
Pengakuan Mengejutkan dari Mantan Relawan Projo dan Analis Kebijakan Publik
Pengakuan mengejutkan disampaikan oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) Projo 2014-2019, Budianto Tarigan, terkait pertemuannya dengan Presiden ke-7 RI, Jokowi di Istana. Pertemuan tersebut membahas proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh.
Meskipun berstatus sebagai pimpinan relawan, Budianto menjadi sosok yang mengkritisi gagasan Jokowi itu. Bukan hanya Budianto, analis kebijakan publik Agus Pambagio juga pernah dipanggil langsung Jokowi ke Istana terkait Whoosh.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Agus yang vokal menolak proyek kereta cepat dengan segala pertimbangan ekonominya itu dibuat kaget dengan pengakuan Jokowi. Saat hadir dalam podcast Abraham Samad Speak Up, Agus mengungkap isi percakapannya dengan Jokowi saat dipanggil ke Istana. Awalnya, Agus mengaku bisa dipanggil RI 1 karena selalu bicara vokal menolak proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung.
Menurutnya, hitungannya tidak masuk, terutama jika dibandingkan dengan moda transportasi yang sudah ada, seperti mobil pribadi hingga kereta Argo Parahyangan. Agus menggunakan kesempatan bicara dengan Jokowi untuk mempertanyakan ide proyek Whoosh, terutama ketika mengalihkan kerja sama dari Jepang ke China, dengan bunga yang jauh lebih tinggi, dari 0,1 persen menjadi 2 persen.
Mendengar jawaban Jokowi, Agus mengaku kaget sampai hampir jatuh dari kursi. "Saya dipanggil, saya bilang Pak ini ide siapa? 'Ide saya Mas', saya hampir jatuh dari kursi. Kaget kan saya pikir kan idenya menteri BUMN atau siapalah," kata Agus.
Jokowi menceritakan, proyek Whoosh bisa dijalankan Menteri BUMN saat itu, Rini Soemarno, karena Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan menolak, tidak setuju. "Saya kan menyerahkan pada Pak Menteri Perubahan, Pak Menteri Perhubungan tidak setuju. Ya sudah, saya perintah Menteri BUMN untuk meneruskan," kata Jokowi seperti ditirukan Agus.
Jokowi juga menceritakan awal mula dia menggagas proyek kereta cepat dengan China. "Waktu itu saya di Beijing, saya diajak naik kereta itu ke Shanghai atau ke mana. Cepat sekali dan bagus. Enak sekali. Xi Jinping nanya, 'Bapak mau?' kata Jokowi seperti diceritakan Agus.
Agus pun menyayangkan perpindahan kerja sama Indonesia dari dengan Jepang berpindah dengan China. "Jepang gini, kalau kita bicara loan itu detail banget dan dan ribet. Tapi setelah itu selesai kayak MRT kan selesai. Kalau di China kebalikannya gampang di depan sekarang susahnya di belakang," jelasnya.
Bocoran dari Eks Waketum Projo
Waketum Projo 2014-2019, Budianto Tarigan mengungkap pertemuannya dengan Jokowi di Istana pada periode pertama Jokowi menjabat presiden. Budianto yang menjabat pimpinan kelompok relawan Jokowi saat itu itu membeberkan, Istana intensif membuka pintu bagi relawan untuk diskusi dengan RI 1.
Ia memaparkan, pada satu pertemuan, setelah kemenangan pada Pilpres 2014, Projo dan kelompok relawan lain menghadap langsung dengan Jokowi. Pada forum formal, Budianto mewakili Projo, bicara tentang sejumlah isu, termasuk Whoosh. Ia mempertanyakan urgensi proyek Whoosh sementara akses Jakarta-Bandung bisa ditempuh menggunakan mobil dan kereta Argo Parahyangan yang jarak tempuhnya tidak jauh beda, dua sampai tiga jam.
"Ketika bicara masalah Whoosh, saya langsung ngomong, 'Pak Jokowi, ini apakah soal kereta api cepat Jakarta Bandung ini sudah layak?" "Dari sisi urgensi, kemanfaatan dan kemampuan ekonomi, ibaratnya itu, visibility studynya sudah oke belum, Pak?" Budianto menceritakan pertanyaannya kepada Jokowi, saat hadir menjadi narasumber di podcast Forum Keadilan, Youtube @forumkeadilanTV, tayang Sabtu (25/10/2025).
Budianto juga menjelaskan argumen kontranya terhadap Whoosh dengan mempertimbangkan geliat ekonomi yang terbantu dari pengguna kendaraan pribadi sepanjang jalan. "Karena Pak, setahu saya ya sepertinya saya yakini dengan subjektivitas saya belum saatnya nih Pak ke Bandung itu waktu tempuh bisa dua jam pakai mobil pribadi. Belum lagi sarana yang lain banyak Pak, travel, mobil bus, Argo Parayangan juga sebenarnya masih layak."
"Mobil pribadi juga banyak, Pak, yang pakai mobil pribadi ke sana malah lebih nyaman saya bilang." "Bahkan, Pak, kalau kita pakai mobil ke sana sepanjang jalan itu rakyat di sekitar itu hidup, Pak. Minimal yang rest area atau tempat pemberhentian itu ada geliat ekonomi di situ yang berbentuk warung kah, warung rokok kah, warung sembako apa warung makanan seperti itu. Waktu itu saya saya kan polos saja kan," kata Budianto, masih menceritakan argumennya ke Jokowi saat itu.
Latar Belakang Proyek Whoosh
Proyek Whoosh sendiri awalnya digagas sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA (Japan International Cooperation Agency). Jepang telah melakukan studi kelayakan hingga menggelontorkan biaya sebesar 3,5 juta dollar AS, dan menawarkan pinjaman bunga rendah 0,1 persen dengan tenor 40 tahun, memakai skema Government-to-Government (G2G) dan biaya estimasi 5 hingga 6,2 miliar dollar AS.
Namun, pada 2015, Jokowi mendadak memilih China sebagai mitra untuk membangun Whoosh. Alasannya, China menawarkan skema Business-to-Business (B2B) tanpa jaminan APBN, berbagi teknologi lebih luas, dan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS tanpa syarat ketat seperti Jepang, meski bunganya lebih tinggi, yakni 2 hingga 3,4 persen.
Seperti diketahui, proyek ambisius Whoosh benar-benar digarap pada pemerintahan Jokowi. Melalui cap proyek strategis nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 3 Tahun 2016, proyek yang didanai sebagian besar menggunakan utang dari China Developement Bank (CDB) itu dikebut. Jokowi juga yang meletakkan batu pertama pada Januari 2016, dan meresmikannya pada 2 Oktober 2023.
Sampai pertengahan 2025, jumlah penumpang Whoosh sebanyak 16 ribu sampai 18 ribu orang per hari pada hari kerja, dan 18 ribu sampai 22 ribu per hari pada akhir pekan. Angka tersebut belum menyentuh target 31 ribu penumpang per hari yang dicanangkan sejak awal.
Proyek KCIC mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun, dari biaya awal yang direncanakan 6,07 miliar dollar AS. Sehingga, total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun.
Untuk membiayai investasi 7,2 miliar dollar AS pada proyek ini, 75 persen di antaranya didapat dari pinjaman China Development Bank. Sementara sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu PT KCIC yang merupakan gabungan dari PSBI (60 persen) dan Beijing Yawan HSR Co Ltd (40 persen).
PSBI sendiri merupakan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, konsorsium sejumlah BUMN pada proyek KCIC. Whoosh, yang notabene merupakan program yang dibangga-banggakan oleh Jokowi jelas memberikan tekanan besar terhadap kinerja keuangan PT KAI (Persero).
Utang untuk pembiayaan proyek Whoosh membuat PSBI mencatat kerugian senilai Rp1,625 triliun pada semester I-2025. Karena menjadi lead konsosrium PSBI, maka PT KAI (Persero) menanggung porsi kerugian paling besar, yakni Rp951,48 miliar per Juni 2025, jika dibanding tiga BUMN anggota konsorsium PSBI lainnya.
Sehingga, beban yang ditanggung PT KAI (Persero) begitu berat, baik dalam bentuk biaya operasional kereta cepat maupun pengembalian utang.