Dukung Transisi Energi, Pupuk Indonesia Andalkan Tiga Strategi Utama

admin.aiotrade 15 Nov 2025 3 menit 17x dilihat
Dukung Transisi Energi, Pupuk Indonesia Andalkan Tiga Strategi Utama

Komitmen Pupuk Indonesia dalam Transisi Energi dan Dekarbonisasi


PT Pupuk Indonesia (Persero) terus menunjukkan komitmennya untuk menjadi pelopor transisi energi dan dekarbonisasi industri pupuk nasional. Dalam berbagai kesempatan, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa BUMN ini optimis bahwa upaya membangun ketahanan pangan dapat selaras dengan pembangunan industri yang berkelanjutan.

Hal ini ditegaskan oleh Direktur Operasi Pupuk Indonesia, Dwi Satriyo Annurogo, saat berbicara dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belém, Brasil, pada Rabu (12/11/2025). Ia menyatakan, “Tidak ada ketahanan iklim tanpa ketahanan pangan, dan tidak ada ketahanan pangan tanpa industri yang bertanggung jawab.”

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Strategi jangka panjang dekarbonisasi perusahaan berfokus pada beberapa aspek utama. Pertama, transisi menuju amonia bersih (clean ammonia), kedua, penerapan ekonomi sirkular, dan ketiga, solusi berbasis alam (nature-based solutions).

Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi amonia sekitar 7 juta ton per tahun. Amonia bukan hanya sebagai bahan baku pupuk, tetapi juga memiliki peran ganda: baik sebagai pembawa nitrogen untuk tanaman maupun sebagai hydrogen carrier bagi energi masa depan.

Perusahaan telah menyusun peta jalan dekarbonisasi hingga 2050. Berdasarkan paparan yang disampaikan, kapasitas grey ammonia (amonia konvensional) diproyeksikan turun dari 92,96 persen pada 2030 menjadi 13,93 persen pada 2050. Porsi tersebut akan digantikan oleh blue ammonia (pengembangan hingga 2045) dan green ammonia (pengembangan pasca-2045).

Langkah awal dekarbonisasi difokuskan pada peningkatan efisiensi dan peralihan bahan bakar dari batubara ke gas alam pada pabrik yang sudah ada. Selanjutnya, perusahaan akan bertransformasi ke produksi blue ammonia dengan mengintegrasikan teknologi carbon capture and storage (CCS) untuk menangkap emisi CO2. Sedangkan, amonia hijau diproduksi dengan menggunakan hidrogen dari elektrolisis air yang memanfaatkan energi terbarukan, seperti panel surya.

“Dalam jangka panjang, untuk mengalihkan dan tetap memperluas kapasitas kami, kami akan berfokus ke amonia hijau produk hijau di masa depan,” tambah Dwi.

Untuk itu, Pupuk Indonesia telah meluncurkan dua proyek perintis hybrid green ammonia. Proyek Green Ammonia Initiative Aceh (GAIA), misalnya, berkapasitas 142 ton metrik per hari (MTPD) bersama Pupuk Sriwidjaja Palembang, TOYO, dan Itochu. Lalu, Proyek Garuda Green H2 di Jawa Timur berkapasitas 250 MTPD bersama ACWA Power. Menurut Dwi, kedua proyek ini memanfaatkan energi surya dan renewable energy certificate untuk menekan emisi karbon.

Ekonomi Sirkular dan Solusi Berbasis Alam

Selain transformasi produksi, Pupuk Indonesia aktif menerapkan ekonomi sirkular. Perusahaan melakukan pemulihan energi, reduksi emisi CO2, dan simbiosis industri. Inisiatifnya termasuk memanfaatkan fly ash sebagai filler dan coating agent pupuk NPK, pemanfaatan CO2 menjadi soda ash, CO2 cair, dan dry ice, serta pemanfaatan gas buang.

“Kami melakukan beberapa inovasi teknologi. Kami memulihkan energi dan mengurangi emisi CO2 dan juga simbiosis industri,” jelas Dwi.

Dalam paparan, inisiatif ekonomi sirkular ini telah berkontribusi pada pengurangan emisi dengan estimasi sekitar 2,28 juta ton CO2e per tahun, serta menghasilkan penghematan biaya/pendapatan tambahan dengan estimasi senilai US$25,70 juta per tahun.

Pupuk Indonesia juga memiliki inisiatif solusi berbasis alam (nature-based solution/NBS) untuk mencapai nol emisi bersih (net-zero emission/NZE) pada 2050. Program ini tidak hanya berfokus pada serapan karbon, tetapi juga pada restorasi ekosistem, ketahanan air, dan kesejahteraan masyarakat desa.

Program berbasis alam ini mencakup rehabilitasi mangrove di Kalimantan Timur, serta agroforestri di Blora, Jawa Tengah. Dalam implementasinya, Pupuk Indonesia berkolaborasi dengan PT Perkebunan Nusantara serta TNI AD melalui Agroforestry Carbon Alliance.

Saat ini program sudah terimplementasi sekitar 200 hektare, kemudian diperluas dengan target 1.000 hektare pada akhir 2025, dan mencapai 365.000 hektare pada 2050. Adapun potensi serapan karbonnya sekitar 1,7 juta ton CO₂ ekuivalen.

“Kami memiliki target dalam proyek penanaman tahun ini seluas 1.000 hektare untuk tahun 2025 untuk penanaman,” kata Dwi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan