Dubes UEA Tanggapi Gencatan Senjata AS-Iran, Harap Hasil Nyata dalam Dua Minggu

Dubes UEA Tanggapi Gencatan Senjata AS-Iran, Harap Hasil Nyata dalam Dua Minggu

Uni Emirat Arab Berharap Gencatan Senjata Dapat Membawa Perdamaian


Di tengah ketegangan geopolitik yang terus memburuk antara Iran dan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab (UEA) mengekspresikan harapan bahwa gencatan senjata selama dua pekan dapat menjadi langkah awal menuju perdamaian. Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri, menyampaikan bahwa jeda konflik ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan solusi damai yang berkelanjutan.

Menurutnya, UEA bersama negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Yordania telah lama berkomitmen untuk menjaga stabilitas kawasan melalui jalur diplomasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Ia menekankan pentingnya dialog dan gencatan senjata sebagai langkah de-eskalasi.

Uni Emirat Arab dan negara-negara sahabat di GCC serta Yordania selalu menyerukan de-eskalasi, gencatan senjata, dan dialog melalui jalur diplomatik, ujarnya.

Abdulla menilai bahwa periode dua minggu ini menjadi peluang penting untuk membangun kesepahaman baru yang dapat mengarah pada stabilitas dan pemulihan kawasan. Ia berharap dalam waktu dekat akan tercapai hasil yang baik, termasuk langkah-langkah untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas.

Dampak Konflik yang Luas

Konflik yang sedang berlangsung tidak hanya memengaruhi kawasan Timur Tengah, tetapi juga memiliki dampak global. Gangguan rantai pasok dan lonjakan harga energi telah dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Hal ini bisa memperburuk kondisi ekonomi di berbagai belahan dunia.

Selain itu, konflik juga menyebabkan dampak kemanusiaan yang signifikan. Korban jiwa, luka-luka, dan kehilangan pekerjaan telah menjadi bagian dari perang yang terjadi. Menurut Abdulla, semua pihak terkena dampak, sehingga upaya kolektif untuk menjaga stabilitas menjadi keharusan.

Iran Menolak Usulan Gencatan Senjata

Di sisi lain, Iran menolak usulan gencatan senjata yang diajukan oleh mediator Pakistan. Dilaporkan dari kantor berita resmi IRNA, Iran menolak gencatan senjata dan menolak untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran menyatakan bahwa mereka hanya ingin pengakhiran perang secara permanen.

Menurut Channel News Asia, Iran telah mengajukan 10 klausul untuk mengakhiri konflik, termasuk pengakhiran konflik di kawasan, protokol untuk jalur aman melalui Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan rekonstruksi.

Ancaman Trump yang Mengkhawatirkan

Di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghujani Iran dengan neraka jika tidak mencapai kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz. Dalam konferensi persnya, Trump menyatakan bahwa Iran dapat dilenyapkan dalam satu malam.

Ia juga bersumpah akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran, meskipun hal ini bisa dianggap sebagai kejahatan perang atau mengasingkan 93 juta penduduk Iran. Setiap jembatan di Iran akan hancur lebur dan setiap pembangkit listrik di Iran akan gulung tikar, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi, ujarnya.

Tanggapan Militer Iran

Menanggapi ancaman Trump, Komando militer gabungan tertinggi Iran menyebut Trump mengalami delusi dan menilai peringatan Trump sebagai retorika kasar, arogan, dan ancaman tanpa dasar. Wakil Menteri Olahraga Iran, Alireza Rahimi, juga menyerukan kepada para seniman dan atlet untuk membentuk rantai manusia di pembangkit listrik di seluruh negeri.

Kita akan bergandengan tangan untuk mengatakan: Menyerang infrastruktur publik adalah kejahatan perang, tulis Rahimi di akun media sosial X.