi delapan pria atas tuduhan terkait protes massal awal tahun ini dan delapan pria lainnya yang merupakan anggota Mujahidin Rakyat, sebuah kelompok oposisi yang dilarang. Selain itu, seorang warga negara Iran-Swedia juga dieksekusi atas tuduhan memata-matai Israel.
Tren Hukuman Mati yang Mengkhawatirkan
Pihak berwenang Iran menegaskan bahwa tidak akan ada keringanan hukuman bagi siapa pun yang dianggap berkolaborasi dengan Israel. Hal ini terlihat dari jumlah korban jiwa yang tercatat sejak konflik dimulai. Menurut pihak berwenang, setidaknya 3.375 orang telah tewas di Iran, sementara lebih dari 2.290 orang tewas di Lebanon, 23 orang tewas di Israel, dan lebih dari selusin orang tewas di negara-negara Teluk Arab.
Selain itu, lima belas tentara Israel di Lebanon dan 13 anggota militer AS juga tewas dalam konflik tersebut. Dengan situasi ini, tren hukuman mati di Iran semakin memperkuat kekhawatiran global terhadap kebijakan hukum negara tersebut, terutama terkait tahanan dengan tuduhan politik dan keamanan.