
Presiden Prabowo Usulkan Pembentukan Satgas Pascabencana
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat paripurna Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12), mengusulkan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) atau badan khusus untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Usulan ini muncul setelah beberapa wilayah di Pulau Sumatera dilanda bencana alam.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menyampaikan dukungan terhadap langkah tersebut. Ia menilai bahwa penanganan bencana memerlukan respons cepat dan koordinasi yang baik, karena bencana tidak menunggu kesiapan birokrasi.
“Saya ingin mulai dengan satu hal yang sederhana, bencana itu tidak menunggu rapat selesai. Air datang tanpa undangan, tanah bergerak tanpa permisi. Yang diuji bukan hanya ketahanan alam, tapi ketahanan kelembagaan kita,” kata Azis kepada wartawan, Rabu (17/12).
Azis menilai arahan Presiden Jokowi dalam rapat paripurna kabinet menjadi sinyal kuat bahwa negara harus segera memasuki fase pemulihan yang terukur dan sistematis. Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi patut didukung dengan kepala dingin, dada yang lebar, dan kerja cepat.
“Negara hadir, situasi dipantau, dan kita masuk ke fase rehabilitasi serta rekonstruksi, melalui satgas atau badan khusus. Ini bukan sekadar kalimat, ini arah kerja kongkret,” ujarnya.
Perbandingan dengan Kerja Mesin
Ia mengibaratkan penanganan pascabencana seperti kerja mesin yang membutuhkan perpindahan fase secara tepat agar pemulihan berjalan optimal. Azis menyatakan bahwa tanggap darurat adalah bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Saya orang mesin. Maka saya bilang begini, tanggap darurat itu rehabilitasi dan rekonstruksi itu gigi persnelingnya. Kalau remnya sudah diinjak untuk siap-siap menekan kopling, tetapi giginya tidak segera dinaikkan/dimasukkan, kendaraan pemulihan akan ngeden, dengung gas tak terkonversi menjadi tenaga penggerak yang mestinya terjadi akselerasi,” jelasnya.
Menghindari Pola Lama Penanganan Bencana
Menurut Azis, pola lama penanganan bencana yang kerap lamban harus ditinggalkan, karena berpotensi membuat korban menunggu terlalu lama. Akibatnya, korban akan menunggu terlalu lama.
“Kita tidak boleh terjebak pada pola lama, riuh di awal, senyap pada substansi penyelesaian masalah,” tegasnya.
Pentingnya Satgas atau Badan Khusus
Azis menegaskan bahwa Satgas atau badan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak boleh menjadi lembaga tambahan yang justru memperpanjang birokrasi dan memperumit koordinasi. Ia menekankan bahwa badan tersebut harus menjadi satu komando, satu data, satu target, satu ritme dari pusat sampai daerah.
“Karena itu, satgas/badan rehabilitasi dan rekonstruksi harus dipahami sebagai mesin pemulihan, bukan tambahan stempel bukan sekedar tambah lembaga apalagi bikin kerja berbelit. Badan/Satgas rehabilitasi dan rekonstruksi itu harus menjadi satu komando, satu data, satu target, satu ritme dari pusat sampai daerah,” tegasnya.
Ujian Keseriusan Negara
Ia pun menilai pembentukan Satgas atau badan khusus tersebut akan menjadi ujian nyata keseriusan negara dalam memastikan pemulihan pascabencana berjalan efektif dan tepat sasaran. Azis percaya bahwa jika satgas/badan ini dibentuk dengan benar, maka pemulihan tidak akan jadi “proyek”, tetapi jadi kerja negara yang konkret, terukur, dan terasa sampai warga.
“Kita dukung Presiden untuk melakukan kerja paling dibutuhkan saat ini eksekusi yang rapi dan cepat,” pungkas Azis.